*Tanggapan Atas Tuduhan Tak Beralasan CakRun*

Beberapa hari yang lalu, di laman Avepress terbit sebuah tulisan yang cukup menggelitik pikiran saya. Tatkala sedang melakukan aktivitas, saya tak sengaja membaca tulisan yang bagi saya cukup menyudutkan dan tak beralasan. CakRun, pemilik karya sepertinya ingin mendompleng nama besar Lionel Messi, CB dan Arya Kamandanu.

Sebenarnya, tidak ada masalah dengan sebuah karya yang ingin diterbitkan oleh seseorang. Hanya saja, menilik kemajuan teknologi, keharusan mengupdate dan memperbaharui sebuah informasi penting dilakukan. Dalam hal ini, mungkin, CakRun sedang di Gua Hira’ atau paket langganan internetnya habis. Mari berhusnudhon saja.

Mari pelan-pelan kita belejeti kekurangtepatan tulisan tersebut!

Pertama, tentang hobi MasBen dan karakternya. Tak elok kiranya jika saya mengatakan bahwa semua hal yang disebutkan dalam tulisan tersebut salah. Namun, beberapa agaknya kudu mendapat koreksi dan remidi.

Mengenai marga, saya akui, betul, jika saya mengagumi Lionel Messi. Saya pecinta sepakbola dan penyayang film Bollywood. Namun, sekali lagi namun, saya bukan orang yang suka dengan Sunny Leone.

Di tulisan review film tanah Hindustan yang beberapa kali saya ulas. Belum sekalipun saya meresensi film yang dibintangi oleh Sunny Leone. Lebih lanjut, tuduhan ini sangat tidak beralasan dan menjadi boomerang bagi CakRun sendiri. Bagaimana bisa? Sepengetahuan saya, di Avepress pernah terbit resensi film Sunny Leone. Namun, penulisnya adalah CakRun sendiri. Film berjudul Ek Paheli Leela yang bercerita tentang Sunny Leone dan masa lalunya dikemas dengan seksi oleh CakRun.

Selain itu, jika memperbincangkan masalah tulisan yang melenggok dan mendayu-dayu. Kiranya ini tidak ada hubungannya dengan hobi menonton film India. Mengapa? CakRun sendiri yang dalam biografi penulisnya mengutarakan sebagai aktifis koplo atau pejuang atau pembela atau apalah itu ternyata tulisannya tak bisa melenggok seperti goyangan Ratna Antika. Jika analisis tersebut tepat, harusnya karya-karya CakRun menggunakan pola naik turun seperti kelokan jalan menuju Bromo. Dari sini, jelas bahwa tulisan dan analisis tersebut mengada-ada.

Menurut L. Riansyah, metode ini disebut black campaign. Beliau sering kali berujar bahwa cara terbaik untuk meningkatkan popularitas atau citra bukan dengan berbuat baik atau mencitrakan diri dengan hal positif. Metode ini memerlukan waktu yang lama. Lalu metode apa yang paling cepat? Dengan cara menjelekkan atau menjatuhkan orang lain. Nahh, dari sini bisa kita ketahui bahwa analisis yang diajarkan Cak Edi Purwanto ini tak tepat, atau CakRun yang ternyata belum tuntas mempelajarinya.

Kedua, mengenai hobi CB dan karakter pembawaan Ayub. Jelas bahwa ke-aktual-an dan ke-akurasi-an data yang disampaikan salah. Kenapa? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perjelas dahulu mengenai kondisi hati Ayub saat ini.

Tahun lalu, hampir semua orang akan membenarkan bahwa Ayub adalah The Man Who Can’t Be Move. “Roti-roti, trasi-trasi. Wingi-wingi, saiki saiki.” Hari ini, Ayub bukanlah lelaki dengan kategori tersebut. Bagaimana bisa? Ya. Ayub sekarang adalah pemain baru. Ia sudah meletakkan keanggotaan Barisan Penyayang Mantan. Kini, ia sudah terdaftar resmi sebagai anggota Barisan Penyayang Pacar Orang.

Lalu hubungan hobi CB dan karakter Ayub? Sekarang, Ayub bukanlah sosok yang rajin dan telaten mengurus dan menjaga sesuatu. Buktinya? Kepindahan Ayub dari Barisan Penyayang Mantan ke Barisan Penyayang Pacar Orang membuktikan bahwa Ayub bukanlah orang yang telaten-rajin-setia pada sesuatu. Ia kini petualang, meskipun kadang salah masuk rumah orang.

Sebagai peneliti muda, CakRun kembali melakukan blunder pada analisis tentang Ayub. Konteks fakta kekinian ia hilangkan atau mungkin sengaja tak dimasukkan. Studi fenomenologi yang ingin dijabarkannya melenceng dari validitas dan aktualitas data. Untungnya Ayub baik orangnya, ia tak semborono melaporkan CakRun ke kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik.

Ketiga, fenomena Very dan Arya Kamandanu. Lagi-lagi kesalahan dilakukan oleh CakRun. Betatapun Very yang ingin dijabarkan di tulisan tersebut tidaklah sepenuhnya mencerminkan kebenaran. Bagaimana bisa? Bukankah semua orang tau apa yang dialami Very dalam hal cinta?

Kesalahan yang dilakukan CakRun untuk menggambarkan Very bukan pada wilayah analisisnya. Melainkan kesalahan pada pemilihan subjek yang harusnya dijadikan rujukan. Daripada mengambil Very, analisis tersebut lebih layak disematkan kepada Uvi.

Mengapa Uvi? Sebagai seorang laki-laki, Uvi sering kali curhat dengan saya di malam hari atau ketika sedang menikmati secangkir kopi. Ia sering bertanya “Mas, pacaran itu gimana sih? Terus caranya mendekati seseorang yang efektif itu juga gimana?”

Dari pengulangan pertanyaan di atas bisa disimpulkan bahwa Uvi pantas menyandang selayaknya pernyataan Surinder Sahni di film Rabne Bana Jodi yakni orang paling beruntung adalah ia yang tak pernah merasakan jatuh cinta. Dibandingkan Very yang sudah berani memberikan kado untuk gadisnya, Uvi lebih parah. Sampai detik ini ia tak bisa membedakan bagaimana cinta kepada seorang wanita dengan cinta kepada orang tua.

Tak sampai di situ, Uvi sering kali berkelakar kepada teman-temannya (termasuk saya) bahwa pacaran itu tidak ada enaknya. “Palingan juga keluar untuk makan, smsan juga itu-itu saja, obrolannya melulu tentang lagi apa dan sudah makan.” Dari sini semakin kuat bukti bahwa jangankan pacaran, merasakan jatuh cinta saja sepertinya Uvi belum pernah.

Karakter nerimo, legowo dan pasrah yang katanya milik Very sebenarnya lebih kuat dalam diri Uvi. Contohnya; Suatu ketika ada tamu di kontrakan kami, seorang cewek dengan balutan busana merah dan kacamata hitam. Uvi adalah orang pertama yang menemuinya. Si cewek kemudian menjelaskan maksud kedatangannya. Uvi mengangguk dan mempersilahkan si cewek duduk. Ia kemudian ke dapur, membuat secangkir teh untuk si cewek. Setelah teh jadi, Uvi tak lantas menemani si cewek tersebut. Ia memanggil saya dan bercerita mengenai maksud kedatangan cewek tersebut. “Lha kenapa harus aku, Vi? Kan kamu sendiri bisa membantu cewek tersebut,” tanyaku pada Uvi. “Gakpapa, Mas. Kita kan harus saling berbagi peran. Saya sudah terima tamu dan buat teh. Sekarang sampean bagian nemenin dia ngobrol,” jawab Uvi singkat.

Tanpa menafikkan maksud dan keluguan Uvi. Saya akhirnya mengamini bahwa Uvi adalah karakter yang ikhlas dan neriman. Ia termasuk dalam kategori sebaik-baik orang adalah ia yang bermanfaat bagi orang lain. Terima kasih, Kak Uvi. Dan apapun yang dilakukannya tak pernah mengandung tendensi atau niat tersembunyi.

Akhirnya, menjadi jelas jika analisis CakRun tersebut harus segera diperbaiki. Beberapa instrumen dan pengambilan kesimpulan banyak yang tidak tepat. Semoga kedepan akan ada klarifikasi atau sekedar surat permohonan maaf dari yang bersangkutan. Amin Ya Robbal Alamin.