AveSticker

Mendalami Ajaran Nabi Khung Ce

Apr 21 2016830 Dilihat

Judul: Nabi Khung Ce
Penulis: Dr. Junaidy Sugianto, S.H.,M.M.,M.H
Penerbit: Madani Wisma Kalimetro
Terbitan: Maret 2014
Ukuran: 14 x21; hal : i-x;1-206
ISBN: 978-602-14987
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KTD)

Pada saat hendak mengetahui dan memahami jiwa manusia, ia tidak boleh tidak mengetahui dan memahami firman dan perintah Tuhan”

Buku karangan Junaidy Sugianto ini membahas mengenai sosok yang menjadi salah satu panutan warga Khonghucu. Dengan tebal sekitar 200 halaman, buku ini mengupas biografi dan perjalanan religi yang dilakukan Khung Ce dalam menyebarkan ajaran-ajaran kebaikan. Hingga pada akhirnya banyak penganut agama Khonghucu menjadikan dan menyebutnya seorang Nabi.

Buku Nabi Khung Ce

Buku Nabi Khung Ce

Pada bab awal, buku ini membahas kronologi biografi Khung ce. Khung Ce lahir pada tahun 551 SM. Dalam perjalanan hidupnya, Khung Ce aktif mendidik setiap manusia walau hanya mendapat imbalan satu tusuk dendeng kering. Bersama murid-muridnya, Khung Ce  terus berkeliling ke setiap pelosok negeri untuk mengajar masyarakat. Ia berharap dengan hal tersebut masyarakat menjadi cerdas, memiliki keyakinan dan kepercayaan, beriman ibadah, berhati kasih dan menjalankan kebajikan. Khung Ce akhirnya wafat pada tahun 479 SM. Karena kemuliaan ajarannya itulah sehingga Khung Ce menjadi Nabi dalam Agama Khonghucu.

Sebagaimana Islam, Alquran dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat muslim. Cung Yun adalah salah satu kitab suci penganut Agama khonghucu. Kitab Cung Yun merupakan kumpulan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Khung Ce tentang keseimbangan dalam hidup. Kitab ini ditulis oleh keturunannya dari generasi kedua (cucu) yaitu Ce Se. Sehingga dapat dikatakan bahwa kitab Cung Yun masih orisinil, meski ada istilah ajaran yang telah mengalami distorsi. Buku Cung Yun merupakan buku kedua dari kitab Se Su (kitab “Empat Buku”) yang terdiri dari kitab Ta Shi’e (pendidikan tinggi tentang “iman, keyakinan, dan kepercayaan”), kitab  Cung Yun (Keseimbangan Bathin), kitab Lun I’ (petuah fatwa), dan kitab Meng Ce (Mensius).

Buku ini dengan jelas memberikan metode pendekatan untuk memahami ajaran Khun Ce. Junaidy menggunakan pendekatan hermeneutika agar dapat menyerap esensi dari ajaran Khun Ce dengan benar. Sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Zaid “Manusia mengucapkan Ujaran  dengan maksud agar makna yang ia kehendaki seperti yang terkandung dalam ujaran tersebut. Jika ujaran ini ditafsir dengan penafsiran makna yang tidak dituju pembicaranya, maka si penafsir hanya menafsirkan sebagian yang diberikan oleh kekuatan lafal, meskipun tidak mengenai sasaran yang dimaksud pembicara”. Pendekatan hermeneutika akan memberikan pendekatan makna yang diberikan oleh si penafsir, baik dari arti gramatika dan ciri-cirinya. Selain itu,  secara historis dan filosofis dapat dilakukan dalam menguji hubungan suatu teks dan sejarah teks terhadap fakta, tradisi dan social-relegius yang berlaku.

Dari hasil hermeneutika pada ajaran Khung Ce sebagaimana yang tertulis dalam kitab keseimbangan (Cung yun), pengajaran terhadap manusia dalam keseimbangan bathin merupakan tolak ukur tertinggi dalam kehidupan manusia. Sifat keseimbangan ini harus dilandasi dengan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menakdirkan nasib dan hidup manusia di muka bumi. Meski untuk bertutur dan berlaku dalam keseimbangan bathin sangatlah sulit. Maka dari itu untuk mendekati keseimbangan Bathin manusia diharapkan selalu banyak bertanya, meneliti dan menyaring kata-kata yang diucapkan orang lain. Hal tersebut menunjukkan  adanya ajaran ketuhanan yang diberikan oleh Nabi Khung ce melalui ajaran keseimbangan agar manusia selalu berbuat kebajikan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Akhirnya, secara sistematis buku ini mampu menerjemahkan ajaran kitab Chun Yun dengan baik. Yakni dengan menekankan perilaku dalam hidup manusia harus melakukan kebajikan. Mengapa? Karena jika tidak, maka akan membuat keyakinan dan kepercayaan manusia menjadi labil dan diragukan. Untuk itu sebagai manusia yang beriman seharusnya sangat menghargai kebajikan serta berpegang teguh pada keyakinan dan kepercayaan. Bila tidak jelas selalu bertanya dan belajar.

 

Sumber gambar: http://www.hatikupercaya.com/images/artikel/c/o/artikel-confucius.jpg

Share to

penulis gemar merenung, berfikir ke-ESA-an Tuhan dengan fisika.

Topik Terkait

Santiago dan Analogi Filsafat Sederhana

by Apr 06 2026

Selama beberapa dekade, The Alchemist karya Paulo Coelho telah menempati ruang unik dalam kesadaran ...

Nyai Pondok! Konseptor SNI Bidang Pangan...

by Mar 03 2026

E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...

Broken Strings: Luka Sunyi, Kuasa Tersem...

by Feb 15 2026

Ada luka yang tidak lahir dari pukulan, tetapi dari kalimat yang diulang pelan-pelan. Broken Strings...

Pendidikan Islam Berbasis Peradaban: Akt...

by Feb 13 2026

Perkembangan teknologi digital telah menggeser makna pendidikan dari proses pembentukan manusia menj...

Rival, Cinta, dan Luka di Masa Putih Abu...

by Feb 12 2026

IPA dan IPS sering kali dipandang sebagai dua dunia yang tak pernah bisa menyatu. Yang satu dikenal ...

Jejak Kupu-Kupu di Tanah yang Terluka &#...

by Jan 30 2026

Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...

Belum ada komentar.

Maaf, komentar dinonaktifkan untuk informasi ini
back to top