AveSticker

Banjir di Jalan Raya Jati Guwi Malang, Kapan Berakhir?

Sep 18 2010539 Dilihat

Sedikit hujan kurang dari satu jam saja cukup untuk menenggelamkan jalan raya antara Ngebruk dan Sumberpucung ini. Semua kendaraan harus berjalan melambat. Puncak kemacetan itu terjadi pada hari raya ke-2 hingga memacetkan lebih dari 6km sampai Desa Karangkates!

Tidak hanya di Jatiguwi. Hampir seluruh jalur utama jalan raya di negri ini masih selalu tergenang air saat hujan. Apakah ini tidak akan pernah berakhir?
Tidak hanya di Jatiguwi. Hampir seluruh jalur utama jalan raya di negri ini masih selalu tergenang air saat hujan. Apakah ini tidak akan pernah berakhir?

Padahal secara demografis jalur desa Jatiguwi bukanlah wilayah yang padat penduduk, bukan areal ramai seperti pasar, pusat pemerintahan, atau menjadi tempat ketersediaan berbagai fasilitas publik. Jalur desa Jatiguwi yang sering menjadi langganan banjir ini hanya persawahan sekitar dua kilometer dari desa Sumberpucung sebagai pusat pemerintahan kecamatan Sumberpucung dan desa Ngebruk. Akan tetapi jalan raya desa Jatiguwi  adalah jalur utama propinsi. Jalur alternatif juga sulit dibangun, karena tidak lebih dari 6km ke selatan sudah merupakan areal perpanjangan bendungan Karangkates. Sementara bagian utara adalah wilayah kaki Gunung Kawi.

Kondisi jalan raya Desa Jatiguwi pada dasarnya cukup lurus. Namun karena posisi jalan yang lebih rendah daripada aliran drenaisi di samping kanan dan kirinya, membuat semua air tumpah masuk ke jalan. Akibatnya, sedikit sentuhan air hujan sudah pasti menenggelamkan lebih dari 100meter badan jalan. Jika hujan makin lebat, sering air dari persawahan juga masuk ke jalan.

Anehnya, meski kemacetan pasti terjadi di musim hujan, pemerintah sama sekali belum merespon persoalan ini. Drenaisi di samping jalan masih dibiarkan dari tanah gundukan. Sayangnya, penulis tidak membawa kamera untuk memotret persoalan ini agar lebih fastual. Namun begitu, kebanjiran adalah bencana akut yang melanda hampir keseluruhan republik ini dan menjadi salah satu penyebab perilaku yang kontraproduktif secara ekonomi. Masihkah akan terus kita biarkan rakyat menjadi korban?

Share to

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Blitar.

Topik Terkait

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

  • Edi Purwanto says:

    negri ini banyak arsitek cangggih, kenapa masalah sanitasi air kanan kiri jalan raya saja tidak pernah bisa teratasi?
    aneh..

  • RIONO ASNAN says:

    OH…….KAPUNG KU BANJIR YO.ADUH…NG TANGERANG MALAH PARAH………..PINGIN PULNG LIAT TMPT AKU LAHIR.MERANTAU JENUH REK……KBRE GMNA A KMPNG TENGAH RW 03

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top