Rendra Kurniawan • Jan 15 2016 • 1.265 Dilihat

Mengawali seri tulisan ini, ada beberapa penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan “Sikat, Jok !!!” Tulisan ini dibuat secara kaffah yang telah melewati ratusan penyucian dari dalih menurunkan harkat dan martabat seorang Presiden Republik Indonesia. Justru seri tulisan ini akan banyak berisi kekaguman pada manuver politik, kebiasaan, hingga sisi lain seorang Joko Widodo. Anggap saja ini adalah Kitab Pararaton versi terbaru.
Sudah menjadi kelaziman jika setiap pemimpin pasti memiliki sisi keunikan sendiri dalam menghadapi sesuatu, baik dalam kebijakan politis ataupun yang lainnya. Istilah “Sikat, Jok !!!” sendiri diambil karena beberapa kebiasaan, kebijakan politik, hingga sisi unik Sang Presiden yang selalu membuat heboh jagat dunia, baik dunia (bunda) maya atau nyata.
Memulai seri tulisan ini, hasil tawassul sepanjang malam yang saya lakukan dengan makmum Very Yudha beri’tikad untuk tidak membawa pembaca sekalian mengingat kembali peristiwa 2014. Melainkan awal 2016, tepatnya pada 2 Januari 2016 ketika Jokowi dengan jaket jeans biru dan sepatu kets membuat gempar masyarakat. Jangan suudhon dahulu, karena kehebohan yang dilakukan oleh Jokowi adalah upacara pelepasan 150 kodok di Istana Negara dan Kebun Raya Bogor.
Kisah antara kodok yang dilepas Jokowi di Istana Negara dan Kebun Raya Bogor seketika merebak karena tweet dari anak Jokowi, Kaesang Pangarep. Dalam akun pribadinya, sang anak mengucapkan terima kasih kepada ayahnya karena dari pelepasan kodok tersebut akan banyak kecebong nantinya. Inilah pertama kali kisah cinta sufistik antara Jokowi dengan kecebong mulai muncul di permukaan. Sorotan publik yang masif hingga membuat hal tersebut menjadi trending topic mengalahkan kisah cinta Ichcha dan Veer di Maha Sinetron Uttaran.
Sebenarnya, jika kita mau sedikit berkeringat dengan niatan ikhlas untuk flashback ke belakang, ternyata presiden ketujuh Republik Indonesia ini sudah lama menjalin “romansa” dengan kodok. Tepatnya ketika Jokowi memimpin Solo beberapa tahun silam. Oleh sumber yang shahih, didapati fakta bahwa Jokowi memang memiliki hobi memelihara kodok di rumahnya. Bahkan, kolam di belakang rumahnya sengaja digunakan untuk memelihara kodok bangkong dan kodok ijo. Hobi nyeleneh semacam ini memang sangat jarang ditemui, apalagi pelakunya adalah orang nomor satu di republik ini. Bagaimanapun, stereotip umum masih menganggap bahwa hewan amfibi ini masih satu ordo dengan embel-embel menjijikan.
Lebih nyentrik lagi, alasan utama kebiasaan unik Jokowi ini ternyata bukanlah untuk memelihara dan menjaga ekosistem alam. Namun, hanya perkara suara dan nada. Jokowi memelihara kodok karena suara (kung-kong, kul-kul, kwang-kwang) milik kodok yang punya tempat tersendiri di hati Jokowi. Baginya, suara itu lebih indah dari penggalan syair berdarah milik Wiranagara. Lebih syahdu daripada Roman Cavalry Choirs milik Coldplay. Dari paduan suara ala kodok, Jokowi mendapatkan suasana relaksasi tersendiri di tengah bisingnya pemerintahan dan suara kendaraan.
Beberapa pemimpin besar dunia juga memang memiliki kebiasaan unik yang bahkan menjadi karakter saat dia memimpin Negara. Jose Mujica contohnya, pemimpin satu ini dari dulu terkenal akan kesetiannya pada mobil Volkswagen (mobil kodok) tua miliknya. Bahkan, karena alasan itu pula Mujica didaulat sebagai presiden termiskin di dunia. Penyejajaran antara Mujica dengan Jokowi menjadi linier pada wilayah kebiasaan unik keduanya yang sama-sama menjadi sorotan publik.
Mengawali tahun 2016, agaknya inilah gebrakan baru yang ia lakukan. Memelihara kodok di Istana. Menjemput kisah cinta yang sempat terpisah puluhan kilometer dari Solo hingga ke Istana Negara. Harapan kita semua tentunya dari nyanyian relaksasi kodok ini Jokowi akan mampu membuat kebijakan yang strategis dan harmonis dengan kebutuhan masyarakat dan kemajuan Indonesia.
Pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum terus bergulir memasuki bu...
Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen yang paling membanggakan bagi sepak bola Asia. Untuk perta...
Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...
Ada hari dimana pemimpin harus terdengar seperti sejarah. Kalimatnya panjang, suaranya menggelegar, ...
Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...
Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...

Belum ada komentar.