AveSticker

“Sanepan” Modern Tentang Cowok Sempurna

Jan 09 2011944 Dilihat

Orang kuno (baca:orang-orang tua jaman dulu) punya tradisi yang unik dalam berbahasa, yakni sanepan. Cerita sanepan itu seperti kata kakek saat cucunya lahir dia bilang: cincin yang hilang kini telah kembali. Kakek meminjam bahasa cincin untuk menganalogikan cucunya sebagai ruh yang ada dalam benaknya telah lama dan kini terlahir.

Sanepan adalah salah satu bentuk komunikasi masyarakat tardisional jawa masa lalu dengan memberikan tanda-tanda melalui bahasa kiasan, atribut, hiasan-hiasan arsitektur, pernik-pernik ritual dan lain sebagainya yang kesemua tanda-tanda itu memiliki makna tertentu. Sanepan kuno itu seperti ramalan Joyoboyo tentang masa depan masyarakat jawa dengan bahasanya: wong jowo koyo gabah diinteri (Orang jawa seperti gabah yang sedang ditapeni). Sanepan itu dimaknai dengan hiruk pikuk masyarakat Jawa sekarang yang mempunyai mobilitas tinggi, berjalan ke mana saja demi memebuhi kebtuuhan ekonominya. Kata gabah diinteri itu melambangkan kebingungan masyarakat yang ada pada masyarakat Jawa sekarang. Karena sanepan hanya menampilkan tanda-tanda membuat maknanya menjadi multitafsir (baca: Bahasa “Sanepan” Tulungagungan).

Nah, belajar sanepan itu membuat penulis teringat dengan seorang bernama Ahmad Randi yang menyukai symbol-simbol bahasa dalam membuat pegangan-pegangan ide yang bisa kita gunakan untuk panduan berjalan, utamanya digairah kehidupan yang semakin kehilangan substansi sebagai akibat pragmatsime modernitas. Satu sanepan yang kemudian beliau rangkai dalam memandang wong lanang (orang laki-laki atau cowok) yang maskulin, keren, dan pasti akan disukai banyak cewek. Yang membuat cowok keren dan maskulin itu bukan fisiknya, tapi skillnya, yakni cowok harus bisa (1) Sepak bola, (2) main gitar dan (3) main catur.

Boleh saja dimaknai apa adanya, dan memang cowok pesepakbola punya nilai lebih di mata cewek. Kesan sporty mungkin yang pertama muncul. Begitupun dengan cowok yang suka main gitar, cewek mana yang tidak suka? Cowok yang bisa main catur juga mempunyai tempat tersendiri.

Tetapi ini sanepan, dan penulis begitupn beliau lebih menyukai makna filosofisnya. Cowok bisa main bola artinya adalah cowok yang mampu mengetahui posisinya dan juga mampu berperan dalam sebuah team, dengan siapapun ia bekerjasama. Seorang Irfan Bachdim yang basru saja menginjakkan kaki di timnas untuk kali pertama harus segera mampu bekerjasama dengan Gonzales, Okto, Firman Untina dan sabagainya dalam sebuah tim, meski mereka tidak saling kenal sebelumnya. Cowok bisa main bola berarti bisa kita lihat seperti cowok yang mampu berkomunikasi dan menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang sekitarnya, berperan aktif dan mampu membangun kerjasama.

Yang kedua adalah cowok yang bisa main gitar. Main gitar adalah aktifitas yang bersentuhan langsung dengan emosi. Artinya adalah cowok yang mampu memberikan suasana, mengantarkan kepada kegembiraan, kesedihan, keletihan dan semua rasa yang ada secara sadar. Cowok bisa main gitar bisa menjadi pendengar dan pemerhati masalah yang baik, tahu kapan saat santai, serius, bercanda atau saat harus bersedih. Cowok bisa main gitar tidak terjebak pada perasaannya sendiri dan tidak memahami situasi emosi lawannya. Contoh situasi ini seperti saat lawannya sedang menceritakan kesedihan pada saat cowok baru saja mendapatkan berbagai hal yang menyenangkan. Cowok bisa main gitar bisa dengan mudah melupakan sejenak kegembiraannya sendiri untuk bisa menyelami kesedihan lawannya.

Yang terakhir adalah cowok dengan kemampuan main catur. Permainan catur adalah permainan berfikir yang selalu disusun dengan konsep tiga langkah ke depan. Artinya, cowok model ini adalah cowok yang mampu melakukan tindakan-tindakan yang telah terencana tidak hanya untuk mencapai satu tujuan, tetapi juga mempunyai visi jauh ke depan.

Nah, sudahkah anda memiliki kemampuan “bermain sepak bola, bermain gitar dan bermain catur itu?”

catatan: ini bukan kontruksi sosial ala realitas ala Peter L Berger, menciptakan sub-ordinasi cewek, menjadi bias gender  dan lain sebagainya, karena tulisan ini sangat subjektif. Hanya semoga tulisan ini bermanfaat.

Share to

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Blitar.

Topik Terkait

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top