AveSticker

Sejarah Kota Batu dari Masa ke Masa

Aug 31 20111.469 Dilihat

Kota Batu mempunyai sejarah yang sangat panjang sebelum kondang seperti yang sekarang. Jauh sebelum dikenal sebagai Kota Wisata, daerah pemekaran dari Kabupaten Malang pada 2001 lalu itu melampaui proses dinamika peradaban yang cukup panjang.

Hal itu terjadi karena topografi dan keadaan tanah Kota Batu yang subur dan strategis sejak jaman prasejarah. Kota Batu merupakan bagian dari Dataran Tinggi Malang yang terbentuk dari endapan lava yang menjadi danau. Daerah Batu hingga Malang merupakan suatu cekungan dalam yang terbentuk oleh apitan gunung dan pegunungan (hal 22).

Terkait dengan dinamika sejarah Kota Batu, Dwi Cahyono dkk membagi kesejarahan Batu menjadi lima masa. Yakni, masa prasejarah, masa Hindu-Budha, Penyebaran Islam, Masa Koloial dan Masa Kemerdekaan. Masing-masing masa mempunyai landasan kuat sebagai penanda peradaban.

Dwi menandai peradaban masa prasejarah Kota Batu dengan tarikh relatif (relative dating) yang didasarkan temuan artefak. Masa prasejarah Kota Batu ditandai dengan temuan artefak jaman Neolitik dan Megalitik. Artinya, masyarakat Batu saat itu sudah menunjukkan peradaban yang maju denga cirri bercocok tanam. Pada masa itu juga ditemukan artefak Batu Dakon yang berarti sudah mengenal Pranata Mangsa atau aturan tentang musim. Selain tradisi bercocok tanam, masyarakat Batu juga sudah mengenal dimensi spiritual dengan adanya penemuan Menhir sebagai artefak pemujaan arwah nenek moyang.

Lain halnya dengan masa prasejarah, masa Hindu-Budha lebih terang benderang. Itu karena sumber data berupa teks maupun artefak yang ditemukan lebih lengkap, baik dari masa Kerajaan Kanyuruhan hingga Majapahit. Aspek budaya Batu pada masa itu dibagi menjadi tiga pokok penting, yaitu seni-keagamaan, organisasi-kemasyarakatan serta pencaharian dan peralatan hidup.

Dalam perkembangannya, pengaruh Hindu-Budha di Kota Batu semakin pudar. Posisinya digantikan oleh Agama Islam yang dibawa Abu Ghonaim yang juga dikenal dengan Mbah Batu alias Mbah Wastu. Abu Ghonaim yang merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro memang berniat mengasingkan diri di tempat baru sembari menyebarkan Islam. Dia dibantu oleh seorang muridnya yang bernama Bambang Selo Utomo atau Gadung Melati dalam berdakwah. Pada masa ini, banyak dibuka lahan pertanian oleh masyarakat pendatang.

Semakin Kondang Sejak Abad ke-18

Modernisasi Batu sebagai daerah baru mulai tumbuh dan berkembang pada 1767. Hal itu berbarengan dengan masuknya VOC dalam membuka lahan perkebunan di Batu. Di sisi lain, Perang Surapati atau Geger Suropaten turut memicu migras penduduk untuk mencari tempat domisili baru yang lebih menjanjikan. Berbagai kompleks pemukiman banyak dibangun untuk tempat kediaman meneer-meneer Belanda. Hingga kini pun beberapa bangunan masih berdiri tegak sesuai aslinya.

Kenyamanan Batu sebagai wilayah hunian dan pertanian juga berlanjut pada masa kolonial Jepang. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya peninggalan bangunan gua bekas perlindungan tentara Jepang.

Dwi dalam buku tersebut juga menyebut masyarakat Batu mempunyai karakteristik yang resisten terhadap budaya asing. Masa penjajahan yang cenderung menekan masyarakat Batu justru tidak mengakibatkan tradisi dan budaya Batu mati. Masyarakat Batu justru mengalami perkembangan dalam strukturnya, antara lain, banyak berdiri organisasi pemuda, wanita hingga militer. Aktivitas organisasi itu semua bermuara pada perlawanan dengan mengangkat senjata atas penjajahan kolonial.

Modernisasi tersebut juga menempatkan masyarakat Batu dalam pergolakan nasional mengangkat senjata. Sehari pascaproklamasi, melalui siaran radio dan dikuatkan oleh kawat telegram, masyarakat Batu berbondong-bondong melakukan perlawanan dengan melucuti senjata tentara Jepang. Masyarakat Batu juga terlibat aktif melawan Agresi Militer Belanda. Semuanya diceritakan ulang oleh Dwi dkk secara gamblang.

Melalui buku tersebut, Dwi merumuskan kemajuan masyarakat Batu bisa dipupuk dari tiga prinsip. Antara lain, prinsip produktif, lestari dan sejahtera. Ketiga prinsip tersebut dilakukan untuk mewujudkan Batu agar memiliki solidaritas organik (Organic Solidarity), yaitu kemajuan yang berlandaskan kerja keras, mencintai alam dan kemakmuran bersama. Sayang, buku ini merupakan hasil kajian akademis sehingga pembaca kurang begitu mengalir dalam meresapi nilai historis.

Disarikan dari buku, “Sejarah Daerah Batu, Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa,” oleh Drs. M. Dwi Cahyono, M. Hum dan Tim, Penerbit Jejak Kata Kita (Cetakan : Pertama, Januari 2011, Tebal : xvi + 210 halaman)

 

Share to

Menulis dan mengajak yang lain untuk menulis adalah cara kami untuk terus belajar. Ada sedikit harapan barangkali apa yang kami sajikan dalam media ini juga bisa menjadi inspirasi bagi siapapun.

Topik Terkait

Menerapkan Kehangatan, Struktur, dan Kon...

by Jan 04 2026

Mendisiplinkan anak bukan hanya tentang memberikan hukuman, melainkan sebuah sistem pengajaran peril...

Jualan Takjil via google

Nasi dan Takjil Gratis Diserbu Mahasiswa

by Apr 14 2022

Sudah menjadi hobi para Mahasiswa jika berburu takjil dan nasi gratis di bulan Ramadhan. Banyak masj...

Analisa Permasalahan Bulu Tangkis Indone...

by May 24 2018

Pak Kret, Thailand, menjadi saksi penyelenggaraan turnamen bergengsi Piala Thomas dan Uber 2018. Tur...

Kebencian, Dalang Utama Semua Aksi Teror

by May 15 2018

Sejarah dunia modern telah akrab dengan peristiwa terorisme. Aksi-aksi peledakan, penyerbuan, penyer...

Agrofest Kalipucang: Festival Agrowisata...

by Mar 07 2018

Malang – Sektor inovasi wisata dan pertanian pada level desa semakin bergeliat pada era pasca ...

Poster Sarasehan Tani

Mari Bergabung di Sarasehan Tani

by Jul 04 2017

Sektor pertanian kini sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penopang hajat hidup sebagian bes...

  • Sulistyoningsih Parianom says:

    Buku ini diterbitkan oleh jejak kata bersama Kantor Perpustakaan Kearsipan dan Dokumentasi Kota Batu tahun 2011…. buku selanjutnya “Akar Budaya Pertanian Di Kota Batu” tahun 2012 segera terbit kelanjutan dari buku “sejarah Kota Batu Lintas Masa”

  • yoni puspita says:

    saya sudah mempunyai buku sejarah daerah batu πŸ™‚ buku ini sangat bermanfaat untuk menyelesaikan tugas kuliah saya πŸ™‚ terimakasih πŸ™‚

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top