AveSticker

Menengok Makam Kyai Ageng Basyariyah

Sep 09 20105.968 Dilihat

Kiai Ageng Basyariyah atau Raden Mas Bagus Harun adalah putra dari Dugel Kesambi (Pangeran / Ki Ageng Nolojoyo), adipati Ponorogo pada akhir abad ke 17 M di bawah naungan Kerajaan Mataram.  Meski diasuh dalam keluarga ningrat, RM Bagus Harun lebih banyak menghabiskan masa mudanya untuk nyantri dan menimba ilmu kepada Kyai Ageng Muhammad Besari (Tegalsari, Ponorogo). Kepada gurunya ini, RM Bagus Harun tidak hanya belajar ilmu syariat dan tauhid, namun juga memperdalam tashawuf khususnya ajaran tarekat Naqsabandiyah,Syaththariyah dan Akmaliyah. Selama berguru kepada Kyai Ageng Muhammad Besari, RM Bagus Harun dikenal sebagai murid yang alim, cerdas dan  tawadhu’. Karena itulah, RM Bagus Harun menjadi murid kesayangannya ( santri  kinasih).

Alkisah, saat Mataram dipimpin oleh Paku Buwono II, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh RM Gerendi (yang kemudian hari dikenal dengan Pemberontakan Pacinan). Pemberontakan tersebut telah berhasil merebut tahta Mataram. Paku Buwono II beserta pengikut setianya mengungsi ke daerah timur. Di tengah pengungsian, Paku Buwono mendapat petunjuk bahwa penolongnya berada di kawasan Ponorogo. Singkat cerita, bertemulah Pakubowono II dengan Kyai Ageng Muhammad Besari dan santrinya RM Bagus Harun. Atas mandat dari gurunya, RM Bagus Harun ikut Paku Buwono II ke Kertosuro untuk membantu mengembalikan tahtanya. Dengan kesaktian linuwih yang dimiliki oleh Bagus Harun, akhirnya Paku Buwono II  dapat memperoleh kembali  tahtanya.

Atas jasanya tersebut dan setelah mengetahui bahwa RM Bagus Harun ternyata adalah putra adipati Ponorogo (yang masih memiliki garis keturunan sampai Panembahan Senopati Sutowijoyo pendiri Mataram), Paku Bowono II berencana mengangkat Bagus Harus sebagai Adipati Banten. Namun Bagus Harun menolak karena harus kembali mengabdi kepada gurunya di Ponorogo.  Sebagai gantinya, Paku Buwono II memberikan songsong (payung kerajaan) dan lampit. Songsong kerajaan merupakan simbol pemberian tanah perdikan. Belakangan Songsong tersebut berbuah tanah perdikan di kawasan Madiun yang kemudian dinamai “Sewulan” oleh Bagus Harun (Baca juga di sini).).

Bagus Harun yang kemudian lebih sering dikenal dengan Kiai Ageng Bayariyah kemudian menetap di Sewulan dan mendirikan masjid dan pesantren hingga akhir hayatnya. Makamnya berada di kompleks makam Sewulan di sebelah Barat Masjid Agung Sewulan, tepatnya di cungkup utama. Di cungkup utama tersebut, makam Kiai Ageng Basyariyah diapit oleh putrinya (Nyai Muhammad Santri) dan menantunya (Kiai Muhammad Santri). Ketiga makam tersebut di naungi kain berwanrna hijau. Tepat di depan makam Kiai Ageng Basyariyah terdapat songsong tiga tingkat berwarna hijau ( Songsong Tunggul Nogo). Songsong ini dihias dengan sepasang naga di bawahnya dan difungsikan sebagai rak sederhana untuk tempat Al Quran dan surat yasin.

Kompleks pemakaman di areal Masjid Agung Sewulan ini nampaknya menjadi pemakaman bagi bani Basyariyah. Almarhum KH Abdul Basith bin Mahfudz, Pengasuh PP Oro Oro Ombo Madiun  yang meninggal beberapa bulan yang lalu rupanya juga termasuk bani Basyariyah.( KH. Abdul Basith adalah putra Mbah Mahfudz, yang sepeda angin  pancal kesayangan beliau dimuseumkan di Museum NU Surabaya. Konon suatu ketika seorang santri Mbah Mahfudz pernah melihat Mbah Mahfudz berada di Mekkah dengan membawa sepeda tersebut.

Pemakaman “tua” yang menjadi salah satu situs wisata ziarah di Madiun ini selalu ada yang mengunjungi setiap harinya, terlebih di bulan Ramadhan. Beberapa peziarah dan warga sekitar menyakini bahwa makam ini merupakan makam yang keramat. Banyak cerita-cerita unik dan mistis dari makam ini yang jika memungkinkan akan penulis ulas pada kesempatan lain.

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  juga memiliki garis darah dengan Kiai Ageng Basyariyah.  Ulama yang negarawan dan budayawan tersebut menjadi salah satu keturunan ke tujuh dari Kiai Ageng Basyariyah. Rinciannya demikian : Gus Dur bin KH Abdul Wachid bin  Nafiqoh ( Nyai Hasyim Asy’ary) binti Nyai Ilyas binti Kiai Mustaram bin Kyai Raden Mas Ma’lum Buntoro bin  Nyai Muhammad Santri binti Kiai Ageng Basyariyah.

Menurut pangakuan Mbah Mawardi, Gus Dur semasa kecil sempat bermukim selama 3 tahun di Sewulan, bersama keluarga besar neneknya. Ketua Takmir Masjid Sewulan ini pernah mengisahkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang pandai bergaul dan suka bercanda. Beserta beberapa teman sepermainan, mereka kerap bermain-main di kolam depan Masjid Sewulan. Bahkan kerabat Gus Dur satu ini mengaku punya saksi berupa goresan kecil di pelipis. “Ini merupakan kenang-kenangan waktu dulu bermain dengan Gus Dur di kolam ini”, kenangnya sambil tersenyum.

Kiai Ageng Basyariyah merupakan salah satu ulama’ yang cukup dikenal oleh warga Madiun dan sekitarnya. Ribuan anak turunnya telah tersebar di seluruh penjuru negeri dengan berbagai profesi.  Salah satunya adalah kontributor avepress.com ini yang masih nyangkut di keturunan ke-9 dari beliau. 😀

Share to

Alumnus jurusan Matematika Universitas Brawijaya Malang. Menekuni ilmu statistik, matematik dan politik.

Topik Terkait

Kesaktian Guru Bahadur (Episode 46)

by Apr 21 2026

Produksi: Genta Buana PitalokaPemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meil...

Penjara Sukma Angling Dharma (Episode 45...

by Apr 16 2026

Produksi: Genta Buana PitalokaPemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meil...

Review Film Tunggu Aku Sukses Nanti; Leb...

by Apr 04 2026

Ada yang selalu terasa sedikit menegangkan dari ruang tamu saat Lebaran: bukan karena kursinya kuran...

Ilmu Pencuri Pikiran (Episode 44)

by Mar 05 2026

Produksi: Genta Buana PitalokaPemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meil...

Kesaktian Tanah Tamasimaya (Episode 43)

by Feb 27 2026

Produksi: Genta Buana PitalokaPemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D., Suzanna Mei...

Kesaktian Khasmala (Episode 42)

by Feb 25 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top