“Maha Benar Rangga Atas Segala Pesonanya !”

Menyambut film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang tayang kemarin mau tidak mau membawa kita kembali pada romantika remaja generasi 90an dengan sosok Rangga (Nicholas Saputra).

Film Ada Apa Dengan Cinta 1 (AADC) merupakan gambaran budaya pop yang masuk ke Indonesia. Setelah sebelumnya masyarakat lebih banyak dihibur dengan banyolan cerdas ala Warkop DKI atau film–film kolosal macam Tutur Tinular dan kisanak–kisanak yang lainnya, AADC mampu hadir untuk menjawab kegelisahan anak–anak muda di masa itu. Entah mimpi apa Rudy Sudjarwo (sutradara AADC) kala itu menampilkan sosok Nicolas Saputra, padahal ada yang lebih kompeten untuk memerankan sosok anak SMA seperti halnya Irgi Ahmad Fahrezi yang memerankan Lupus di era tersebut.

Sang Pencerah bagi Kutu Buku

Rangga Toko Buku Kwitang via google
Rangga dan Cinta di Toko Buku Kwitang via google

Rangga yang lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan dan Kwitang untuk mencari lembaran–lembaran karya sastra adalah gambaran cowok ideal masa itu. Meski melekat stigma kutu buku, Rangga is Rangga. Bukan karena apa–apa, karena memang Rangga diperankan oleh Nicholas Saputra. Pemilik tatapan mata paling menohok di sudut pojok atas tenggorokan. Jangankan kaum hawa, saya saja sempat menyimpan fotonya di dalam dompet. Saya tidak bisa membayangkan andaikata yang memerankan Rangga adalah Agus Mulyadi atau Sule. Selama 14 tahun Rangga akan dibully tanpa henti.

Berkat Rangga pula, popularitas dan elektabilitas cowok kutu buku meningkat 100%. Betapa tidak, semenjak munculnya film AADC di tahun 2002, cowok kutu buku yang sebelumnya tidak pernah masuk radar bursa transfer cewek– cewek cantik seketika melonjak layaknya kebintangan Riyad Mahrez.

Tidak Banyak Bicara dan Memilih Menjadi Pujangga

Pendiam, cuek, dan individualis.

Tiga hal itulah yang menjadi gambaran sosok Rangga di film AADC. Berkat Rangga, saya tersadar bahwasanya cowok pendiam, cuek, dan individualis memiliki nilai lebih di hadapan cewek. Buktinya Rangga berhasil membuat Cinta tersihir dengan buaian rasa penasaran dan semakin mengejar tanda tangan “jadian” darinya.

Terlebih lagi sosok Rangga yang ditampilkan lebih banyak membelai cewek dengan bait–bait puisi melankolis khas Wiranagara. Saya kira inilah menariknya seorang Rangga sehingga dapat membius Cinta. Coba kita otak-atik premis di bawah ini.

Premis 1: Cowok romantis adalah yang pandai berpuisi
Premis 2: Cewek suka cowok yang romantis
Jadi, cewek suka cowok yang pandai berpuisi

Dan karena akumulasi tiga sifat diataslah, “Aku pasti kembali dalam satu purnama”, milik Rangga mampu meninggalkan demam can’t be move pada Cinta.

Menunggu Rangga hingga Ratusan Purnama

Rangga bertemu Cinta AADC 2 via google
Jadi beda satu purnama di New York sama di Jakarta? via google

Ada beberapa perspektif yang bisa digunakan untuk mengetahui perbedaan purnama di Jakarta dan Amerika. Salah satu sudut pandang yang bisa digunakan adalah teori pergeseran waktu yang ditemukan oleh beberapa ilmuwan di awal abad 20.

Teori ini mengatakan bahwa waktu akan berjalan lebih lambat untuk objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya. Pertanyaannya adalah seberapa cepat Rangga harus bergerak? Berdasarkan perhitungan dari Wolfram Alpha, setidaknya objek harus bergerak secepat 299.785 km/detik supaya satu purnamanya Rangga sama dengan Cinta.

Setidaknya teori tersebut membuktikan Rangga tidak berbohong kepada Cinta. Andai saja Cinta lebih berfikir logis, hanya Alien yang dapat melakukan perjalanan 299.785 km/detik. Bayangkan apabila Rangga harus menuruti hasrat rindu Cinta dan dia kembali ke Jakarta dalam wujud E.T.

Saya pikir bukan hanya Cinta yang menunggu Rangga hingga ratusan purnama, bukan hanya Cinta yang menanyakan apa purnama di New York berbeda dengan di Jakarta, dan sekali lagi bukan hanya Cinta yang bilang, “Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu jahat!”, tapi semua orang pun pasti mengumpatkan hal yang sama. Inilah alasan paling logis yang membuat remaja 90an membanjiri bioskop di tanah air untuk melepas rindu dengan sosok Rangga. Apalagi, si Nico kan masih lajang.

Tidak ada cowok yang lebih ahli dari Rangga untuk urusan PHP (Pemberi Harapan Palsu). Karena Rangga, cinta remaja kala itu tertunda. Harusnya, para pendukung Rangga garis keras berterimakasih pada aplikasi LINE yang berhasil mempertemukan Rangga dengan Cinta kembali.

Selamat nobar AADC 2, selamat melepas rindu dengan Rangga, dan selamat bernostalgia.