AveSticker

Kilas Balik Pemberontakan PETA

Feb 14 2023218 Dilihat

Pada tanggal 14 Februari 1945 tepatnya 78 tahun dari masa sekarang, terjadi sebuah peristiwa di Blitar, Jawa Timur. Dikenal dengan peristiwa pemberontakan Pembela Tanah Air atau disingkat PETA. Pemberontakan ini terjadi pada masa akhir pendudukan Jepang, beberapa bulan sebelum kemerdekaan Indonesia. Lantas apa penyebab dari peristiwa pemberontakan PETA di Blitar?

Ketika Jepang menjajah wilayah Indonesia sejak tahun 1942, seiring kekalahan pihak barat pada perang Asia Timur Raya. Kekalahan Belanda ini disebabkan karena keberhasilan Jepang menduduki sebagian daerah Hindia Belanda, termasuk Batavia. Perjanjian Kalijati pada tanggal 8 Maret 1942 di Subang, Jawa Barat, menjadi tanda bahwa Belanda Menyerah tanpa syarat, sehingga Belanda harus menyerahkan wilayah Indonesia kepada Jepang. 

Sejarah Dibentuknya Pembela Tanah Air (PETA)

PETA atau Pembela Tanah Air sebenarnya adalah kesatuan militer pembentukan Jepang di Indonesia selama masa pendudukan Jepang, tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) dibentuk pada 3 Oktober 1943. Selain PETA ada kesatuan lain diantaranya adalah Heiho, Seinendan, Keibodan dan Barisan Pelopor. Pembentuk PETA ini merupakan inisiatif dari tokoh Indonesia yang bernama R Gatot Mangkupraja, dimana ia merupakan seorang pimpinan Nasionalis. Tujuan pembentukan organisasi militer maupun semi militer ini adalah untuk mendukung Jepang dalam upaya mempertahankan diri dari serangan para sekutu, termasuk Belanda yang ingin merebut wilayah Indonesia kembali.

Pada pembentukan PETA, pemuda dan pelajar bangsa Indonesia dijadikan tentara sukarelawan. PETA juga bukan milik organisasi mana pun, tapi perintahnya berada dibawah Panglima Tentara Jepang. PETA dijadikan tentara teriotal untuk mempertahankan Jawa, Bali dan Sumatera oleh Jepang. Diperkirakan ada sekitar 66 batalyon yang terbentuk dan berada di Jawa, tiga batalyon di Bali dan sekitar 20.000 personel di Sumatera untuk mengamankan daerah, markasnya sendiri berada di Bogor, Jawa Barat

Peristiwa Pemberontakan PETA di Blitar dan Tokohnya

Seketika Jepang menguasai Indonesia banyak sekali tindakan yang menyengsarakan rakyat Indonesia sehingga itu memicu rakyat melakukan perlawanan. Bahkan Pembela Tanah Air (PETA) yang berada dibawah kendali militer Jepang ikut memberontak. Latar belakang pemberontakan PETA di Blitar sendiri adalah karena adanya perlakuan diskriminatif dari prajurit Jepang terhadap Perwira anggota PETA dan kemarahan anggota PETA terhadap militer Jepang yang telah banyak membuat rakyat Indonesia menderita.Pemberontakan PETA di Blitar dipimpin oleh Shodancho Supriyadi, karena tak tahan melihat kejadian romusha (pekerja paksa) yang banyak tewas akibat kelaparan dan terkena berbagai macam penyakit tanpa diobati.  Supriyadi pun menggelar pertemuan rahasia digelar sejak September 1944 sebagai sebuah revolusi menuju kemerdekaan. 

Tanggal 14 Februari 1945 pun dipilih sebagai waktu yang tepat karena akan diadakan pertemuan seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar, sehingga diharapkan anggota-anggota yang lain ikut bergabung dan melakukan perlawanan terhadap Jepang. Tepat 14 Februari 1945 pukul 03.00 WIB, pasukan PETA memulai pergerakan dengan menembakkan mortir ke Hotel Sakura yang menjadi kediaman para perwira militer Jepang. Markas Kempetai juga ditembaki dengan senapan mesin. Namun sayangnya, pemberontakan PETA tidak berjalan sesuai rencana. Supriyadi pun gagal menggerakkan satuan lain untuk ikut melakukan pemberontakan dan rencana ini pun terbukti telah diketahui oleh pihak Jepang.

Dalam waktu singkat Jepang membalas dengan mengirimkan pasukan militer untuk memadamkan pemberontakan PETA. Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA ditangkap dan dijebloskan ke penjara kemudian diadili, 6 orang divonis hukuman mati, 6 orang dipenjara seumur hidup dan sisanya dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan.  Akan tetapi, nasib Supriyadi tidak diketahui dan menghilang secara misterius. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 6 Oktober 1945 Supriyadi diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Namun, Supriyadi tidak pernah muncul lagi untuk selama-lamanya. 

Perjuangan dari tokoh Indonesia sendiri dalam memperoleh kemerdekaan perlu dihormati atau ditiru, sebagaimana peran peran pemuda dalam hal ini adalah terus memperjuangkan mimpi untuk hidup yang lebih baik. Tantangan yang kini kita hadapi bukan lagi penjajahan maupun perang, oleh karena itu kita sebagai pemuda harus pantang menyerah dan terus mengejar cita-cita selama kita masih hidup. Sama halnya dengan tokoh-tokoh pendahulu yang telah berjuang demi kemerdekaan Negara Indonesia ini. [ryan]

Bahan Bacaan:

https://munasprok.go.id/Web/baca/112

https://tirto.id/sejarah-pemberontakan-peta-di-blitar-penyebab-akhir-supriyadi-gqWp

https://www.merdeka.com/jabar/sejarah-14-februari-1945-shodancho-supriyadi-memimpin-pemberontakan-peta-di-blitar-kln.html

https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/16/190000769/pemberontakan-peta-di-blitar?page=all

Share to

Topik Terkait

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top