AveSticker

Power Balance, Untuk Kesehatan atau Sekedar Gaya Hidup?

Sep 08 2010621 Dilihat

Siapa yang tak kenal Power Balance (PB), gelang yang dipercaya dapat memberikan sebuah kekuatan bagi penggunanya ini begitu marak kita dapati di pakai oleh berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, dosen hingga seorang lawyer sekalipun, apakah demi kesehatan atau hanya sekedar gaya hidup.

Power Balance yang pada awalnya ditujukan untuk atlet ini bekerja pada frekuensi lemah dan data biologis yang terprogram ke dalam media holografis (hologram). Beberapa litertur menyebutkan bahwa Power Balance didesain untuk beresonansi dengan medan biologis tubuh, energi dalam atau chi sehingga meningkatkan efisiensi sistem elektronik, kimia, dan organik tubuh bagi penggunanya.

Jika kita berjalan-jalan di mal atau pasar saat ini begitu banyak stand yang menjual PB seharga Rp. 75.000,- hingga Rp 100.000,-. Menjadi hal yang aneh jika di situs resminya gelang ini dibandrol seharga 29.95 dolar. Beberapa penjual Power Balance mengatakan bahwa PB bajakan tidak lebih hanya sebuah gelang karet yang di tengah-tegahnya memiliki hologram dan tidak berfungsi apa-apa, jikapun ada itu hanya sekedar sugesti. Dari beberapa tanda kita dapat mengetahui apakah gelang PB tersebut asli atau tidak, semisal dari hologram yang ada atau tulisan yang tertera di gelang tersebut.

Terlepas dari itu semua namun ada hal yang menarik yang dapat kita tangkap bahwa ternyata di pasaran lebih banyak yang beredar adalah gelang KW. Bahkan tidak jarang kita menemukan ada beberpa orang yang dengan sengaja menggunakan gelang PB bajakan ini lebih dari satu sekaligus. Beberapa orang yang menggunakan PB bajakan ini pada dasarnya faham jika menggunakan gelang PB bajakan tidak ada fungsinya. Salah satu teman yang menggunakan PB bajakan mengatakan “Ah ga papa bajakan orang ndak ada yang tau ini kalo dipakek”.

Saat ini tidak sedikit orang yang memburu gelang PB bajakan ini. Tidak ada yang tau pasti alasan mereka, namun dapat disimpulkan bahwa jika kesadaran mengenai PB bajakan yang tidak memiliki manfaat ini sudah difahami oleh masyarakat, maka tidak ada kata lain jika selain sekedar gaya hidup. Fenomena PB ini begitu menunjukkan kepada kita betapa gaya hidup saat ini sudah begitu mendominasi di masyarakat kita. Betapa dengan sadar ataupun tidak sadar saat ini kita sudah terkontaminasi dengan pikiran gaya hidup mewah. Bahkan parahnya lagi kita tidak sadar antara mana yang menjadi kebutuhan atau cuma sekedar keinginan kita.

Share to

Alumni Universitas Brawijaya Malang.

Topik Terkait

Afrika Tidak Kehilangan Bakat, Afrika Ke...

by Jun 28 2026

Ketika membahas sepak bola Afrika, orang biasanya memulai dari tempat yang sama. Federasi yang beran...

Diantara Menjadi Dokter, Notaris, Atau G...

by Jun 18 2026

Di ruang rawat inap VVIP Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie (AWS), Samarinda. Nampak belasan orang me...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top