Faqih Asyari • Oct 17 2010 • 18.796 Dilihat
Main-main petak umpet memang menyenangkan. Berlarian mencari tempat-tempat sembunyi dengan keterbatasan waktu sampai hitungan sepuluh, lalu mengendap-endap mencari celah keluar dari persembunyian, dan jumprit!
Diawali hompimpah, satu anak menajaga “jumpritan” dengan menutup mata, menghitung dari satu sampai sepuluh. Semburat teman-teman yang lain berlarian ke segala penjuru, mencari tempat sembunyi paling aman sambil mengintip penuh waspada mencari kelengahan penjaga.
Ada banya nama lain untuk permainan ini, yakni Inglo, Bon, Hong, dan bahasa Indonesia yang lazim digunakan adalah petak umpet. Diawali dari hompimpah, satu anak menjadi “kucing” atau penjaga dan mencari teman-temannya yang bersembunyi dengan tetap menjaga tempat jumprtinya. Sebab, selain harus menemukan persembunyian temannya, ia juga harus lebih dulu memegang jumpritan daripada teman yang ia temukan. Yang paling pertama ketahuan, jadi “kucing” berikutnya.
Tetapi semua hal yang berbau tradisi kini mulai habis. Permainan lebih modern atau biasa kita sebut game lebih banyak diminati melalui dunia internet. Tidak perlu keringat, duduk di depan computer anak-anak telah melarikan banyak imajinasi dan gambar lebih keras, lebih ganas, lebih sadis, lebih dahsyat dan sebagainya daripada permainan tradisional jumpritan atau petak umpet ini.
Meski permainan sudah mulai punah (kecuali di desa-desa), nama permainan ini mulai beralih posisi. Petak umpet saat ini lebih popular dalam dunia sastra dan dinamika bahasa tulis. Petak umpet tidak lagi sebuah nama permainan tradisional (saja), tetapi telah dimajaskan untuk menjelaskan situasi yang mirip, yakni bersembunyi sambil tetap waspada.
Istilah ini menjadi popular dalam berbagai dinamika sosial yang sering berkaitan dengan politik praktis. Di era Suharto, kelompok barongsai harus main “petak umpet” saat merayakan Imlek. Sepanjang era Suharto itu eksistensi dan ritual peribadatan ajaran Konghucu secara terang-terangan diberangus. Tak ayal, kelompok Barongsai harus nekat merayakan dengan cara “petak-umpet” dengan aparat kepolisian, yakni dengan sembunyi-sembunyi. Baru di era Gus Dur, mereka tidak harus petak umpet lagi merayakan Imlek dan tarian Barongsai.
Di facebook kita juga bisa main petak umpet, tentu dengan pengertian yang berbeda dengan permainan petak umpet tardisional. Petak umpet ala facebook kita lakukan dengan melihat banyak teman dan orang lain yang online di menu chat, tatapi kita sendiri mengatur posisi chat secara offline. Alasannya, mungkin kita sedang menghindar dari seseorang dan tidak ingin orang tersebut mengetahui bahwa kita sedang online karena malas diajak chating.
Main petak umpet tradisional memang sudah mulai tergusur oleh hal-hal baru yang dianggap modern. Tetapi sebisa mungkin nama permianan ini tetap bisa abadi, agar generasi nanti tidak lepas historisnya. Harapannya mereka tetap memiliki jati diri dan identitas yang tidak bias dengan asal usulnya. Sebab di Negara lain, permainan ini mulai dikenalkan. Amerika merancang permainan ini dalam pendidikan PAUD dengan nama permainan hide and go atau hide and seek.
Sumber gambar:
http://www.gettyimages.com/detail/88747693/Taxi
http://tradygames.blogspot.com/2010_06_01_archive.html
Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...
Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...
Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...
Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Belum ada komentar.