AveSticker

Kapal “Gethek” Sungai Brantas Tulungagungan

Sep 14 20101.209 Dilihat

Tidak selamanya keterbatasan infrastruktur berdampak negatif. Di  kabupaten Tulungagung, keterbatasan fasilitas jembatan di atas Sungai Brantas dimanfatkan masyarakat dengan jasa perahu “Gethek”. Tidak hanya manusia, sepeda pancal, motor hingga mobil siap diseberangkan dengan perahu kayu ala kapal penyebrangan Feri. Masyarakat menyebutnya dengan “tambangan”.

Ongkosnyapun tidak mahal. Di hari biasa, untuk sekali bayar cukup Rp.1000,- berlaku untuk pulang pergi. Sedangkan pada situasi hari raya ini, ongkonsnya naik 100% menjadi Rp.2000,-

Perahu “gethek tambangan” ini seolah menjadi “dewa” pemangkas rute penyebrangan yang jauh. Maklum, di Tulungagung hanya ada satu jembatan di atas sungai Berantas, yakni jembatan Ngantru. Padahal sungai ini melewati kabupaten Tulungagung lebih dari 40km. Jembatan lain pernah di bangun di masa Belanda, yakni di utara lapangan Kunir Ngunut. Namun kini jembatan itu sudah hancur dimakan usia.

Perahu “Gethek tambangan” ini terbuat dari perahu kayu yang dirakit merata di atasnya seperti papan. Tidak perlu mesin untuk menggerakkannya. Aliran Sungai Brantas yang deras menjadi energi yang cukup handal untuk menggerakkan perahu ini. Cukup membelok-belokkan kemudi perahu sesuai keinginan sekaligus berfungsi sebagai penyeimbang, perahupun bergerak menyebrang. Sedang untuk menahan perahu agar tidak terseret arus, perahu dikaitkan dengan tambang yang dipasang menyebrangi sungai sebagai penahan. Mungkin karena penahan perahu ini menggunakan tambang, maka jasa penyebrangan ini disebut oleh masyarakat dengan “penambangan”.

Menyebrang sungai Brantas dengan perahu Gethek ini tentu mempunyai sensasi berbeda dengan hanya melintasi sungai lewat jembatan. Rasanya kita ditarik oleh waktu masa lampau yang meninabobokkan kita pada perkasanya nenek moyang kita diwaktu lampau, utamanya di atas air. Tidak hanya itu, kita juga bisa menikmati indahnya pemandangan dan luasnya pandangan sepanjang waktu penyebrangan. Cukuplah waktu menyebrang itu untuk rehat sejenak untuk memulai perjalanan selanjutnya. Dan, rasanya kita memang berada di waktu yang sangat lampau!

Share to

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Blitar.

Topik Terkait

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

  • L. Riansyah says:

    Wah tahun 2004aku KKN di Tumpuk, Purwekerto, Srengat Blitar. Selalu naik gethek saat balik ke malang atau jalan2 ke tulungagung. Mantap potone iki
    Ri ente tulngagung ngendi? Suro mene aku insyaallah nang PETA haule Mbah Takim. Pengen rono pora?

  • ari says:

    hehehe, aq ABlitar mas. pi SMA neng pondok Ngunut. dadine yow hapal Tulungagung sak traadisi2ne, kiro2 ngono…
    insyalloh budal wez..

  • L. Riansyah says:

    Oyi, sebelum berangkat kita rancang liputane. Kalau bisa masing2 bisa minimal bikin 3-4 tulisan dengan angle yang berbeda. Tapi kita masih berstatus wartawan bodrex. xixixixi

  • wanti says:

    Aku juga asli Tl.Agung, tepatnya desa Plandaan. Dulu, kira-kira th 80-90 an sebelum ada jembatan yang menghubungkan antara Plandaan dan Mangunsari, juga ada penambangan kalu mau nyebrang ke mangunsari. Rasanya dengan tetangga sendiri seperti jauh/asing begitu…..Tapi sekarang, segalanya menjadi dekat. Penambangan di tempatku dudu pendek tidak sepanjang itu….. wah sayang aku gak punya dokumentasinya. Trims aku diingatkan kembali akan masa-masa itu.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top