AveSticker

Foxy Lady

Mar 21 2011518 Dilihat

BULAN September ini, 40 tahun lalu. Tubuh ringkih Jimi Hendrix akhirnya lungkrah juga. London, kota hujan, dingin, dan membosankan itu memeluk jasad sang maestro selama-lamanya. Dia mati pada usia amat belia; 27 tahun.

Dini hari itu 18 September 1970. Tidak pernah terbayangkan gitaris dan penulis lagu terbesar sepanjang umur bumi itu, akan mangkat. Pacarnya, Monika Dannemann pun tak pernah menduga. Malam itu si gadis Jerman hanya ingin mengantar Hendrix pulang ke flat mereka di Samarkand Hotel, 22 Lansdowne Crescent, kawasan Notting Hill, London.

Apalah lacur, tanpa diketahui, Hendix menenggak sembilan butir Vesparex. Dokter memang sengaja menulis resep obat terkutuk itu mengurangi rasa resah yang selalu menggelayuti malam-malam si Foxy Lady. Tubuh manusia, kata sang dokter, hanya mampu menerima setengah tablet saja tiap harinya. Namun sang bintang rupanya tidak tahu betapa kuat obat produksi Jerman tersebut.

Tidak hanya jagat musik rock yang guncang atas berita duka itu. Seluruh dunia juga kaget luar biasa. Kematian Hendrix yang begitu dini tidak bisa diterima. Dunia menuduh Monika secara langsung dan tak langsung bertanggungjawab akibat lalai mengawasi. Mungkin dunia hanya sedih karena kehilangan aset terbesar. Maka Monikalah yang akhirnya disudutkan.

Jagad tak akan pernah melihat Hendrix menghasilkan nada-nada surga seperti Little Wing lagi. Lagu kemarahan, pembakar adrenalin, Fire tidak akan terlahir kembali. Stone Free, Hey Joe, Purple Haze, The Wind Cries Mary, mustahil ada kelanjutannya. Raja Psychedelic Rock dari Seattle itu sudah berhenti menulis selama-lamanya.

Sayang sekali. Padahal karir Hendrix sedang berada di puncak tertinggi. Bocah tengil itu dianggap sebagai seorang revolusioner musik blues. Melanjutkan apa yang sudah dirintis B.B King, Muddy Waters, dan Elmor James. Dia juga melengkapi dewa-dewa yang sudah ada, Eric Clapton, Bob Dylan, Rolling Stone. Dan tentu saja Fabulous Four, The Beatles, yang saat itu berada pada ujung keretakan dan sudah saling membenci.

Sungguh sayang. Apalagi, setahun sebelumnya, Hendrix menjadi simbol kaum bunga, Flower Generation, dalam ajang Woodstock 1969. Hendrix menjadi imam besar festival musik tiga hari penuh perlawanan dan idealisme itu.

Saat Hendrix membawakan lagu kebangsaan Amerika, The Star Spangled Banner, hati ratusan ribu penonton di perladangan luas milik Max Yasgur bagaikan tersayat. Mata lautan manusia betul-betul melihat gitar Stratocaster milik Hendix terbakar amarah.

Lewat Hendrix, ratusan ribu anak kandung Amerika itu sungguh membenci sang ibu pertiwi. Amerika di tangan Lyndon ’’Fucking’’ Johnson, teriak mereka pada sang presiden, bagaikan neraka jahanan.

Orang tua gila macam apa yang membiarkan anaknya mati sia-sia di perang tak berguna di Vietnam sana. Orang tua model apa yang demi nafsu menginvasi, tega membiarkan rumah impian terperosok dalam karut-marut ekonomi. Ibu gila langgam apa yang cuek pada rasisme rombeng itu. Sayang, saat perang akan berhenti, saat negara sudah mulai stabil, Hendrix pergi selama-lamanya.

Entahlah, apa yang terjadi pada usia 27 tahun. Bintang-bintang lain yang tidak seharusnya mati pada usia itu, akhirnya ke alam baka pula. Sebelum Hendix, pada 1969, pendiri The Rolling Stone, Brian Jones tenggelam di kolam renang belakang rumahnya. Janis Jopin, biduan jenuis itu mangkat persis sebulan sesudah Hendrix.

Lalu, dedengkot The Doors, The Lizard King Jim Morrison juga tewas pada usia 27. Tepat sepuluh bulan setelah Hendrix. Pada 1994, Kurt Cobain pencetus Nirvana dan pendiri aliran grunge itu, menembak kepalanya pada umur yang sama dengan Hendix.

Walau mati muda, lelaki tirus itu akan hidup abadi. Hendrix tetap terkenang sebagai nabi bagi anak muda yang marah. Hendrix abadi sebagai juru bicara, penyambung lidah, dan megaphone yang meneriaki kuping penguasa yang tuli..

Sumber gambar :
1. http://www.realizedsound.net/dac/wp-content/uploads/2010/06/jimi.jpg&
2. http://backdoormag.com/wp-content/uploads/2010/01/070818..

Share to

Warga Averroes

Topik Terkait

Afrika Tidak Kehilangan Bakat, Afrika Ke...

by Jun 28 2026

Ketika membahas sepak bola Afrika, orang biasanya memulai dari tempat yang sama. Federasi yang beran...

Diantara Menjadi Dokter, Notaris, Atau G...

by Jun 18 2026

Di ruang rawat inap VVIP Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie (AWS), Samarinda. Nampak belasan orang me...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top