Judul: Politik Agama dan Kekuasaan: Menuju Keberimanan yang Otentik
Oleh: Benny Susetyo
Penerbit: Averroes Press
Tahun: 2007
Tebal: 138
ISBN: 9793997133

Semakin banyak kita melihat wajah-wajah getir yang menghiasai anak negeri ini. Anak-anak yang masanya bermain terpaksa mengamen di pinggiran jalan. Anak-anak korban penggusuran maupun mereka yang trauma di daerah konflik makin menderita hari demi hari. Mereka tak bersekolah, tak bermain dan tak memperoleh perhatian cukup dari negara. Padahal dalam undang-undang dasar negara berjanji akan membantu kaum miskin papa.

Para Elit Tak tahu Diri

Di sisi lain para elit politik dan elit agama semakin bertingkah tak tahu diri. Mereka berlomba-lomba pamer kekuatan. Dengan kekuasaan, mereka palsukan fakta. Dengan uang, mereka membeli berita dan mengintervensi media. Tanpa rasa malu, jual beli hukum semakin diramaikan. Maka di negeri ini tiada hari tanpa dusta. Dusta yang dikemukakan dalam pelbagai silang pendapat.

Elit agama banyak mengobral dusta yang menjelma dalam egoisme diri; rasa ke-aku-an dengan menganggap diri paling bersih dan benar. Akibat dari sikap ini membuat mereka tak pernah belajar dari sejarah. Sejarah pahit yang selama ini dialami umat, tak pernah dijadikan cermin untuk memperbarui diri.

Para elit politik dan sebagian elit agama terlanjur menggantungkan diri semata-mata kepada kekuasaan an sich. Mereka telah lama meninggalkan mata hatinya. Mata hati mereka sudah silau dengan uang. Uang telah membuat elit politik mudah melacurkan dirinya. Tanpa mereka sadari sungguh-sungguh, orientasi yang semata-mata kepada “uang” dan “kekuasaan” ini telah membuat bangsa ini tercabik-cabik. Di antara mereka saling menerkam, membunuh dan menghilangkan rasa manusiawinya.

Dalam buku ini, kembali penulis mengumpulkan catatan-catatan terserak terkait tema besar, agama, politik, kekuasaan dan kemasyarakatan. Buku ini hanyalah kumpulan tulisan, sebagian pernah dimuat di media massa. Tak dapat dihindari juga, ada sebagian tulisan yang pernah kami sertakan dalam buku-buku sebelumnya, seperti Membuka Mata Hati Indonesia, Vox Populi Vox Dei dan lainnya. Saya berusaha maksimal menyeleksinya dengan menambah dokumentasi baru, yang merekam berbagai kejadian di negeri ini.

Pasar dan Agama

Ruang pasar inilah agama dijadikan barang dagangan yang dikemas dalam kaca lebar. Laku yang seharusnya menjadi bagian dari hidup bersama tidak penting lagi karena penting agama penampilan. Laku diperoleh keheningan batin untuk menemukan diri agar manusia bercermin diubah menjadi agama penampilan. Sisi batin tak lagi menjadi penting. Agama berwajah kapital karena diperdagangkan sesuai dengan permintaan publik.

Penampilan “tokohnya dikemas dalam sebuah kemasan oleh manajer yang khusus memperhatikan penampilan. Geraknya ditata sesuai dengan Irama. Perkata-kataan ditata rapi semua serba instan. Roh yang bergerak bukan lagi suasana yang hening, namun yang bergerak adalan suasana kegembiraan, keceriaan untuk melipur lara dan duka. Duka digantikan dengan kegembiraan sesaat karena Tuhan menjadi obat pelarian dalam segala persoalan hidup. Tiada hari tanpa Tuhan namun sayangnya Tuhan hanya sekedar menjadi pemanis di bibir karena laku tidak berubah.

Doa yang panjang hanya menjadi seremonial dan ritual. Doa yang syahdu tidak lagi berhasil menyambung hidup yang kongkrit. Tuhan dibela mati-matian sampai orang kerapkali tidak mau tahu keyakinan orang lain. Di sisi lain Tuhan tak pernah menjadi bagian dari kehidupan ini. Inilah yang Ironis ketika Tuhan tak lagi menjadi bagian dari tata nilai kehidupan ini. Tuhan sebenarnya tidak lagi menjadi pijakan dalam hidupnya karena kesucian hanya sebatas di bibir saja. Parodoks ini mudah dijumpai pada anak negeri di mana gairah beragama yang luar biasa namun tidak mengubah karakter dalam bidang politik, ekonomi dan budaya.