AveSticker

Tapak Tangan

Jan 20 2026292 Dilihat

Pada gugusan pulau-pulau di Nusantara, agak menjorok kedalam menuju Samudera Pasifik, di sebuah hutan pedalaman pulau Kalimantan. Di sana aku tinggal bersama keluargaku.

Kami tinggal di hutan yang tersisa tidak lebih dari hitungan puluhan hektar. Namun ingat! Itu bukanlah suatu luasan lahan yang tepat, untuk ratusan orang yang terbiasa mengandalkan alam sebagai sebuah meja makan besar, agar terus beranak pinak.

Mempertahankan diri merupakan kegemaran orang-orang dewasa dalam koloniku, agar nilai kekerabatan kami tetap kuat dalam jaringan perikatan darah. Dan jika terjadi pertentangan besar menjurus pergantian pimpinan koloni. Maka dapat dipastikan, pemimpin baru itu ialah seseorang yang berada dalam garis kekeluargaan dan tidak terlalu jauh dengan kami semua.

Saat musim penghujan datang. Aku yang terbiasa tidur diatas pepohonan besar, sebagai tempat tinggal paling nyaman dan aman di hutan. Akan segera mengungsi ke pegunungan, walau harus berbagi dengan kelelawar yang tidur menggantung di atas goa batu. Kami pun terlelap tidur diatas humus bercampur kotoran hewan malam itu. Walau memang seringkali terganggu, dengan keusilan kecoa, lipan, dan tikus yang bergiat sepanjang malam.

Ketika hutan-hutan belantara menjadi sebatang kara, Aku hanya bisa memandang dari kejauhan saat belasan eksavator menggerus tanah perbukitan hingga rata. Saat siang menjelang, hasilnya sudah dapat terlihat. Ibu bumi kian hari kian lelah dan menjada, hingga terpaksa hidup sebatangkara. Kami saja tak bisa bebas meloncat kesana-kemari. Khawatir dianggap pelaku kriminal yang meresahkan masyarakat di perkampungan-perkampungan pinggir sungai.

Hujan dan panas silih berganti menyambut hari. Perimbangan jadwal yang tersusun rapi antara matahari dan rembulan, hasil penciptaan alam semesta dalam periode jutaan ribu tahun lampau. Elaeis alias kelapa sawit tumbuh dengan kuat, sekuat mereka berebut air maupun unsur hara di dalam tanah. Mereka tumbuh seragam dengan tinggi mencapai 24 hingga 25 meter lebih.

Awal-awal petani ramai mengganti
tanaman pisang mereka dengan kelapa sawit. Aku pikir itu pohon salak, lalu aku amati lebih jauh sempat terpikir pula itu tunas pohon kelapa. Namun ternyata berbeda, Buahnya lebih kecil dengan warna-warna memikat, seperti merah, hitam dan ungu.

Siang itu, aku berjalan dengan kawan-kawan bermain ku. Asyik bermain membuat kami semua kelaparan. Muli salah seorang kawanku, kemudian mendekati salah-satu pohon sawit yang berbuah. Ia mengajak kami memakannya. “Buahnya keras, berminyak, tapi sudahlah lebih baik kita makan saja, daripada kelaparan,” ajak Muli. Itulah pertama kali aku makan buah sawit.
Buah sawit itu bergetah lagi berminyak. Hingga setelah memakannya aku dan kawan-kawan kehausan. Beruntung ada genangan air sisa hujan semalam. Langsung saja kami berlari ke arah genangan dan meminumnya. Di sampingku nampak Muli begitu puas meminum air genangan, hingga lepaslah rasa lengket dan berminyak di kerongkongannya.

***

Kilatan petir menjalar panjang dari langit ke bumi, diiringi paduan genderang perang guntur yang tiada putusnya. Mada pimpinan koloni dengan mata yang menyala-nyala, berteriak keras pada seluruh penghuni koloni agar segera berlari menuju goa-goa di pegunungan karst.

Malam itu begitu gelap, namun kami semua sudah aman dari derai air mata langit yang deras. Ketika semua orang tertidur lelap dalam goa, aku masih terjaga. Mataku memandang ke langit-langit goa. Saat petir kembali menjalar, nampak potongan-potongan gambar terpola rapi pada dinding goa.

Tapak-tapak tangan dengan lima jari menembus seperlima senti meter dinding goa, dengan warna-warni serupa warna buah sawit. Lalu ada pula gambar matahari, selain itu ada guratan berupa gambar mahluk bertanduk. Mereka nampak berlari dan terus berlari, membuat mataku tak dapat lepas dari potongan-potongan gambar di dinding goa. Gambar itu membawa khayalku melayang tinggi, dan tapak-tapak tangan itu meninabobokkan aku.

Anggota koloni perlahan-lahan meninggalkan goa, karena matahari sudah kembali gagah berdiri pada singasana kekuasaannya. Walau begitu aku memilih untuk tidak meninggalkan goa secepat itu. Gambar tapak tangan yang seakan bercerita tentang kehidupan manusia goa di jaman lampau. Membuat aku berani untuk membuat gambar serupa, dengan telapak tangan, kadang bercampur dengan bulu-bulu halus yang tumbuh lebat dipunggung tanganku.

Ku ciumi aroma dinding yang bercampur pola gambar yang ku buat. Ku tiup perlahan-lahan agar media tanah itu cepat menempel pada dinding goa.

Menjelang siang, koloni kami dikejutkan oleh suara letusan senapan milik Mandor kebun. Nampak tubuh Madi pimpinan koloni terkapar, dengan lubang menganga pada tengkorak belakang kepalanya. Anggota koloni berteriak-teriak histeris dan meloncat-loncat tak beraturan, namun banyak pula dari mereka yang berlari ke arah mandor untuk balas menyerang. Tetapi tangan-tangan kokoh lain yang muncul dari balik jalan, membuat mereka tak sempat menyerang sang mandor. Tubuh mereka penuh dengan luka berlubang dan bernasib serupa pemimpin koloni.

Hanya akal betina-betina besar yang menyelamatkan sisa anggota koloni, untuk kemudian berteriak mengajak kami semua berbalik arah menyelamatkan diri dari lokasi pembantaian.

Tangis bayi-bayi berpacu sepanjang hari. Sementara betina-betina tetap tak beranjak dari pepohonan. Hati mereka telah mati sejak letusan senjata berapi merenggut nyawa para pejantan.

Wajah Muli tidak seperti biasanya, raut ketakutan jelas tergambar dari kedua bola matanya. Kejadian seminggu lalu belum juga dapat lepas dari pikirannya. Sejauh ini kami berdua beruntung, tidak ikut menjadi korban kekejaman orang-orang dari pinggiran sungai. Kami yang berbeda dari mereka, dianggap sebagai hama, kami yang makin terpinggirkan dari hutan kami sendiri.

Pelan-pelan koloni mulai ditinggalkan oleh kelompok-kelompok kecil menuju ke utara. Sementara aku sendiri tetap bertahan di koloni. Di tengah bencana, aku memiliki banyak waktu memandangi tapak-tapak tangan di dalam goa. Ku lihat gambarku yang aku buat seminggu lalu, sudah mulai terkikis oleh tetesan air dari atas goa. Tanganku tak lagi mau mengikuti kemana hati berkehendak, bayangan kekerasan selalu saja menghantui pikiranku.

Setandan pisang jadi rebutan orang-orang yang bertahan diatas gunung. Seperti halnya mereka, aku pun kelaparan. Setidaknya buah pisang yang tersisa membuat kami tetap bertahan.

Walau setiap harinya kedepan, adalah hari-hari yang teramat sulit bagi kami untuk bertahan, ditengah-tengah perburan yang masif. Sedikit jumlah anggota yang tersisa, bukan berarti persoalan kami semakin mudah di selesaikan. Masing-masing dari kami tidak lagi bergerak padu.

Kehilangan kepercayaan, kehilangan tujuan, kehilangan keriangan yang selalu menjadi nafas hidup kami.
Pada suatu ketika, Muli dan Pongo nekat masuk ke pemukiman warga. Perhatian mereka tertuju pada sebuah pohon mangga, yang tumbuh di samping pondok kecil beratap rumbia. Air liur keduanya menetes deras memandangi mangga dengan warna kuning kemerah-merahan itu.

Muli naik ke pohon dan mulai memetik sebuah, dua buah, tiga buah mangga manis sembari menggigiti daging buahnya. Sangking nikmatnya aktifitas makan dan bermain di pohon mangga, Muli dan dan Pongo lupa jika hari sudah sore. Waktu dimana para petani mulai bergegas pulang menuju rumah.

Teriakkan anak-anak kampung bagaikan koor paduan suara, mengejutkan petani pemilik pondok. Bergegas petani tua itu masuk ke dalam pondok, dan mengeluarkan tali jeratnya.

Tali jerat yang di modifikasi sedemikian rupa dengan bambu panjang itu, sukses membuat Muli dan Pongo terjerat. Keesokkan hari sebuah mobil pick up melaju meninggalkan kampung dan membawa keduanya yang duduk dalam kerangkeng besi. Kabarnya mereka telah dibeli, oleh salah-satu pengusaha di kota untuk jadi koleksi pribadi.

Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan oleh siapapun, bahkan pemilik waktu itu sendiri. Kebun-kebun kelapa sawit telah menyebar merata dari kabupaten hingga ke pesisir maupun wilayah pedalaman. Kedalaman air sungai terus menyusut selain karena tanah tak lagi mampu menyimpan air begitu lama, juga karena cuaca yang makin sulit diduga.

Kodrat kehidupan menunjukkan kebenarannya dari waktu ke waktu. Sejarah selalu mengenalkan, siapa yang bertahan dan siapa yang tak mampu bertahan oleh perubahan jaman.

Pegunungan karst yang selama ini menjadi benteng pertahanan terakhir orang utan, kondisinya telah banyak berubah. Tersisa beberapa goa yang jadi lokasi wisata, mwisata menarik untuk jauh dari kota dan tempat yang pas bagi anak-anak manusia memadu kasih.

Bebatuan di pegunungan karst semakin hari semakin menipis, bahan utama penghasil semen. Sesuatu perubahan nyata akan kepentingan ekonomi manusia, saat harga tandan buah sawit segar menurun. Maka ini adalah hal yang menenangkan manusia untuk tetap melanjutkan hidup. Tetap memiliki pendapatan cepat dan mudah, cepat menghasilkan. Sebuah jawaban atas
kesulitan ekonomi yang melanda negeri, tinggal digali, dijual, hanya alam yang menangis tersedu-sedu.

Saat rombongan pencinta alam yang bergerak menuju pegunungan karst, untuk melakukan hiking. Ketakjuban melanda mereka. Tapak tangan manusia purba membentuk pola-pola tentang kehiduapan manusia purba, ada kijang, ada sapi hutan, ada matahari.

Saat pandangan mereka beralih pandangan ke di dinding goa lainnya, mereka terkejut dengan lukisan yang serupa manusia namun jelas itu bukan tapak manusia. Tapi ini adalah tangan orang utan. Membentuk pola seirama, serupa gambar tapak tangan manusia purba, gambarnya begitu bahagia. (Selesai)

NB: Karya telah terbit sebelumnya, di Surat Kabar Harian (SKH) Radar Banjarmasin pada 2017 lalu.

Share to

Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com

Topik Terkait

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (3)

by Jan 30 2026

Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hut...

Adipati KARNA dan Cerita Tentang Kesetia...

by Jan 29 2026

Konon, pertandingan ketangkasan antar murid-murid Durna akan diakhiri dengan pertunjukan kepandaian ...

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (2) ...

by Jan 28 2026

Mengangkat Derajat Alam, Manusia, Hingga Mempertahankan Warisan Budaya Dunia Kesadaran melestarikan ...

Sepak Bola, Anak, dan Kepercayaaan Diri via AICanva

Sepak Bola, Anak, dan Kepercayaaan Diri

by Jan 26 2026

Sepak bola dimasa anak-anak kadang menjadi keasikan sendiri bagi dunia mereka, namun tidak bagi seba...

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (1) ...

by Jan 25 2026

Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim Melihat Kutai Timur ...

KAMPUNG BATU

by Jan 23 2026

Kampung Batu adalah kampung di pedalaman Kalimantan. Sebagaimana kampung-kampung yang ada di nusanta...

  • Berlian says:

    Masyaallah 👍…
    Tulisan ini, sangat indah, penuh dg rasa. Seakan script film yg siapa di tayangkan.
    Barakallah

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top