AveSticker

Kesenian Tradisional (Senantiasa) Menjadi Makmum

Oct 15 2010833 Dilihat

Krisis ekonomi yang melanda bangsa ini pada 1997 rupanya juga berimbas pada krisis kebudayaan. Bagaimana tidak, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masyarakat kalang kabut, apalagi untuk kebutuhan tersier seperti hiburan dalam bentuk kesenian. Di Malang sendiri kondisi yang demikian ini mempengaruhi pementasan seni pertunjukan. Terlebih untuk kesenian ludruk yang memerlukan puluhan juta untuk bisa menaggapnya. Pun demikian juga dengan kesenian-kesenian tradisi lainnya seperti wayang topeng mulai tenggelam ditelan peradaban.

Vakumnya pementasan ludruk dan sepinya tanggapan wayang topeng adalah fenomena krisis kesenian yang tidak bisa membiayai dirinya sendiri. Asumsi yang pertama muncul bisa ditebak, faktor ekonomi dituding sebagai penyebab. Kedua, kesenian tradisional seperti wayang topeng telah ditinggalkan penggemarnya. Kaum muda lebih suka kesenian pop.

Kondisi yang demikian ini berangsur-angsur mulai bisa bangkit kembali setelah masa pemeritahan Abdurrahman Wahid. Gus Dur mencoba untuk membuka kran demokrasi, dengan memberikan kebebasan ruang ekspresi seluas-luasnya. Bahkan memeberikan ruang spesial untuk warga Tionghoa untuk mengekspresikan keseniannya berupa barongsai. Kontan saja nama barongsai melejit dan pementasannya langsung disambut oleh masyarakat Tionghoa di berbagai daerah.

Namun kondisi ini tidak berpengaruh signifikan terhadap bangkitnya kesenian tradisi dari krisisnya. Pamor topeng malangan dan pementasan ludruk semakin meredup. Frekuensi pementasannya semakin menurun drastis.

Sebanarnya factor ekonomi bukanlah satu-satunya penyebab karya seni bangsa ini menjadi tidak bertuan. Batik, reog, angklung, lagu-lagu daerah serta tar-tarian adalah aset budaya bansa ini. Seperti kita ketahui bersama aset budaya ini beberapa saat yang lalu telah diklaim oleh Negara tetangga sebagai kebudayaan produk Malasia, sementara kita dan para pemimpin kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalah ini. Kepedulian pemerintah terhadap kesenian tradisi nyaris tidak ada sama sekali.

Terlepas dari seluruh kejelekan orde baru, namun kepeduliannya terhadap seni tradisi masih terasa kental. Kepedulian pemimpin sangat mempengaruhi secara signifikan terhadap perkembangan kesenian tradisi di Indonesia.

Terbukannya kran informasi lewat media paska reformasi, membuat masyarakat semakin melek terhadap politik. Akhirnya manufer politik yang senantiasa menjadi jargon para pemimpin kita menjadi rahasia umum. Sehingga kepedulian terhadap kesenian tradisi hanyalah topeng belaka. Para pemimpin berhitung ketika mereka mengangkat kesenian tradisi atau yang lainnya. Seberapa signifikan meningkatkan popularitasnya ketika mengembangkan kesenian tradisi dan pop? Ini pertanyaan yang senantiasa menjadi pertimbangan para pemimpin kita.

Bangsa ini kadang memang latah terhadap barang baru seperti halnya demokrasi dan lain sebagainya. Kita tidak pernah maumengaca kepada bangsa-bangsa yang bisa maju dengan mengembangkan potensi lokalnya. Jepang, China, dan India adalah bangsa yang mencapai kemajuan di bidang teknologi, ekonomi, atau demokrasi, tetapi tetap berpegang teguh pada tradisi. Bangsa Indonesia secara perekonomian cenderung merosot, teknologi masih mengekor, demokrasi masih kanak-kanak.

Ironisnya lagi, beberapa orang Barat banyak sekali yang belajar karawitan, menari dan kesenian-kesenian daerah lainnya. Generasi muda kita sudah tidak mau lagi belajar kesenian ini. “Tidak modis dan ketinggalan jaman”, itulah kata para pemuda kita.

Sungguh memprihatinkan nasib kebudayaan bangsa ini. Bangsa ini menjadi rapuh, tak memiliki jati diri, gampang goyah. Hal ini dikarenakan bangsa ini tidak menghargai kebudayaan dan kesenian yang menjadi identitas bangsa. Wajar saja jika bangsa ini sering menjadi olok-olokan bangsa lain. Dalam mengembangkan kebudayaan tradisional memang harus ada keteladanan dan ketegasan dari pemimpin bangsa ini.

Gambar; http://www.antarafoto.com/seni-budaya/v1269782105/wayang-topeng

Share to

Lahir di bumi Bung Karno Blitar. Kini terperangkap dalam hiruk pikuk Kota Malang. Belajar menulis dan komentar tentang apapun.

Topik Terkait

Matahari yang Enggan Terbenam: Jokowi, B...

by Jun 24 2026

Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...

Diantara Menjadi Dokter, Notaris, Atau G...

by Jun 18 2026

Di ruang rawat inap VVIP Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie (AWS), Samarinda. Nampak belasan orang me...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Grup WhatsApp dan Demokrasi yang Terlalu...

by Jun 13 2026

Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...

Menuju Piala Dunia: Nasionalisme yang Da...

by Jun 06 2026

Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...

Lemahnya Kontrol Sosial dan Ancaman Degr...

by Jun 05 2026

Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top