Ronall J Warsa • Jan 30 2026 • 253 Dilihat

Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri
Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hutan, ilalang, hamparan sawit, bebatuan terjal, hingga lumpur. Bahkan dengan lancangnya, ia bak wanita cantik yang memainkan kemolekkannya di pinggiran laut Sulawesi. Benar-benar diperuntukkan setia, untuk menyapa dengan gulungan ombak lembutnya.
Begitulah pemandangan yang tersaji saat tim ekspedisi pegunungan karst di Karangan, melakukan perjalanan dari Sangatta Ibukota Kabupaten Kutai Timur. Hal itu terasa benar, saat melintasi jalan pesisir yang tak lazim dilewati oleh jalur transportasi umum.
Rombongan para pencinta alam yang tergabung dalam Forum Peduli Karst Kutai Timur (FPKKT), berjumlah total 25 orang. Menggunakan 4 buah mobil double gardan, berangkat pada Sabtu (26/3/17), pukul 07.30 Wita. Guna mengejar tujuan utama, yakni mengeksplorasi landscape pegunungan karst Karangan.
Diungkapkan oleh Ketua FPKKT Irwan, jika maksud perjalanan melintasi jalur yang tidak biasa dilewati oleh jalur umum adalah untuk menunjukkan pada para pencinta alam yang beberapa diantaranya belum pernah melintasi dan melihat keadaan bentang alam Kutim yang teramat sayang untuk dilewatkan.
Perjalanan menuju Karangan melalui Bengalon melintasi lokasi perkebunan sawit milik PT. KIN untuk kemudian melewati Sekerat, Selangkau – Kaliorang dan melintasi simpang empat Kaliorang untuk menempuh jalur normal di kecamatan Kaubun dan kemudian memasuki Karangan.
“Peserta Ekpedisi Pegunungan Karst Karangan yang digagas oleh FPKKT berasal dari beragama profesi, dengan maksud agar mereka tidak saja mengenal daerah ini sebatas pandangan mata. Tetapi kemudian mampu menyelami secara mendalam, bagaimana kepedulian pada alam dan rasa bangga akan negeri khususnya Kutim mampu terpupuk dalam dada,” jelasnya.
Lebih lanjut, disebutkannya potensi karst harus diketahui oleh semua pihak, agar kemudian keberadaannya tidak saja menjadi sebuah kebanggan semata, tetapi mampu dijaga dan dilestarikan dengan baik keberadaannya.
FPKKT tentu berposisi menjadi mitra bagi pemerintah, serta mendorong para pencinta karst di Kutim untuk turun tangan dalam menjaga keberadaan pegunungan karst. Terlebih sebaran karst mulai dari Bengalon hingga Sangkulirang amatlah krusial dan wajib dikelola dengan baik, karena sebaran perkebunan kelapa sawit yang berada dekat dengan bentang alam pegunungan karst dapat menjadi ancaman pada alam.
“Sebaran karst memang amat krusial bagi pembangunan ruang lain seperti perkebunan dan pertanian, karena jika barisan pegunungan rusak. Maka investasi yang sudah dikeluarkan dengan maksud mensejahterakan, justru akan merusak keberadaan pegunungan karst yang memang memiliki arti penting dalam ekosistem hidup manusia dan alam. Untuk itulah perlu ruang diskusi maupun kesepahaman dengan berbagai pihak terkait, mengenai arti penting keberadaan pegunungan karst agar dapat berdampingan dengan laju pembangunan itu sendiri,” terangnya lebih jauh.
Benny salah-satu peserta ekspedisi mengatakan jika banyak manfaat yang dirasakan baik secara pribadi maupun tim, saat melakukan kegiatan ini. Bahkan beberapa temuan berupa sisa-sisa gerabah hingga tapak tangan hasil karya budaya manusia purba, menjadikan ekpedisi pegunugan Karst amat berkesan untuknya.
“Kecintaan pada alam makin menjadi-jadi, tidak mudah untuk menemukan pengalaman berharga seperti ini. Terlebih ekpedisi yang dilakukan bukanlah berkunjung pada lokasi wisata mainstream namun diluar mainstream, amat menyenangkan sekaligus menyuguhkan pengalaman berharga. Saya berharap hasil-hasil temuan baik yang telah didapatkan oleh peneliti maupun rekan-rekan pencinta karst dapat dijadikan satu wadah, yakni berupa museum di Kutim,” harapnya.
Dalam sudut pandang Niel Makinuddin, yang merupakan Provincial Governance Senior Manager The Nature Conservacy (TNC). Mengenai pola mempertahankan keberlansungan ekosistem pegunungan karst memerlukan perhatian besar semua pihak. Ia mengatakan keinginan memajukan perekonomian desa harus seiring dengan mempertahankan kelestarian alam.
Diperlukan keinginan kuat Pemerintah Kabupaten dalam mendorong adanya kebijakan atau aturan-aturan yang mengarah pada ekonomi hijau. Terlebih isu lingkungan dan pembangunan pada masa sekarang teramat penting bagi investasi, karena dalam Global Competitiveness Index yang dikeluarkan PBB menyatakan agar setiap daerah untuk memprasyaratkan keberadaan lingkungan hidup sebagai tujuan utama yang terus digandeng dalam pembangunan itu sendiri.
“Sehingga pembangunan bukanlah suatu yang kontradiktif dengan keberadaan kelestarian alam, tetapi ada rem yang mampu menjaga keselarasan kedua hal tersebut. Isu menjaga lingkungan atau alam sebenarnya berkaitan erat dengan menjaga kepentingan manusia itu sendiri, pembangunan ekonomi dapat bersinergi dengan pembangunan hutan terkait erat dengan ekonomi hijau. Yang mana ternyata jika kita ingin sukses melestarikan lingkungan, maka kita harus memperhatikan masyarakatnya pula. Inilah prasyarat utama dalam pembangunan kedepan,” terangnya. (HABIS)
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...
Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...
Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...
Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...
Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...
Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...

Belum ada komentar.