AveSticker

Manfaatkan Lebaran untuk Menyambung Persaudaraan

Sep 10 20101.013 Dilihat

(Catatan Khutbah ‘Iedul Fitri di Masjid Kuncen Madiun)

MADIUN-JB. Bulan Ramadan dan bulan Syawal dalam pandangan Islam sama sama memiliki arti penting. Keduanya juga penuh dengan kemuliaan dan keberkahan yang menantang untuk direngkuh. Di bulan Ramadhan, kaum muslim ditantang untuk menggapai keberkahan melalui ibadah yang sifatnya vertikal. Sedangkan pada bulan Syawal, kaum muslimin ditantang kembali untuk ngalap berkah melalui ibadah transendental. Ibadah transendetal  yang dimaksud adalah dengan saling menebar dan mereguk maaf  serta menyambung tali persaudaraan dengan sesama. Untuk itu, kaum muslim jangan merasa menang terlebih dahulu setelah sampai di hari ‘Idul Fitri. Setelah Ramadhan usai, kaum muslimin perlu mempersiapkan diri untuk melanjutkan riyadhah di bulan Syawal dan menggiatkan silaturrahim.

Demikian yang disampaikan oleh M. Fuad Hariri dalam khutbah ‘Idul Fitri di Masjid Nur Hidayatullah, Kelurahan Kuncen, Kecamatan Taman, Kota Madiun pagi tadi (10/09). Alumnus Unsuri Surabaya ini juga menjelaskan tentang hakekat Idul Fitri. Bahwa ‘Iedul fitri bukan hari untuk berpesta, namun menjadi hari dimana tingkat keta’atan diuji. Pemenang sejati di Hari Kemenangan, menurut Fuad adalah mereka yang mampu meningkatkan kualitas keimanannya sekaligus kualitas sosialnya.

Dalam konteks inilah, dengan menyitir Hadits Nabi SAW yang kurang lebih bunyinya demikian “in  arod-ta  antasbiqo ash shiddiqiin fashil man qatha’aka, wa’thi  man  haromaka,  wa’fu ‘an man  dzalamaka” (Jika kamu ingin melampaui kaum shiddiqun maka sambunglah silaturrahim kepada mereka yang memutuskan silaturahim, dan bersedekahlah kepada mereka yang mengharam diri untuk memberimu, serta ma’afkan orang-orang yang selalu mendhalimimu), PNS di MAN 1 Kota Madiun ini menantang ratusan jamaah yang ada di depannya, untuk mampu menerapkannya di bulan Syawal ini.

Sholat ‘Idul Fitri yang bertepatan dengan Hari Jumat ini diikuti oleh   lebih dari ima ratus jamaah dan diimami oleh KH Tukiman Abdurrahim, imam Masjid  Nur Hidayatullah Kuncen yang sudah “berdinas” sejak penulis masih duduk di bangku MIN Demangan. Masjid tertua di Madiun ini (berdiri pada pertengahan abad 16 M) ini, kini mengalami banyak perubahan. Renovasi besar-besaran telah menjadikan “masjid kampung”  ini nampak megah sarat dengan berbagai bangunan dan ornamen baru bergaya Jawa klasik. Menurut sumber yang dapat dipercaya, renovasi dan berbagai pengembangan masjid yang menaungi komplek Makam Kuno Kuncen ini sebagian besar dihimpun dari beberapa dermawan kaya yang di masa kecil menjadi bagian dari jamaah masjid yang didirikan oleh Ki Ageng Ronggo Jumeno ini.

Manfaatkan Lebaran untuk Menyambung Persaudaraan

Bulan Ramadan dan bulan Syawal dalam pandangan Islam sama sama memiliki arti penting. Keduanya juga penuh dengan kemuliaan dan keberkahan yang menantang untuk direngkuh. Di bulan Ramadhan kaum muslim ditantang untuk menggapai keberkahan melalui ibadah yang sifatnya vertikal. Sedangkan pada bulan Syawal, kaum muslimin ditantang kembali untuk ngalap berkah melalui ibadah transendental, yakni saling menebar dan mereguk maaf serta menyambung tali persaudaraan dengan sesama. Untuk itu, kaum muslim jangan merasa menang terlebih dahulu setelah sampai di hari Idul Fitri. Setelah ramadhan usai, kaum muslimin Perlu mempersiapkan diri untuk melanjutkan riyadhoh di bulan Syawal dan menggiatkan silaturrahim.

Demikian yang disampaikan oleh M. Fuad Fanani dalam khutbah Iedul Fitri di Masjid Nur Hidayatullah, Kuncen Madiun pagi tadi (10/09). Alumnus Unsuri Surabaya ini juga menjeskan tentang hekekat Idul Fitri. Bahwa ‘Iedul fitri bukan hari untuk berpesta, namun menjadi hari dimana tingkat keta’atam kita diuji. Pemenang sejati di Hari Kemenangan, menurut Fuad adalah mereka mempu meningkatkan kualitas keimanannya sekaligus kualitas sosialnya. Dengan menyitir hadits yang kurang lebih bunyinya demikian “in arod-ta antasbiqo ash shiddiqiin fashil man qatha’aka, wa’thi man haromaka, wa’fu ‘an man dzalamaka”, PNS di MAN 1 Kota Madiun ini menantang ratusan jamaah yang ada didepannya, untuk mampu menerapkannya di bulan Syawal ini.

Sholat ‘Iedul Fitri yang bertepatan dengan Hari Jumat ini diikuti oleh sekitar

adalah ibadah yang bersifat transenden. Setelah lebaran tiba, saatnya manusia untuk menggiatkan

M Fuad Hariri,

Tukiman Abdurrahman

Habib

Hakekat lebaran adalah

Puasa transendental

Share to

Alumnus jurusan Matematika Universitas Brawijaya Malang. Menekuni ilmu statistik, matematik dan politik.

Topik Terkait

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top