AveSticker

Yang Tradisional Yang Terpental

Sep 05 2010625 Dilihat

Permainan tradisional yang biasanya kita mainkan saat kecil semisal petak umpet, gobak sodor, egrang dan lain sebagainya saat ini semakin tidak mempunyai tempat di hati anak-anak. Mereka cenderung lebih asik bermain dengan permainan-permainan produk industri. Maka sudah menjadi hal yang lumrah jika Play Station dan game-game sejenis saat ini lebih akrab di telinga anak-anak daripada permainan tradisional tadi. Padahal permainan tradisional jika kita telisik lebih jauh menawarkan hal yang lebih kepada anak-anak, salah satunya adalah kemampuan untuk sosialisasi dengan yang lain. Sedangkan game Play Station yang merupakan produk luar negeri cenderung mengisolasi anak dari dunia sosialnya.

Minimnya komunikasi yang ditawarkan oleh permainan-permainan produk luar tersebut secara tidak langsung akan membentuk karakter (character building) seseorang. Anak semakin lama semakin dijauhkan dengan lingkungannya. Maka tak heran sekarang semakin banyak saja anak-anak yang memiliki sikap individualistis. Tidak mengenal atau bahkan malah enggan untuk bersosialisasi (asosial). Umumnya gejala seperti ini dialami oleh kebanyakan anak-anak yang memiliki kondisi perekonomian menengah ke atas dan juga mereka yang tinggal di daerah perkotaan.

Sedangkan di daerah pedesaan kondisi tersebut jarang terlihat pada anak-anak. Mereka lebih asyik bermain dengan permainan-permainan tradisional yang memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Egrang misalnya, permainan yang cukup popular di desa ini tidak begitu sulit dalam membuatnya, hanya membutuhkan bambu dan paku saja. Di samping itu, permainan ini juga ramah lingkungan, karena tidak menyisakan limbah yang membahayakan. Permainan tradisional mempunyai banyak keunggulan, baik dilihat dari sisi kreativitas maupun dari sisi ekonomi yang cukup terjangkau bagi kebanyakan masyarakat desa.

Untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh permainan baru tersebut sudah saatnya berbagai pihak untuk ambil bagian dalam mensosialisasikan bahwa permainan tradisional juga tidak kalah menariknya. Selain memberikan ruang publik bagi anak-anak, yang tidak kalah pentingnya adalah permainan tersebut merupakan warisan kebudayaan bangsa ini.

Share to

Pengajar di salah satu universitas di Jakarta

Topik Terkait

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

by Feb 09 2026

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top