AveSticker

Jelang Lebaran, Banyak Penjual Duit Baru

Sep 09 2010917 Dilihat

Sudah menjadi lumrah bahwa lebaran identik dengan baju baru dan pemberian angpau. Moment seperti ini dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk menjual duit di beberapa tempat strategis. Seperti di pasar-pasar, perempatan, mall dan lain-lain. Anehnya orang lebih suka membeli di pingir-pinggir jalan ketimbang harus menukarkan di Bank. Mereka beranggapan menukar di pinggir jalan lebih mudah ketimbang mengantri di Bank.

Penjual uang baru menawarkan kepada pengguna jalan raya di depan pasar Wlingi Blitar

Mungkin ini sudah menjadi tradisi orang Indonesia yang senantiasa ingin mengambil gampangnya saja. Penjualan duit baru menjelang lebaran memang menjadi bisnis yang menarik dan memiliki peluang keuntungan sampai dengan 8 % setiap Rp. 100.000,- nya. Uang pecahan Rp. 2.000,- dijual dengan harga Rp. 115.000,-, RP. 5.000,- dan Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 20.000,- dipasang tarif Rp. 110.000,-. Keuntungan yang bisa diperoleh dalam setiap Rp. 100.000,- mencapai Rp. 8.000,-. Peluang bisnis ini rupanya dimanfaatkan beberapa orang untuk mengeruk keuntungan dari penjualan uang. Beberapa penjual asongan akhirnya pindah profesi menjadi penjual uang.

Monginsidi pekerjaan sehari-harinya adalah pedagang asongan di Stasiun Blitar, namun ketika menjelang lebaran, Ia senantiasa merubah pekerjaannya menajadi penjual uang. Ketika ditemui di tempat mangkalnya di depan pertokoan kota Wlingi Kabupaten Blitar ia mengatakan bahwa profesinya sebagai penjual duit itu tidak dilakoninya setiap hari. Namun dia menegaskan bahwa pekerjaan itu hanya dilakukan pada saat menjelang lebaran saja. Karena menurutnya bisnis ini lebih menjanjikan jika dibandingkan penghasilannya sebagai pedagang asongan di stasiun Blitar.

Monginsidi sedang menjajakan uang baru di depan sebuah pertokoan

Monginsidi mengaku bahwa ia mengambil uang baru dari seseorang yang memiliki rekanan dengan orang dalam Bank Indonesia. Ia mendapatkan dengan uang baru senilai Rp. 100.000,- dengan harga Rp 107.000,-. “Karena saya tidak bisa membayarnya secara tunai mas”, ungkapnya. Kalau bisa membayar secara tunai maka harganya menjadi Rp. 106.000,- setiap Rp. 100.000,-. Lantas Monginsidi menjul dengan nilai Rp. 110.000 sampai dengan Rp. 115.000,-. Orang bisa mengambil sesuai dengan nilai jaminan yang diberikan. Monginsidi sendiri harus rela menggaransikan STNK miliknya kepada rekanannya untuk menjalankan bisnis ini. Malah menurutnya ada temannya yang rela memberikan sertifikat rumahnya sebagai garansi untuk bisnis ini.

Berbeda lagi dengan Pujiono, laki-laki yang memiliki bisnis pulsa di Pasar Wlingi ini malah kebanjiran order untuk tukar duit baru. Dia mendapatkan pesanan dari para pelanggan pulsanya. Dia memiliki kesepakatan bersama dengan langganannya bahwa dia mau menyuplai uang baru dengan syarat dihargai Rp. 10.000,- setiap Rp. 100.000,- nya. Ia mengaku dalam sehari ini dia telah dimintai tolong sekitar 20 orang untuk menukar uangnya dengan yang baru. Ia mendapatkan uang baru dari rekanannya senilai Rp. 107.000,-. Dia mengaku kalau ini adalah pertamakalinya berjualan duit. Itu pun karena permintaan dari para pelanggannya. Menurut laki-laki ini orang males untuk pergi ke Bank. Karena kalau menjelang lebaran seperti ini bank-bank dan Kantor Pos penuh semua. Maka orang tidak mau repot untuk menukarkan duitnya ke bank dan memilih (membeli/menukarkan) uang kepada para penyedia jasa ini.

Entah fenomena apa ini sampai-sampai uang saja laku dijual dengan uang. Padahal Rasululah pernah mengajarkan bahwa kita boleh melakukan barter asalkan jumlah dan ukurannya haruslah sama. Menurut Prof. Dr. H. Ahmad Saiful Anam, Mag. Hukum penukaran uang dengan model seperti di atas termasuk dalam kategori riba al-fadhl , yaitu menukarkan uang dengan nilai nominal yang berbeda padahal barangnya sama.

Share to

Lahir di bumi Bung Karno Blitar. Kini terperangkap dalam hiruk pikuk Kota Malang. Belajar menulis dan komentar tentang apapun.

Topik Terkait

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

by Feb 09 2026

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (2)  

by Feb 07 2026

Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (1)  

by Feb 05 2026

Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top