Ronall J Warsa • Jan 12 2026 • 450 Dilihat

Hamparan gabah kering memenuhi terpal biru, di depan pabrik penggilingan beras berkapasitas puluhan ton di selatan kabupaten. Terik matahari yang berbalut debu sisa ampas padi. Terbang naik perlahan, bersama aroma beras yang memenuhi area pabrik seluas 2,5 hektar itu.
Terlihat belasan mobil pick up rapi mengantri, menunggu giliran angkut beras penggilingan. Dari puluhan orang yang memenuhi gudang beras. Terdapat dua orang pria keturunan, ikut berpeluh bersimbah keringat mengangkut beras.
“Ayo bergegas, hanya tersisa beberapa karung saja lagi. Setelah ini kita mampir ke warung es kelapa, sebelum balik ke pasar,” ucap Baba Liem, menyemangati anaknya.
“Tapi setelah isya nanti. Aku boleh keluar bersama Jurni pergi ke toko buku?” pinta Wang Jie.
“Tentu boleh kau pergi bersamanya ke toko buku. Tetapi pastikan setelah, dia selesai mengaji dulu. Toh malam ini, malam minggu.”
Selang beberapa menit kemudian. Lelaki yang telah lulus SMA itu, nampak asyik menikmati es kelapa muda. Dimana ayahnya, mengendari mobil pick up menuju pasar.
Disebuah toko klontong, telah menunggu wanita beretnis melayu. Jemarinya cekatan menekan tombol kalkulator, yang disela-selanya mencoretkan ujung pulpen pada secarik nota.
“Farida Serba Ada”, terukir pada plang yang terbuat dari kayu jati bercat merah. Kegiatannya terhenti sejenak, takkala mobil yang dikendarai Baba Liem berhenti tepat di depan toko.
“Alhamdulillah, akhirnya kalian tiba sebelum maghrib. Ibu kewalahan melayani pelanggan, terlebih permintaan beras meningkat drastis minggu ini,” ujarnya.
Setelah isya, nampak Baba Liem menikmati secangkir kopi ditemani sepiring pisang goreng. Duduk didepan meja kasir, sembari menonton berita di televisi. Ibu lantas menghampiri, seusai mencuci piring kotor usai makan malam.
“Apa telah dibicarakan dengan Wang Jie, mengenai kelanjutan studinya. Masa penerimaan mahasiswa baru, tiada terasa berlangsung beberapa pekan lagi,” jelas Ibu.
Mengecilkan volume televisi, Baba lantas mengalihkan pandangannya ke ibu. “Besok setelah sarapan pagi, baru aku jelaskan maksud kita kepada anak itu. Sahabatku di Surabaya, telah aku mintai bantuan untuk memproses segala administrasi awal masuk kuliah di Fakultas Kedokteran.”
“Anak itu pasti menyetuji upaya kita. Terlebih ini merupakan cita-citanya, dari kecil dulu,” harap Ibu.
***
Sisa hujan deras semalam, nampak terlihat dari meluapnya air sungai hingga ke tepian. Sewaktu-waktu perahu kayu yang ditumpangi Wang Jie. Bisa saja terhempas dan terbalik, jika tidak hati-hati dikendalikan.
Suara sekelompok orang utan dari balik rerimbunan pohon di pinggir sungai. Sedikit menghilangkan kengerian di atas sungai. Terlebih disusul kemunculan endemik asli lain di Kalimantan, yakni bekantan dengan hidung mancungnya. Apalagi kemudian melintas di udara, sepasang burung enggang yang terbang rendah ke arah tebing batu.
Sudah lima tahun, Wang Jie bertugas sebagai dokter sekaligus Kepala Puskesmas di daerah pedalaman. Setelah sebelumnya, ia memilih resign jadi dokter di salah-satu rumah sakit swasta di Ibu Kota.
Ia memilih mengabdikan diri, melayani masyarakat adat di pedalaman yang minim fasilitas kesehatan. Walau berada jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Kealamian dan keasrian lingkungan sekitar. Membuatnya begitu betah bertugas di tempat tersebut.
Mengisi waktu senggangnya, takkala tidak bertugas. Ia melakukan kegiatan yang dilakukan seperti kali ini. Yakni memancing di spot-spot pancing yang tersebar di sepanjang sungai.
Beberapa ekor ikan biawan, patin, baung hingga toman. Terlihat berada dalam perahu kayu tesebut. Diangkatnya jangkar kecil, lalu perahu diarahkan mengikuti arus yang melaju ke hilir.
Sesampainya pada sebuah rumah yang terbuat dari kayu ulin. Nampak seorang pria, berkulit putih kemerah-merahan membukakan pintu. “Memuaskan hasil pancingan hari ini?” tanya Ampong Sipet.
“Lumayan memuaskan, walau air sungai sedang pasang. Cukup untuk persedian lauk, dalam dua hingga tiga hari kedepan,” balas Wang Jie sembari tersenyum. Tangan Ampong Sipet lantas meraih hasil tangkapan, lalu membersihkan sisik dan isi perut ikan.
Tungku kayu api terlihat menyala, dimana wajan berisi minyak kelapa nampak siap untuk mematangkan ikan hasil tangkapan.
“Tidak terasa tiga minggu lagi. Dokter harus pergi untuk bertugas di ibukota kabupaten. Sungguh waktu berjalan secepat ini. Jujur! Masyarakat kampung, menganggap dokter jadi bagian tak terpisahkan dari mereka. Berat rasanya melepas kepergian anda,” jelas Ampong menahan haru.
Wang Jie lantas merangkul sahabatnya itu. “Jangan bersedih, aku pasti menyempatkan diri untuk datang ke kampung ini lagi. Kepindahanku karena semata-mata tugas dan kewajiba. Aku tak kuasa menolak.”
***
Kariernya terus melesat dengan cepat, untuk ukuran pegawai negeri sipil. Dari sebuah ruangan di kantor sekretariat kabupaten. Terlihat diatas pintu plang nama “Klinik Kesehatan Kantor Bupati”.
Disitulah kini Wang Jie bertugas, sebagai Kepala Klinik. Walau sekelas Puskesmas pembantu, namun kredibilitasnya begitu terkenal di seantereo kabupaten. Karena berpusat melayani kesehatan para pejabat dan pegawai di kantor tersebut.
Luas ukuran klinik, sebesar 25 m2. Yang berada disela-sela ruang kerja Bupati dan Wakil Bupati. Tentu keberadaan dokter jadi begitu dekat, dengan kedua pimpinan itu. Apabila bupati melakukan kunjungan ke daerah-daerah pedalaman maupun pesisir. Wang Jie pasti terlihat ikut bersama rombongan.
Beberapa waktu kemudian, terlihat ramai puluhan pejabat dilingkungan sekretariat kabupaten sibuk bergunjing. Mengenai ramainya isu pelantikan pejabat eselon setingkat Kepala Bagian, yang akan berlangsung mendadak pada sore itu.
“Entah kenapa, Bupati tiba-tiba meminta semua pegawai untuk kembali ke kantor usai Jum’atan. Tidak boleh tidak,” ujar salah-satu pegawai. “Kemungkinan ada pergantian kepala bagian, ditingkatan sekretariat,” balas lainnya. “Moga tidak berhubungan dengan persiapan langkah politik praktis setahun mendatang”.
Pelantikan pejabat eselon tersebut pun berlangsung. MC menyebutkan beberapa nama, dimana orang-orang tersebut naik ke podium. Terakhir disebutkanlah nama Wang Jie, yang menempati jabatan sebagai Kepala Bagian Umum dan Perlengkapan.
Maka semenjak saat itu, berbagai perihal pengadaan barang dan jasa. Menjadi salah-satu urusan wajib yang ditanganinya, selain perihal kepegawaian. Jabatan basah bagi sebagian besar orang di daerah, karena dekat dengan uang dan kekuasaan. Hal yang jauh dari cita-cita di masa kecilnya dulu.
Perangainya tidak berubah. Lelaki berwajah tirus itu, tetap menjadi orang yang berperangai baik dan rendah hati. Namun kini jika hendak bertemu dengan dirinya. Seseorang harus melewati prosedur berbeda, jauh dibanding sebelumnya.
Jika dulu untuk menemui dokter, dapat membuat janji melalui kontak pribadi atau lewat perawat jaga. Maka kini, jika hendak menemui dokter harus melewati ruangan depan yang dijaga dua orang polisi pamong praja. Cerita belum selesai, sampai disitu.
Orang tersebut harus menunjukkan surat keterangan dan meninggalkan tanda pengenal, sebelum masuk ke kantor. Melintasi barisan meja yang dipenuhi oleh perangkat komputer dan puluhan staf. Setelahnya bertemu dengan portir terlebih dahulu. Barulah kemudian dapat menemui dokter.
Pada suatu malam, rapat paripurna di gelar di DPRD. Walau berlangsung singkat, namun disepakati anggaran APBD Perubahan senilai Rp5,9 triliun. Dari anggaran tersebut, Rp1,39 triliun jatuh ke sekretariat kabupaten. Dimana delapan puluh lima persennya, dikelola Bagian Umum dan Perlengkapan.
Ditengah kesibukannya sebagai pejabat. Sebulan sekali, Wang Jie menyempatkan diri untuk keperluan pribadi. Ia rutin bolak-balik ke bandara, menggunakan penerbangan mengunakan pesawat jenis perintis.
Kewajiban untuk melalui perihal tersebut. Disebabkan biduk rumah tangga yang dijalaninya, terpisahkan oleh belantara hutan. Wang Jie menikahi rekan kuliahnya dulu. Dimana sang istri bertugas sebagai dokter spesialis, di rumah sakit pada salah-satu provinsi di Kalimantan. Kebahagiaan mereka semakin sempurna, karena dikaruniai seorang bayi perempuan lucu.
Belum juga kakinya melangkah meninggalkan bandara. Dering telpon seluler, menghentikannya sejenak. Terdengar suara keras dari balik telpon. “Aku tidak mau tahu. Laksanakan saja perintahku! Apapun caranya, nanti orang-orangku akan membantu menyelesaikan. Tandatangani saja surat persetujuan pencairan itu.”
“Tetapi itu menyalahi aturan pak. Tal bisa kita memutuskan memenangkan tender, teruntuk pihak yang tidak kompeten,” balas Wang Jie. “Aku pimpinan di kabupaten ini. Laksanakan saja perintahku, semua bisa diatur.”
***
Beberapa kali lemparan kail, memecah deras air sungai. Lelaki itu begitu fokus dengan kail-kail pancing, yang diletakkan diatas perahu. Suasana malam itu begitu tenang. Terlebih sorot lampu yang berasal dari rumah penduduk di seberang sungai, turut menerangi sungai bersama sinar bulan.
Kemampuan memancingnya tak luntur. Justru semakin lentur, ditengah sungai besar tersebut. Sembari menuguk kopi panas dari dalam tumbler, ia lantas menghisap sebatang rokok yang tersisa. Sebelum rokok benar-benar habis. Dikayuhnya perahu, menuju ke sebuah warung ditepi sungai.
Beberapa lembar uang puluhan diserahkan, pada penjual di warung itu. Ketika hendak mengantungi rokok dalam celana. Sebuah siaran berita, di televisi menghentikan langkahnya.
Dikabarkan bahwa pihak Kejaksaan, kembali menyita harta mantan bupati. Setelah tersandung kasus korupsi, berupa suap senilai Rp521 miliar. Kini disita pula 5 buah motor besar, 11 mobil mewah, tanah seluas 12 hektar, serta uang senilai Rp11 miliar.
“Beegh… Bisa buka kolam pemancingan sekaligus tempat wisata. Jika aku punya harta sebanyak itu. Tak perlu repot-repot menjaga warung kecil ini,” ucap pemilik warung.
“Uang yang dipakai mantan bupati, bukan uang miliknya. Tetapi merupakan uang rakyat, dari pajak yang dibayar lewat peluh keringat kerja keras mereka. Sungguh hina, manusia yang memakan duit haram tersebut. Tuhan pasti murka, dengan perbutan itu.”
Bergegas ia kembali ke pinggir sungai. Lalu menaiki perahu sembari mendayung, menjauh menuju hulu sungai. Menghisap dalam-dalam sebatang rokok, yang baru saja dibelinya tadi.
Diantara bunyi gemericik air sungai yang tersibak oleh dayung. Pikirannya melayang jauh, ke masa dimana Baba LIem masih hidup dulu. “Papa paham benar maksud dan tujuanmu untuk menjadi dokter. Sebaiknya bekerja di rumah sakit swasta saja. Sungguh aku mengkhawatirkan dirimu kelak, jika jadi pejabat. Bukan kau tidak bisa mengatasi persoalan. Aku tahu kapasitas dirimu. Namun sistem masih sangat rumit dan berat, tak pintar-pintar membawa diri. Riskan dan penuh resiko langkahmu! Bukan dikamu, tapi bisa di orang lain penyebabnya,” tukas Baba Liem.
Malam semakin larut, umpan sudah habis dan hasil pancinganpun sudah cukup memenuhi box pancing. Kali ini dayungnya, mengarah ke arah hilir sungai. Menuju sebuah rumah kayu berlantai dua, yang terlihat gagah dari jembatan besar yang terbentang diatas sungai Kapuas.
Siang hari nanti, waktunya Wang Jie bertugas. Melakukan pengobatan gratis, kerjasama anatara klinik miliknya dengan sebuah LSM yang membantu peningkatan kesehatan masyarakat miskin. Ia memilih jalan yang dicita-citakannya dulu. Sederhana namun bersahaja. (Selesai)
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...
Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...
Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...
Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...
Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...
Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...

Belum ada komentar.