AveSticker

Teknologi dan Eksistensi Sosial yang Makin Terampas

Oct 15 2010433 Dilihat

Denis Goulet (1977) dalam The Uncertain Promise: Value Conflicts in Technology Transfers pernah mengemukakan bahwa teknologi seperti pedang bermata dua. Di satu sisi membawa kemudahan bagi manusia, di sisi lain ia adalah penghancur nilai-nilai. Ia pengembang sekaligus perusak.

Teknologi, KeretakanDalam konteks makro, itu sudah begitu terang kita lihat dalam proses alih teknologi dari Barat ke negara-negara berkembang dan miskin. Kita disuguhi postulat bahwa untuk menuju kemajuan peradaban, modernisasilah satu-satunya jalan. Dan modernisasi yang benar, efektif dan efisien harus menggunakan teknologi (buatan Barat) sebagai satu-satunya jalan.

Dalam konteks mikro, individual dan bersifat interaksi antarmanusia, argumen di atas saya kira bisa diterapkan. Kita mencontohkan perkembangan teknologi Gadget yang begitu pesat dan ramainya social networking di dunia maya. Dengan makin massifnya seluler dan Blackberry (BB) di berbagai kalangan, dengan harga makin terjangkau, kenyataan bahwa teknologi telah menjauhkan, pelan-pelan tapi pasti, kita dengan dunia sekitar benar-benar dapat dirasakan. Seseorang lebih asyik memainkan keyboard BB nya daripada memperhatikan lawan bicaranya. Orang bilang, teknologi telah membuat penggunanya semakin asosial.

Anda mungkin pernah merasakan jengkelnya dicuekin lawan bicara, lawan bersanding atau lawan berkomunikasi beberapa saat, atau bahkan dalam waktu yang lama. Dalam hati mungkin Anda mengumpat, tapi sayangnya Anda tidak bisa memprotes.

Semua orang pasti tidak senang dicuekin pada saat berkomunikasi dan karena itu sama saja dengan menghina keberadaannya. Tapi BB telah berhasil membuat hak Anda sebagai manusia yang butuh pengakuan eksistensi, terampas begitu saja. Masih lumayan bila untuk mengangkat telepon, atau membalas SMS, yang bersangkutan menyatakan, “Sorry ya sebentar ada telepon.” Yang sering terjadi, dan semakin lama, nilai komunikasi dan kebersamaan pun hancur berantakan.

Tak hanya itu, keasyikan di depan komputer dengan layar Facebook di depannya akan membuat seseorang sudah seolah menjadi orang paling “sosial” di lingkungannya. Siapa yang didekatnya seolah bukan dianggap manusia.

Dan berbagai contoh lainnya.

Karena teknologi juga membantu manusia untuk berinteraksi lebih mudah, tak adil rasanya menyalahkannya begitu saja. Ada sekolah di Pontianak yang melarang anak didiknya untuk mengakses Facebook karena khawatir mereka akan menjadi asosial. Lho …

Burung Hantu Minerva

Berkomunikasi tatap muka, berinteraksi secara langsung seringkali memang memiliki hambatan yang besar, namun justru memiliki makna yang jauh lebih dalam dan tak pernah dianggap sebagai suatu yang bermakna. Menggunakan teknologi sebatas keperluan dengan tetap mengedepankan aspek kemanusiaan akan menjadi kombinasi yang indah.

Kata orang Jawa, “katrok” atau mungkin cultural shock. Orang yang tergagap-gagap dengan keajaiban-keajaiban fasilitas teknologi, seperti semua unsur kehidupan dibenamkan di dalamnya, seperti semua masalah akan selesai dengannya.

Teknologi telah membuat keretakan personal, antarsesama manusia, semakin menjadi-jadi. Dalam hati kecil mungkin saja kita menyadarinya, tapi sering tak mampu menolaknya. Atau juga ada yang tak menyadari sama sekali. Kita memang sering begitu, seringkali terjaga ketika matahari sudah terbenam, ketika semua sudah lewat di siang hari.

Meminjam istilah filsafat Hegel, hidup kita ini memang seperti burung hantu dewi Minerva, yang baru bisa terbang saat malam tiba, ketika pertunjukan sudah usai.

Share to

Lahir di Lamongan Jawa Timur. Senang membaca tulisan siapapun

Topik Terkait

Dokter Wang Jie

by Jan 12 2026

Hamparan gabah kering memenuhi terpal biru, di depan pabrik penggilingan beras berkapasitas puluhan ...

Wahana Misteri

by Jan 08 2026

Bunyi letusan senjata api laras panjang, membahana ke seantereo hutan. Menggetarkan nyali tiap orang...

Pasar Buku Wilis di Kota Malang

by Jan 08 2026

Pasar buku Wilis merupakan salah satu tempat penjualan buku terlengkap yang terdapat di Kota Malang....

Meski Mahal, Vespa Matic Tetap Banyak Di...

by Jan 08 2026

Apa alasan yang membuat Vespa matic yang harganya mahal tetap diminati? Padahal dari segi fitur ngga...

Api Alam Tak Kunjung Padam di Bangkalan

by Jan 08 2026

Api tak kunjung padam merupakan kekayaan alam yg dimiliki warga Desa Genteng Kecamatan Konang Kabupa...

Mengenal Dunia Kerja Sejak Kecil, Mak Su...

by Jan 08 2026

Petani menjadi salah satu profesi yang paling dikenal di Indonesia. Berkecimpung didalam dunia perta...

  • nunur says:

    BB memang menjengkelkan mas. menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. mangkanya aku nggak mau beli BB. mending nabung tuk beli i phone aja deh :p

  • Elis says:

    berarti mending nggak usah pake hp ya….????
    Jadi menjauhkan kekeluargaan yang menjadi kepribadian Indonesia.
    Ntar bikin hp sendiri apa ya…??? 🙂

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top