AveSticker

Kosmopolitanisme dan Feminisme yang Bergentayangan

Aug 12 201895 Dilihat

Oleh: Dina Dwi Rahayu

Judul               : Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu
Penulis             : Intan Paramadita
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit   : 2017
Tebal               : 490 halaman
ISBN               : 9786020377728</blockquote>

“Gentayangan, tak berpikir tentang pulang. Semua ini lebih penting dari apa pun buatmu, dan mungkin juga buat mereka yang terperangkap di kota yang sama, rumah yang sama.” (Hal. 162)

Menceritakan seorang perempuan yang hampir 28 tahun hidupnya ingin membuat sesuatu yang besar. Ia tidak ingin membuat hidupnya seperti kakak, teman-teman atau siapapun yang dikenalnya karena ia ingin hidup dengan berpetualang. Hingga akhirnya ia menagih janji dari sang iblis untuk mengabulkan keinginannya. Dan iblis memberinya sepasang sepatu merah, yang mengajaknya berpetualang.

Bersama sepasang sepatu merah “Kau” memulai petualangan ke New York, Berlin, Amsterdam, hingga Tijuana. Dengan menggunakan kata “kau” Intan seolah mengajak pembaca menjadi benar-benar berpetualang dengan kata ganti orang pertama. Novel ini memiliki alur seperti dongeng 1990an dan bingkai cerita dalam cerita ala putri Scheherezade di 1001 malam yang menggerakkan plot sesuai pilihan pembaca dengan memilih konsep “pilih sendiri petualanganmu”.

“Kau” berpapasan dengan orang- orang yang sama gentayangannya karena tersesat dan tak ingin pulang seperti jurnalis India, gadis Belgia, hingga “Kau” terbangun di kuburan di sebuah desa di Jawa Barat. Semua nomaden, seperti “Kau”; tak ingin pulang.

Menggunakan struktur bebas berpetualang, tentu akan membuat interpretasi orang akan berbeda- beda dalam memaknai cerita- ceritanya. Membaca lima kali dengan alur yang berbeda, akan mendapatkan lima narasi pengalaman yang berbeda pula. Intan sangat ahli dalam mendekontruksi dongeng dan memformulasikan menjadi narasi-narasi sastra, biblikal dan sinema. Novel yang digagas mulai tahun 2008 ini menunjukkan sebuah karya yang matang dari penulisnya.

Plot-plot dibangun oleh Intan dengan piawai, berstruktur pilih sendiri petualanganmu menjadi tawaran tentang feminis masa kini. Ia menggambarkan perempuan yang tidak lagi ingin berkutat dengan struktur yang dogmatis dan menantang untuk terus berpetualang tanpa ingin pulang.  Hal tersebut tertulis dan terus diulang-ulang “cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.” “Kau” ingin menantang struktur yang kuat. “Kau” tidak ingin menjadi seperti Kakak dan teman-temannya. Feminisme dan Kosmopolitanisme pun menjadi narasi kuat di novel ini. Melalui kutipan di atas, Intan juga mendeskripsikan Kosmopolitanisme yang meskipun saat ini Indonesia di tengah fenomena kalangan kelas menengah yang semakin religius, Intan tetap memosisikan “Kau” sebagai manusia di tengah moralitas yang inklusif.

“Kau” juga menggambarkan perempuan masa kini, bahwa salah memilih jalan berarti “Kau” akan dihadapkan pada keadaan yang penuh sesak sendiri. Pada akhirnya yang harus dihadapi perempuan saat ini adalah bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri.

Novel ini begitu kuat menonjolkan eksistensi perempuan, bahwa perempuan dianggap mampu untuk menyelesaikan masalah seberat dan sejauh apapun itu. Sesekali terjadi kesedihan-kesedihan di tengah kegagalan dalam mengambil jalan, lalu perjalanan gentayangan harus segera dilanjutkan. Dan itu berarti cepat atau lambat orang akan menyadari bahwa kosmopolitanisme yang dimaksud hanya bersifat paradoksal, dan ini merupakan sebuah karya surreal.

Melalui diksi-diksi “Iblis”, novel ini juga dapat dikatakan novel horror. Namun, bagi anda yang membaca buku ini dengan harapan akan ditakut-takuti pasti akan sedikit kecewa. Intan mengeksekusi genre horror dengan tidak sekadar cerita cerita seram yang menakutkan, namun ketakutan itu datang dari pikiran kita yang terganggu akibat membaca novel ini. Intan menuliskan kegelisahan-kegelisahannya sebagai seorang konservatif melalui kisah tragedi 98 dan wajah baru otoritarianisme.

Sebagai seorang feminis dan juga akademisi tentu Intan masih menyimpan kegelisahan seperti poligami, larangan- larangan mengucapkan selamat kepada umat beragama lain, hingga institusi pernikahan. Melalui karya ini dapat dipahami bahwa Intan adalah orang yang ingin memandang sesuatu keadaan melalui dimensi yang jamak. Tidak memberikan judgement kepada satu sisi keadaan secara radikal seperti khasnya seorang akademisi. Gentayangan tidak hanya menerobos struktur, tapi juga ruang dan waktu. Saran saya, untuk pembaca yang ingin terjun berpetualang bersama Gentayangan, satu-satunya mental yang perlu anda siapkan adalah; kepasrahan. “Kau” sering tak pisahkan mimpi dan realitas, lupa waktu sedang di mana dan menghadapi siapa.

Dina Dwi Rahayu

Penulis: pegiat isu gender dan kepemiluan, alumni Universitas Brawijaya jurusan Ilmu Pemerintahan

Share to

Topik Terkait

Santiago dan Analogi Filsafat Sederhana

by Apr 06 2026

Selama beberapa dekade, The Alchemist karya Paulo Coelho telah menempati ruang unik dalam kesadaran ...

Nyai Pondok! Konseptor SNI Bidang Pangan...

by Mar 03 2026

E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...

Broken Strings: Luka Sunyi, Kuasa Tersem...

by Feb 15 2026

Ada luka yang tidak lahir dari pukulan, tetapi dari kalimat yang diulang pelan-pelan. Broken Strings...

Pendidikan Islam Berbasis Peradaban: Akt...

by Feb 13 2026

Perkembangan teknologi digital telah menggeser makna pendidikan dari proses pembentukan manusia menj...

Rival, Cinta, dan Luka di Masa Putih Abu...

by Feb 12 2026

IPA dan IPS sering kali dipandang sebagai dua dunia yang tak pernah bisa menyatu. Yang satu dikenal ...

Jejak Kupu-Kupu di Tanah yang Terluka &#...

by Jan 30 2026

Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top