AveSticker

Persamaan Anies Baswedan dan Cristiano Ronaldo

Apr 25 20268 Dilihat

Menyamakan Anies Baswedan dan Cristiano Ronaldo sebenarnya bukan ide yang aneh. Yang aneh justru keyakinan bahwa dunia ini masih membutuhkan keteraturan. Padahal, jika dunia memang rasional, kita tidak akan menghabiskan begitu banyak energi membicarakan dua orang ini seolah nasib peradaban bergantung pada mereka.

Keduanya, misalnya, sama-sama sering disalahpahami ketika sedang tidak melakukan apa-apa. Ronaldo berdiri tegak sebelum tendangan bebas, lalu dituduh sombong—seakan dunia belum sepakat bahwa itu memang bagian dari mereknya. Anies berdiri tegak di podium, lalu dituduh sedang menyusun tesis—padahal bisa jadi ia hanya sedang menyiapkan anak kalimat berikutnya. Namun di era opini instan, diam bukan lagi jeda; ia adalah undangan tafsir.

Persamaan berikutnya adalah soal bahasa tubuh dan kecenderungan berbicara. Anies sejak lama dikenal berbicara dengan kalimat yang terasa seperti lorong: masuk mudah, keluar perlu peta. Menariknya, dalam dua atau tiga tahun terakhir, Ronaldo tampak mulai ketularan. Jika dulu ia cukup bicara dengan kaki dan dada, kini ia rajin muncul di podcast, wawancara panjang, dan monolog reflektif tentang hidup, kerja keras, dan dirinya sendiri. Seolah-olah setelah sekian lama mencetak gol, ia merasa dunia juga perlu mendengar versinya dalam format audio berdurasi satu jam. Yang satu sejak awal percaya pada kata-kata. Yang lain baru belakangan menyadari bahwa berbicara juga bisa menjadi selebrasi.

Mereka juga hidup di dunia statistik yang kejam dan sering kali tidak adil. Ronaldo diukur dengan gol, assist, dan selebrasi—lalu tetap dianggap menurun jika tidak mencetak sesuatu setiap akhir pekan. Anies diukur dengan survei, potongan video, dan intonasi—lalu tetap dianggap licin meski kalimatnya lengkap. Angka-angka itu kemudian dipelintir oleh orang-orang yang tidak hadir di stadion atau ruang kebijakan, tetapi merasa cukup hadir di kolom komentar.

Menariknya, baik Ronaldo maupun Anies sering dituduh tidak membumi. Ronaldo dianggap terlalu glamor untuk sekadar bermain bola. Anies dianggap terlalu melayang untuk sekadar bicara segala hal. Padahal, keduanya justru sangat membumi—hanya saja bumi versi mereka berbeda. Ronaldo berpijak di rumput stadion yang selalu dipotret dari sudut terbaik. Anies berpijak di pilihan kata yang selalu siap dipotong di bagian paling rawan disalahpahami.

Soal perpindahan peran pun mereka senada. Ronaldo pindah klub dan dunia bertanya, “kenapa?” Anies pindah nebeng partai dan dunia bertanya hal yang sama. Kini bahkan perannya mulai bersilangan: Ronaldo makin sering menjelaskan, Anies tak pernah berhenti menjelaskan. Jawaban mereka biasanya panjang, berlapis, dan tidak pernah benar-benar memuaskan—bukan karena isinya kosong, tetapi karena publik memang tidak sedang mencari jawaban. Publik mencari bahan obrolan-yang berlanjut gunjingan dan hujatan.

Dan barangkali di situlah persamaan mereka hari ini menjadi lengkap dan agak menyedihkan. Cristiano Ronaldo yang dulu bicara lewat lari dan gol, kini mulai rajin duduk, bercerita, menjelaskan dirinya sendiri di podcast, seolah dunia perlu klarifikasi tambahan atas setiap selebrasi. Sementara Anies Baswedan yang sejak awal memang percaya pada kekuatan kata, tak pernah benar-benar berhenti menambah kalimat—bahkan ketika publik sudah lelah mendengarnya.

Yang satu makin fasih merangkai narasi tentang dirinya, yang lain tak pernah merasa narasi itu cukup panjang.

Ironisnya, semakin banyak mereka bicara, semakin sedikit yang benar-benar ingin mendengar. Kita sudah hafal gaya, intonasi, bahkan jeda napasnya. Kita tahu kapan Ronaldo sedang “jujur”, dan kapan Anies sedang “mendalami”. Tapi hafal bukan berarti paham. Dan paham pun tidak selalu berarti peduli. Mereka terus berbicara, mungkin karena diam sudah tak lagi memberi panggung.

Akhirnya, Anies Baswedan dan Cristiano Ronaldo tidak kalah oleh kritik, ejekan, atau meme. Mereka kalah oleh kebutuhan untuk terus menjelaskan diri sendiri. Dan kita, sebagai penonton setia, ikut kalah dengan cara yang lebih sunyi: terus mendengarkan, terus berkomentar, sambil diam-diam berharap suatu hari mereka berhenti bicara—bukan agar dunia jadi lebih baik, tetapi agar kita punya alasan untuk kembali mengingat mereka lewat hal yang dulu membuat mereka layak dibicarakan.

Ah, Mas Anies, Mas Anies!

Share to

Makhluk Tuhan tanpa kelebihan

Topik Terkait

Santri yang Memilih Jalan Sunyi – ...

by Mar 11 2026

Terinspirasi lalu tenggelam dalam, karakter oposan novel Rahuvana Tattwa karya KH. Agus Sunyoto. Seo...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Nyai Pondok! Konseptor SNI Bidang Pangan...

by Mar 03 2026

E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...

Amitabh Bachchan: Suara, Waktu, dan Jeja...

by Jan 31 2026

Nama Amitabh Bachchan bukan sekadar milik dunia perfilman India. Ia telah menjadi bagian dari ingata...

Jejak Kupu-Kupu di Tanah yang Terluka &#...

by Jan 30 2026

Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (1) ...

by Jan 25 2026

Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim Melihat Kutai Timur ...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top