Judul Buku : Sejarah Daerah Batu, Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa
Penulis : Drs. M. Dwi Cahyono, M. Hum dan Tim
Penerbit : Jejak Kata Kita
Cetakan : Pertama, Januari 2011
Tebal : xvi + 210 halaman
Ukuran : 15 cm x 21 cm

Kota Batu mempunyai sejarah yang sangat panjang sebelum kondang seperti yang sekarang. Jauh sebelum dikenal sebagai Kota Wisata, daerah pemekaran dari Kabupaten Malang pada 2001 lalu itu melampaui proses dinamika peradaban yang cukup panjang.

This slideshow requires JavaScript.

Hal itu terjadi karena topografi dan keadaan tanah Kota Batu yang subur dan strategis sejak jaman prasejarah. Kota Batu merupakan bagian dari Dataran Tinggi Malang yang terbentuk dari endapan lava yang menjadi danau. Daerah Batu hingga Malang merupakan suatu cekungan dalam yang terbentuk oleh apitan gunung dan pegunungan (hal 22).

Terkait dengan dinamika sejarah Kota Batu, Dwi Cahyono dkk membagi kesejarahan Batu menjadi lima masa. Yakni, masa prasejarah, masa Hindu-Budha, Penyebaran Islam, Masa Koloial dan Masa Kemerdekaan. Masing-masing masa mempunyai landasan kuat sebagai penanda peradaban.

Dwi menandai peradaban masa prasejarah Kota Batu dengan tarikh relatif (relative dating) yang didasarkan temuan artefak. Masa prasejarah Kota Batu ditandai dengan temuan artefak jaman Neolitik dan Megalitik. Artinya, masyarakat Batu saat itu sudah menunjukkan peradaban yang maju denga cirri bercocok tanam. Pada masa itu juga ditemukan artefak Batu Dakon yang berarti sudah mengenal Pranata Mangsa atau aturan tentang musim. Selain tradisi bercocok tanam, masyarakat Batu juga sudah mengenal dimensi spiritual dengan adanya penemuan Menhir sebagai artefak pemujaan arwah nenek moyang.

Lain halnya dengan masa prasejarah, masa Hindu-Budha lebih terang benderang. Itu karena sumber data berupa teks maupun artefak yang ditemukan lebih lengkap, baik dari masa Kerajaan Kanyuruhan hingga Majapahit. Aspek budaya Batu pada masa itu dibagi menjadi tiga pokok penting, yaitu seni-keagamaan, organisasi-kemasyarakatan serta pencaharian dan peralatan hidup.

Dalam perkembangannya, pengaruh Hindu-Budha di Kota Batu semakin pudar. Posisinya digantikan oleh Agama Islam yang dibawa Abu Ghonaim yang juga dikenal dengan Mbah Batu alias Mbah Wastu. Abu Ghonaim yang merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro memang berniat mengasingkan diri di tempat baru sembari menyebarkan Islam. Dia dibantu oleh seorang muridnya yang bernama Bambang Selo Utomo atau Gadung Melati dalam berdakwah. Pada masa ini, banyak dibuka lahan pertanian oleh masyarakat pendatang.

Semakin Kondang Sejak Abad ke-18

Modernisasi Batu sebagai daerah baru mulai tumbuh dan berkembang pada 1767. Hal itu berbarengan dengan masuknya VOC dalam membuka lahan perkebunan di Batu. Di sisi lain, Perang Surapati atau Geger Suropaten turut memicu migras penduduk untuk mencari tempat domisili baru yang lebih menjanjikan. Berbagai kompleks pemukiman banyak dibangun untuk tempat kediaman meneer-meneer Belanda. Hingga kini pun beberapa bangunan masih berdiri tegak sesuai aslinya.

Kenyamanan Batu sebagai wilayah hunian dan pertanian juga berlanjut pada masa kolonial Jepang. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya peninggalan bangunan gua bekas perlindungan tentara Jepang.

Dwi dalam buku tersebut juga menyebut masyarakat Batu mempunyai karakteristik yang resisten terhadap budaya asing. Masa penjajahan yang cenderung menekan masyarakat Batu justru tidak mengakibatkan tradisi dan budaya Batu mati. Masyarakat Batu justru mengalami perkembangan dalam strukturnya, antara lain, banyak berdiri organisasi pemuda, wanita hingga militer. Aktivitas organisasi itu semua bermuara pada perlawanan dengan mengangkat senjata atas penjajahan kolonial.

Modernisasi tersebut juga menempatkan masyarakat Batu dalam pergolakan nasional mengangkat senjata. Sehari pascaproklamasi, melalui siaran radio dan dikuatkan oleh kawat telegram, masyarakat Batu berbondong-bondong melakukan perlawanan dengan melucuti senjata tentara Jepang. Masyarakat Batu juga terlibat aktif melawan Agresi Militer Belanda. Semuanya diceritakan ulang oleh Dwi dkk secara gamblang.

Melalui buku tersebut, Dwi merumuskan kemajuan masyarakat Batu bisa dipupuk dari tiga prinsip. Antara lain, prinsip produktif, lestari dan sejahtera. Ketiga prinsip tersebut dilakukan untuk mewujudkan Batu agar memiliki solidaritas organik (Organic Solidarity), yaitu kemajuan yang berlandaskan kerja keras, mencintai alam dan kemakmuran bersama. Sayang, buku ini merupakan hasil kajian akademis sehingga pembaca kurang begitu mengalir dalam meresapi nilai historis. Meski demikian, Anda layak untuk membaca buku ini.

 

3 COMMENTS

  1. Buku ini diterbitkan oleh jejak kata bersama Kantor Perpustakaan Kearsipan dan Dokumentasi Kota Batu tahun 2011…. buku selanjutnya “Akar Budaya Pertanian Di Kota Batu” tahun 2012 segera terbit kelanjutan dari buku “sejarah Kota Batu Lintas Masa”

  2. saya sudah mempunyai buku sejarah daerah batu 🙂 buku ini sangat bermanfaat untuk menyelesaikan tugas kuliah saya 🙂 terimakasih 🙂