Judul: Dinamika Sejarah, Budaya dan Demokrasi (Aspek Sejarah dan Sosial Budaya, Peran dan Pengaruhnya dalam Demokratisasi  di Kabupaten Malang)
Penulis: Saiful Arif (ed)
Seri: Buku Seri Demokrasi ke-4
Penerbit: Averroes Press
Tahun: 2006
Tebal: 142
ISBN: 9799793997093

Sejak awal abad pertama masehi, sebenarnya Malang telah diketahui lewat peninggalan-peninggalan sejarah. Mulai dari peralatan rumah tangga yang terbuat dari perunggu, benda-benda kesenian sampai alat-alat yang digunakan untuk upacara keagamaan. Di daerah Kacuk dan Singosari pernah ditemukan benda-benda peninggalan sejarah tersebut. Sedangkan di daerah Mulyorejo juga ditemukan sisa hasil kebudayaan megalithicum berupa alat musik kenong yang disebut Watu Kenong. Juga adanya prasasti tertua di Jawa Timur yang dinamakan prasasti Kanjuruhan ditemukan di daerah Dinoyo.

Dinamika Sejarah di Malang Abad VIII-XVI

Malang yang merupakan peradaban tua yang tergolong  pertama kali muncul dalam sejarah Indonesia yaitu sejak abad ke 7 Masehi. Peninggalan yang lebih tua seperti di Trinil (Homo Soloensis) dan Wajak – Mojokerto (Homo Wajakensis) adalah bukti arkeologi fisik (fosil) yang tidak menunjukkan adanya suatu peradaban. Peninggalan purbakala di sekitar wilayah Malang seperti Prasasti Dinoyo (760 Masehi), Candi Badut, Besuki, Singosari, Jago, Kidal dan benda keagamaan berasal dari tahun 1414 di Desa Selabraja, menunjukkan bahwa Malang merupakan pusat peradaban selama 7 abad secara kontinyu. Karenanya wilayah Malang termasuk daerah di Indonesia yang beruntung memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan setidaknya ada dua prestasi yang belum tentu dimiliki oleh daerah lain yaitu Malang merupakan tempat sejarah sekaligus pusat peradaban.

Keterpurukan kekuasaan politik di kawasan Malang (kerajaan Jenggala), yang pada tahun 1135 M mendapat kekalahan dari Kadiri, tidak menyurutkan semangat warga Malang Kuno untuk berjuang guna membebaskan diri dari pendudukan Kadiri. Pemimpin gerakan pembebasan Jenggala bernama Ken Angrok membuktikan keberhasilannya lewat kemenangannya yang gemilang di palagan Ganter (1222 M). Semenjak itu hingga 70 tahun berikutnya (1292 M), di kawasan Malang tampil kemaharajaan Tumapel/Singhasari yang peran politik dan budayanya diperhitungkan oleh penguasa lain (M Dwi Cahyono, 2006)

Sebagai kawasan bersejarah, Malang Raya telah menempuh perjalanan sejarah yang panjang. Pengalaman generasi terdahulu dalam meniti perjalanan sejarahnya itu merupakan realitas hidup pada masanya, yang untuk masa sekarang dapat dijadikan sebagai buah pengalaman yang layak dipetik dalam rangka mengelola kehidupan sosial-budaya di daerahnya. Kendatipun dalam kurun waktu delapan abad (VIII-XV) pada masa Hindu-Buddha terdapat setidaknya lima kerajaan, entah kerajaan otonom ataupun kerajaan bawahan (vasal), namun jika antar peristiwa dikorelasikan maka diperoleh gambaran bahwa terdapat kesinambungan antar peristiwa dari masa yang berlainan, atau sebaliknya perubahan yang perlu dilakukan untuk adaptasi terhadap tututan politik dan perubahan budaya.

Arti Penting Belajar Sejarah

Orang berkali-kali bertanya tentang arti penting mempelajari sejarah masa lalu. Sejarah, bagi sebagian orang tak lebih dari kumpulan cerita-cerita kuno yang hanya patut dikenang dan diceritakan sebagai dongeng pengantar tidur. Sejarah tak lebih dari kumpulan artefak yang dipergunakan sebagai pemuas dahaga akan nostalgia. Masih ada yang menganggap sejarah sebagai benda mati yang tak dapat dihidupkan kembali.

Padahal, sejarah mengumpulkan sekian cerita masa lalu yang memiliki kekuatan-kekuatan tertentu. Di balik cerita sejarah, tersimpan faktor-faktor perubahan masa depan. Karena sejarah ditulis oleh jenderal yang menang perang, demikian kata sebuah ungkapan. Sejarah adalah milik kelompok mainstream yang secara sistematis berusaha melenyapkan sebuah tradisi perlawanan melalui serangkaian fakta yang dimanipulasi. Penulis dan pemilik sejarah adalah pemenang masa depan.

Agaknya semua akan sepakat mengenai posisi strategis wilayah Malang, terutama di Jawa Timur. Kabupaten Malang adalah kabupaten terluas kedua di Jawa Timur, setelah Banyuwangi. Kabupaten Malang memiliki penduduk terbanyak kedua setelah Surabaya. Bersama dengan Kota Batu dan Kota Malang –sebagai satu kesatuan wilayah Malang Raya– Kabupaten Malang merupakan wilayah yang memiliki torehan sejarah penting di tanah Jawa bahkan di nusantara.

Membaca Ken Angrok, Singhasari, Kanjuruhan, Ki Ageng Gribig tentunya tidak sekedar mencermati aspek-aspek statis dari perjalanan sejarah yang mereka toreh. Membaca fakta sejarah Malang masa lalu sesungguhnya memiliki arti yang lebih penting, yakni menghadirkan lagi kearifan lokal yang pernah bermukim lama di Malang. Dalam kaitannya dengan realitas sosial politik kekinian di Malang, yang patut dicatat bahwa kearifan tradisi dan budaya lokal Malang harus mampu ‘meng-atas-i’ gelombang demokrasi yang datang ke Malang. Nilai, prinsip dan keahlian demokrasi mestinya bersanding dengan aspek-aspek lokal yang terlebih dahulu menjadi referensi kehidupan di Malang. Agak sulit memang pekerjaan tersebut, apalagi sejarah Malang sampai saat ini hanya menjadi kilasan-kilasan yang masih belum terang sepenuhnya, sepotong-sepotong dan sebagian catatan-catatan telah rusak dimakan usia.

1 COMMENT