Di sudut ruang hampa sesosok manusia sedang termenung
Menyeret tiap tinta pada selembar kertas usang
Denyut nadinya begitu tenang
Walaupun segelintir resah datang menyisakan peluh basah
Kata demi kata terus diramu
Menafsirkan sebagian hasrat yang hadir menelisik renjana
Membingkai makna yang dengannya terdekap sayatan pilu yang membiru
Raga itu hanyut didalam euforia dunianya
Bagian dari sisi semesta yang paling ia suka
Dimana ia bercerita tentang bayangan yang dikaguminya
Berbincang pelan berbisik tanpa usik
Secangkir kopi turut menemaninya diantara lentera yang terus menyala
Tak mengoyak siratan makna istimewa didalamnya
Sekalipun robusta itu telah berkali-kali ia seduh
Secercah analogi telah dirangkai begitu rapi membingkai bait-bait ratapan
Alenia-alenianya seakan menjelma bagai siluman
Menghujam sihir merasuk kedalam ego yang dibuat candu oleh ramuan
Merangkul mengikat erat saat kaki mulai beranjak pergi
Jarum jam terus berputar namun rasanya berlalu tak begitu lama
Kecintaannya akan sajak membuat manusia keras kepala ini gandrung
Sesaat begitu ragu lalu terduduk kembali pada kerasnya kursi kayu
Dilanjutnya membuka lembaran kertas berikutnya
Menuruti teka-teki yang menghampiri murungnya jiwa
Diterkannya sebuah isyarat sapaan begitu mesra
Yang menariknya melangkah menuju sisi dimana ia bergelut dengan kerasnya ego
Menikam beribu bahasa kalbu berselimutkan debu
Belum ada komentar.