L. Riansyah • Jun 02 2026 • 50 Dilihat

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya menyenandungkannya. Istri saya ikut bersenandung. Kadang tanpa sadar, potongan liriknya muncul begitu saja di sela perjalanan kami sekeluarga sehari hari. Lagu itu adalah My Little Bolu Ketan atau yang lebih dikenal publik sebagai lagu MBG “Mas Bahlil Ganteng”.
Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan. Saya sempat melihat cuplikan lagu tersebut berseliweran di media sosial, tetapi menganggapnya sebagai salah satu tren internet yang biasanya datang dan pergi. Namun saya mulai tertarik ketika menyadari betapa cepat lagu itu melekat dalam ingatan anak istri saya yang sebenarnya jauh dari literasi politik maupun berita berita isu-isu kebijakan energi nasional.
Di tengah perjalanan, sembari menyenandungkan Mas Bahlil Ganteng (yang jujur, sebenarnya bikin risih sih :D), anak saya tiba-tiba bertanya, “Bahlil itu Siapa, Yah?”. Tidak lama kemudian istri saya, seorang dosen bahasa Inggris di salah satu PTN di Malang, juga melontarkan pertanyaan senada. “Mengapa Bahlil jadi populer? Hal apa yang baru saja dia lakukan?”
Saya menjawab singkat. Bahwa fenomena ini tampaknya bukan terutama tentang prestasi, kebijakan, atau perdebatan politik. Setidaknya bukan dalam pengertian yang lazim. Yang sedang mereka dengar lebih merupakan bentuk satire yang dibungkus dalam kemasan budaya populer (pop culture) dan disebarkan melalui logika media sosial yang sangat efektif.
Namun setelah percakapan itu berakhir, saya justru mulai memikirkan pertanyaan lain yang lebih menarik. Bagaimana mungkin seorang pejabat publik yang sebelumnya hanya dikenal oleh kalangan tertentu tiba-tiba menjadi begitu akrab di telinga anak-anak, ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan politik sehari-hari? Apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika seorang menteri tidak dikenal melalui kebijakan yang dibuatnya, melainkan melalui lagu viral yang dinyanyikan jutaan orang?
Pertanyaan tersebut penting karena fenomena lagu Bahlil sesungguhnya bukan sekadar kisah tentang kreativitas netizen atau hiburan digital. Ia menunjukkan perubahan yang lebih mendasar dalam hubungan antara politik, media sosial, dan perhatian publik.
Dalam kajian komunikasi politik, Jesper Strömbäck menjelaskan bahwa politik modern mengalami proses yang disebut mediatization of politics. Politik tidak lagi sepenuhnya berjalan mengikuti logika politik, melainkan semakin menyesuaikan diri dengan logika media. Tokoh politik bukan hanya harus mampu menjalankan fungsi politiknya, tetapi juga harus mampu hadir dan bertahan dalam ekosistem komunikasi yang dibentuk media.
Jika pada era televisi, logika media ditentukan oleh redaksi dan stasiun penyiaran. maka pada era media sosial logika tersebut semakin ditentukan oleh algoritma. Yang menjadi mata uang utama bukan lagi semata-mata dukungan, melainkan attention atau “perhatian”.
Di sinilah fenomena lagu Bahlil menjadi menarik. Secara tradisional, satire dipahami sebagai instrumen kritik terhadap kekuasaan. Humor digunakan untuk mengikis aura kesakralan elite, mengoreksi perilaku penguasa, sekaligus menyediakan ruang kritik yang lebih cair bagi masyarakat. Namun dalam ruang digital, fungsi tersebut tidak selalu berjalan secara linear.
Algoritma tidak terlalu peduli apakah suatu konten berisi pujian, kritik, dukungan, atau ejekan. Selama konten tersebut mampu menarik perhatian, menghasilkan interaksi, dan membuat orang terus membicarakannya, maka algoritma akan terus mendistribusikannya kepada audiens yang lebih luas. Akibatnya, kritik dan promosi kadang menghasilkan konsekuensi yang sama: meningkatnya visibilitas.
Nama Bahlil mungkin tidak sedang dibicarakan karena kebijakan hilirisasi, tata kelola pertambangan, atau agenda transisi energi. Namun jutaan orang yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan terhadap isu-isu tersebut kini mengenal namanya melalui sebuah lagu viral. Bahkan anak-anak yang belum memiliki hak pilih pun mulai bertanya, “Siapa Bahlil?”
Di titik inilah muncul paradoks politik digital. Satire yang semula dimaksudkan sebagai kritik dapat berubah menjadi mekanisme produksi popularitas. Yang menarik, indikasi tersebut tidak hanya terlihat dari perilaku publik, tetapi juga dari respons elite politik yang menjadi objek satire itu sendiri.
Ketika lagu “Mas Bahlil Ganteng” viral di berbagai platform media sosial, respons yang muncul dari Partai Golkar maupun Bahlil Lahadalia sama sekali tidak menunjukkan sikap defensif. Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, justru menyebut lagu tersebut sebagai bentuk kreativitas netizen yang menghibur. Ia bahkan menolak membaca lagu itu sebagai bentuk sindiran atau sarkasme dan menyebutnya sebagai bentuk apresiasi atas kerja Bahlil.
Respons Bahlil sendiri bahkan lebih menarik. Alih-alih merasa terganggu, ia mengaku penasaran dan ingin bertemu langsung dengan pencipta lagu tersebut. Dalam sebuah percakapan bersama Raffi Ahmad, Bahlil menyampaikan keinginannya untuk mengundang pembuat lagu itu berbincang dan makan bersama sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas yang muncul.
Bagi sebagian orang, respons ini mungkin hanya menunjukkan sikap santai seorang politisi. Namun dari perspektif ilmu politik, ada hal yang lebih penting untuk dibaca.
Elite politik semakin memahami bahwa dalam ekonomi berbasis atensi (attention economy), viralitas adalah sumber daya yang terlalu berharga untuk ditolak. Yang terpenting bukan lagi apakah suatu percakapan bernada pujian atau sindiran, melainkan apakah nama seseorang terus hadir dalam percakapan publik.
Fenomena ini sesungguhnya tidak hanya terjadi pada Bahlil. Dalam banyak demokrasi modern, batas antara politisi, selebritas, dan figur budaya populer semakin kabur. Tokoh politik tidak lagi hadir hanya sebagai pembuat kebijakan, tetapi juga sebagai karakter dalam ekosistem hiburan digital. Mereka dapat menjadi meme, bahan candaan, potongan video pendek, atau lagu viral yang beredar tanpa henti.
Sebagian penelitian bahkan menunjukkan bahwa perhatian publik yang dihasilkan oleh humor politik sering kali lebih besar daripada perhatian yang dihasilkan oleh diskusi kebijakan itu sendiri. Di sinilah letak tantangan demokrasi digital. Publik mungkin semakin banyak berbicara tentang politik, tetapi belum tentu semakin banyak membicarakan substansi politik.
Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah lagu tersebut mendukung atau mengkritik Bahlil. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi ketika perhatian menjadi mata uang utama dalam politik?
Dalam situasi seperti itu, menjadi bahan candaan belum tentu merugikan seorang politisi. Bahkan dalam kondisi tertentu, candaan dapat menjadi kendaraan yang sangat efektif untuk memperluas pengenalan publik terhadap dirinya.
Pada akhirnya, fenomena lagu Bahlil mungkin akan berlalu sebagaimana tren-tren internet lainnya. Beberapa bulan dari sekarang publik mungkin sudah berpindah ke meme atau lagu viral yang lain. Namun jejak yang ditinggalkannya layak dicermati.
Ia memperlihatkan bagaimana politik Indonesia sedang bergerak memasuki ruang baru: ruang di mana perhatian menjadi modal politik yang semakin penting, algoritma menjadi distributor pengaruh yang efektif, dan satire tidak selalu berakhir sebagai kritik.
Di era digital, kritik dan popularitas tidak selalu berada pada dua kutub yang berlawanan. Kadang-kdang keduanya justru lahir dari sumber yang sama: perhatian publik.
Referensi
1. Strömbäck, Jesper. 2008. Four Phases of Mediatization: An Analysis of the Mediatization of Politics. International Journal of Press/Politics.
2. Goldhaber, Michael H. 1997. The Attention Economy and the Net. First Monday.
3. “Viral Lagu MBG Mas Bahlil Ganteng, Golkar Puji Kreativitas Netizen.” Liputan6, 28 Mei 2026.
4. “Bahlil Ingin Bertemu Pencipta Lagu Mas Bahlil Ganteng.” Liputan6, 30 Mei 2026.
Peneliti di Komunitas Averroes, Founder Avemedia Research, Mahasiswa Pasca Sarjana FISIP Univeristas Brawijaya Malang
Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...
Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...
Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...
Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...
Mei 2026 datang bersama kalender yang tampak terlalu baik hati. Tanggal merah berderet, cuti bersama...
Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Belum ada komentar.