Judul: Politik Demokrasi: Sketsa, Filosofis, Fenomenologis
Penulis: Armada Riyanto, Hariyono, Priyatmoko Dirdjosuseno
Penerbit: Averroes Press
Seri: Buku Seri Demokrasi ke-20 dan ke-24
Tahun: 2011 dan 2014 (ed. 2)
Tebal: 120
ISBN: 979399732X

Indonesia kita dewasa ini mendapat peringatan serius ketika elit politik gagal memberikan pelajaran berdemokrasi yang beretika sekaligus jaminan kesejahteran kepada warga. Kesejahteran masyarakat semakin lama semakin tidak menjadi acuan dalam pelbagai kebijakan publik. Di sisi lain, demokrasi menghadapi masalah terutama ketika ia hanya dilihat dalam perspektif kulit luar saja. Demokrasi nyatanya belum menyentuh hal-hal substansial dan mendasar. Lebih buruk lagi ketika demokrasi saat ini termaknai sebagai sekedar alat legitimasi perebutan jabatan dan bagi-bagi kekuasaan.

Kepentingan Sempit

Tentu saja model seperti ini amat berbahaya bagi kelangsungan hidup berbangsa. Demokrasi hanya direduksi ke dalam kepentingan sempit. Ini juga yang membuat kita semakin yakin bahwa perjalanan bangsa ini tanpa didasari visi yang jelas. Elit politik dan penguasa hanya mengejar kulit luar demokrasi tanpa pernah menjadikan demokrasi sebagai roh dalam mengelola bangsa ini.

Feodalisme yang masih mengakar dalam kultur politik bangsa ini menyebabkan elit politik tersandera hal-hal yang menyenangkan, mudah, jalan pintas dan instan. Akibatnya politik yang dijalankan kehilangan kemampuan untuk membangun keadaban publik, lebih-lebih ketika politik terjebak pada permainan uang.

Demokrasi tidak menjadi dasar dalam penegakan keadilan hukum. Pencuri semangka dan sandal jepit mendapatkan ketegasan hukum yang lebih berat daripada pelaku penilep uang proyek atau pelaku skandal bank. Dalam hal kebebasan berpikir, berkumpul dan beragama, bangsa ini juga masih mendapatkan nilai merah. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kasus-kasus penodaan agama yang dilakukan oleh aparat pemerintah ataupun oknum-oknum agama.

Secara konstitusi, negara menjamin itu semua, namun dalam implementasinya negara justru paling sering menjadi biang keladi berbagai persoalan di masyarakat.

Democracy is Noisy

Priyatmoko Dirdjosuseno dalam tulisannya mengutip ungkapan, democracy is noisy. Banyak suara-suara, tetapi substansi harus ditemukan di sana. Kami harus mendapat kesepakatan soal isu mendasar (Boediono, Kompas, 26 Maret 2010). Demokrasi merupakan gagasan atau cita-cita politik lama (bahkan sangat lama) yang kian dipraktikkan di makin banyak negara, bahkan lebih banyak lagi di lingkup yang lebih kecil cakupannya dibanding negara. Sejauh ini bisa dikatakan demokrasi telah ditandingkan dengan gagasan-gagasan politik lain, dan demokrasi terbukti paling unggul dalam melampaui ujian sejarah yang panjang dan menantang.

Ia juga mengutip Leslie Lipson yang mengatakan demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang menggabungkan sebanyak mungkin kebebasan dengan sebanyak mungkin kesamaan bagi warganya. Praktik penggabungan kebebasan dan kesamaan sering kali membingungkan. Dengan perkataan lain, praktik demokrasi ternyata mengandung kontradiksi internal. Kebebasan, misalnya, dapat dimaknai secara negatif sebagai “bebas dari” dan dapat pula dimaknai secara positif sebagai “bebas untuk” yang bisa saling berbenturan satu sama lain ketika masing-masing ingin diwujudkan secara mutlak. Pemahaman tentang kebebasan yang bisa diterima bersama, karena itu, harus menghindari pemaknaan yang mutlak.

Buku seri demokrasi kali ini menghadirkan ulasan demokrasi dari beberapa penulis yang pernah menjadi narasumber di Sekolah Demokrasi yang diselenggarakan Averroes Community. Tidak semua tulisan bisa dimuat dalam edisi ini. Kami memilihkan yang relevan dan aktual dalam memotret kondisi politik dewasa ini.