AveSticker

Penjajahan dan Penyakit Mental

Oct 21 2010636 Dilihat

Para pemikir post-kolonial tentunya sangat familiar dengan Frantz Fanon. Fanon lahir di Aljazair pada saat kolonialisme Perancis masih menggurita negerinya. Dalam perjalanan intelektualnya, dia banyak berjasa mengembangkan psikologi marxsis. Karya-karyanya lebih banyak dibaca oleh para kaum revolosioner daripada psikolog dan psikiater. Pribadinya yang terlibat langsung dalam perang mengakibatkan dirinya hanya dilihat sebagai sosok yang berada dalam sejarah revolusi. Namanya sebagai orang yang memiliki kontribusi untuk pembebasan psikologi masyarakat Aljazair tidak begitu kentara.

Tulisan-tulisannya didasarkan atas pengalaman lapangannya selama menjadi psikiater pada saat perang Aljazair. Dari berbagai ulasan yang diberikan, sebenarnya Fanon hendak mengatakan kepada kita bahwa penyakit mental itu disebabkan oleh system sosial yang timpang. Untuk menyelesaikan maslah ini, masyarakat hendaknya mengganti system yang timpang itu dengan system yang baru dengan jalan revolusi.

Satu dari sekian banyak yang ditemukan oleh fanon pada masyarakat Aljazair adalah adanya proses penghancuran diri sendiri. Dalam bukunya “In The Wretched of The Earth (1968), dia mencatat

“bahwa yang senantiasa tetap ada pada suku pribumi adalah emosi yang tidak terkendali. Suku pribumi terjebak pada rantai kolonialisme. Namun jika dikaji lebih mendalam, para penjajah itu hanya menciptakan halusinasi kepada masyarakat berupa ketakutan. Sementara suku pribumi diadu domba dengan suku pribumi yang lainnya. Para koloni menjaga agar permusuhan internal suku itu tetap langgeng.”

Langgengnya perang suku ini tentunya akan melanggengkan penjajah untuk mengeksploitasi hasil bumi. Menurut Fanon, kelemahan dari Negara koloni adalah kepatuhan yang tinggi terhadap pimpinan. Sehingga orang yang merasa berada di bawahnya akan senantiasa melakukan apa saja termasuk harus bermusuhan dengan kakak, adik, ataupun ayahnya sendiri. Inilah kejamnya system Kolonial.

Langgengnya kolonial di Aljazair menurut Fanon juga disebabkan oleh mitologi yang berkembang di masyarkat terjajah. Sihir, hantu dan benda-benda gaib masih menjadi kepercayaan yang kuat. Masyarakat lebih takut kepada mitologi ini jika dibandingkan dengan para penajajah yang telah menjangkiti orang pribumi selama bertahun-tahun. Dengan demikian pikiran masyarakat terhadap kekuasaan dan kesewenang-wenangan penjajah lama-kelamaan luntur diterpa mitologi masyarakat.

Ditambah lagi dengan jebakan-jebakan psikologis lainnya yang sengaja terus ditanamkan oleh penjajah. Jebakan psikologis itu berupa kompleksitas. Kompleksitas rasa frustasi, kompleksitas Negara yang berperang, kompleksitas Negara terjajah, kompleksitas malas dan lain sebagainya. Inilah yang dinamakan Fanon sebagai penyakit mental. Belum lagi perempuan-perempuan yang diperkosa oleh para tentara Perancis. Mereka melakukannya dengan sesuka hati. Bahkan perbuatan itu dilakukan di depan anak-anaknya.

Dalam bukunya Black Skind and White Mask, Fanon meneliti tentang keinginan orang pribumi Mauritania untuk menjadi warga Negara Perancis begitu juga Fanon. Hasil usahanya ini rupanya membawa hasil yang signifikan. Fanon berhasil menjadi psikiatri berkulit hitam di Aljazair, sehingga dia kehilangan identitasnya sebagai kaum terjajah. Namun pada kondisi menjadi psikiater inilah Fanon semakin mengerti tentang dampak dari kolonialisme. Pengertian tentang penjajah yang menindas bangsanya mulai berubah, kemudian sebuah energy mengalir untuk melakukan revolusi.

Fanon makin mengerti tentang keseluruhan revolusi di Aljazair. Dari pemahaman bacaannya terhadap Marx pemahamannya tentang kelseluruhan dominasi kolonial semakin tergambar dengan jelas. Dia mulai menjelaskan bagaimana orang-orang eropa memberikan dominasi secara psikologis terhadap orang-orang Afrika yang notabenenya terjajah. Perancis sendiri sebagai Negara Kolonial tidak pernah bermain-main untuk menerapkan dominasi psikologis terhadap orang-orang Aljazair.

Menurutnya keseluruhan rasisme yang terjadi di Perancis yang menyangkut masalah ekonomi, politik dan sosial bertransformasi kepada sebuah kodifikasi psikologi yang menjelaskan rentetan fakta awal dari imperialisme. Imperealisme inilah yang kemudian senantiasa menjadikan kaum pribumi senantiasa tertunduk dan menjadi makmum seperti yang dikehendaki oleh imperealisme.

Refrensi : Brown, Phil. Toward a Marxist Psichology. Ter. Sadzali dkk. 2005.  Psikologi Marxis, Yogyakarta: Alinea.

Sumber foto: http://unyiknet.blogspot.com/2010/08/foto-foto-budak-seks-pada-penjajahan.html

Share to

Lahir di bumi Bung Karno Blitar. Kini terperangkap dalam hiruk pikuk Kota Malang. Belajar menulis dan komentar tentang apapun.

Topik Terkait

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Santiago dan Analogi Filsafat Sederhana

by Apr 06 2026

Selama beberapa dekade, The Alchemist karya Paulo Coelho telah menempati ruang unik dalam kesadaran ...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top