Sejarah bukan saja disimak, dipahami, dan dimengerti, seperti pada umumnya. Oleh Foucault, sejarah dianalisis, dibongkar, bahkan ditelanjangi. Sebab baginya berfilsafat adalah mengurai sejarah gagasan, mengenali urutan-urutan, berbagai cara pengujaran yang mengungkapkan penyangkalan, yang mengatakan hal yang dapat diterima dan yang tidak dapat ditolelir.[1] Sebab itu, jika dirinya dimasukkan dalam deretan rak filsafat, ia berbeda dengan para filsuf yang lain. Karena dia berbeda, pemikirannya cenderung sulit untuk dipahami, beberapa istilah asing berkeliaran dalam buku-bukunya yang akan menyulitkan pembaca. Sering juga ia memaknai beberapa kata dengan berbeda, seperti kekuasaan, wacana, disiplin, dsb.

Nyaris sama seperti Nietzsche, karena sebenarnya ia sedang ngopi dalam sebuah warung di pinggiran jalan besar. Lalu mengamati sebuah patung di seberang jalan, setelah itu dibongkarnya dan ternyata isinya gerowong.[2] Patung yang sedang ia bongkar adalah mengenai kegilaan, kekuasaan, dan seks. Sedangkan, beberapa dari kita justru melihat patung itu sebagai sesuatu yang mempesona, sampai-sampai kita memujanya. Maka, agar kita tidak mudah tertipu oleh bayang-bayang pesona ada baiknya untuk meluangkan waktu senggang untuk menghabiskan secangkir kopi bersama Foucault.

Satu Meja dengan Foucault[3]

Tidak mungkin bila kita duduk satu meja di warung kopi bersama Foucault tanpa mengenalnya lebih dulu. Tapi, konon Foucault tidak ingin dikenal, karena baginya anonimitas itu memberi peluang pada orang untuk bereaksi secara wajar.[4] Ketakutannya adalah bila dia menyebutkan asal usulnya, maka kita akan histeris hingga mengajaknya berfoto dan selfie. Lebih baik, kita tetap mengenalnya sebagaimana pepatah “tak kenal maka tak sayang.” Sebab kita telah diajarkan oleh norma dan etika mengenai sebuah pertemuan. Bahwa mengenal adalah sebuah bentuk untuk membuka identitas masing-masing, untuk saling mengerti bahwa dia adalah teman yang harus disayangi.

Setangkai tali uang, barangkali agar raja dapat mengenali dan mengidentifikasi penduduknya, maka penduduk harus bersikap terbuka dan open minded. Namun di sisi lain, melalui pemikiran Foucault sebenarnya kita tidak diajarkan untuk menerjemahkan bahwa setiap kekuasaan berbentuk negatif-produktif. Maksudnya? Maka mari lebih dekat dengan Foucault.

Lebih Dekat dengan Foucault

Foucault dilahirkan pada 15 Oktober 1926. Ia dilahirkan di kota kuno Poiters Prancis dan diberi nama Paul-Michel Foucault. Ayahnya adalah seorang ahli bedah yang makmur bernama Paul Foucault dan ibunya bernama Anne Malapert. Ia mempunyai seorang kakak perempuan (Francaine) dan seorang adik laki-laki (Denys). Semasa kecil, Foucault adalah seorang pemeluk agama Katolik yang taat. Buktinya ia pernah menjadi anggota koor gereja. Ia juga pernah menempuh sekolah dasar di Lycee Henry IV. Ia suka dengan drama dan Film, dan cita-citanya adalah menjadi ikan emas.

Pada usia 16 tahun, Foucault mulai mempelajari filsafat dan tertarik dengan filsafat. Hal ini membuat ia bersilang pendapat dengan ayahnya pada tahun 1943. Ketika ia baru saja sebagai seorang sarjana muda. Ayahnya menginginkannya untuk menjadi seorang dokter, tapi ia berminat kuliah di ENS (Ecole Normale Superiure). Dalam perjalanan awalnya ia tidak lolos seleksi di ENS, namun pada akhirnya berkat pertolongan ayahnya ia berhasil lolos seleksi dalam bidang studi filsafat pada tahun 1946. Di ENS ia sulit bergaul karena suka menentang, kesehatannya juga tidak baik, dan sering mengalami depresi. Bahkan ia hampir bunuh diri tahun 1948 dengan minum pil.

Di Tahun 1951 Foucault diajak oleh Louis Althusser untuk masuk di Partai Komunis Perancis (PCF: parti Communiste Francais). Ia kemudian diundang untuk bekerja di jurusan studi Romawi pada Universitas Uppsala, Swedia. Akibat itu, ia banyak diundang ke banyak negara, seperti Jerman, Tunisia, Polandia dan Amerika. Ia juga terlibat dalam GIP (Groupe d’Information sur les Prison) yang bermaksud dan menyebarkan informasi tentang penjara.

Kehidupan Foucault penuh dengan lika-liku. Ia sering mabuk-mabukan, terlibat homoseksual, dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang sewaktu di Amerika. Akibatnya ia ambruk dan masuk klinik pada tanggal 2 Juni 1984. Sebelum akhirnya ia meninggal dalam usia 57 tahun, tepat pada tanggal 25 Juni 1984.

Menyelami Pemikiran Foucault

Dalam banyak pemikirannya, utamanya kebenaran dan kekuasaan. Foucault terinsipirasi oleh Nietzsche. Seperti salah satu keinginannya akan mengetahui kebenaran sebagai bentuk dari keinginan untuk kekuasaan.[5] Selain itu, pemikiran Nietzsche yang mempengaruhinya ialah bahwa tidak ada kebenaran atau pengetahuan yang final atau universal. Karena kebenaran tidak lain hanya seputar otoritas kekuasaan yang berlaku dan legitimate belaka.[6] Foucault menentang Karl Marx dalam hubungannya dengan kekuasaan. Marx yang mengatakan kekuasaan itu represif tidak dibenarkan olehnya. Menurutnya, kekuasaan itu bersifat produktif dan menormalisasikan susunan-susunan masyarakat. Sehingga kekuasaan itu tidak bisa hanya bersifat subjektif, karena kekuasaan menyebar tanpa bisa dilokalisasi dan meresap dalam seluruh jalinan perhubungan sosial.[7]

Setelah berkenalan, maka perbicangan selanjutnya adalah proses mendalami apa yang dia pikirkan. Untuk memudahkan hal tersebut, maka kita harus melacak mengenai cara dia berpikir dalam setiap gagasannya. Foucault memandang suatu masalah dengan sangat terperinci. Dalam benaknya ia memiliki kehendak untuk membongkar, bukan hanya menjawab pertanyaan “mengapa suatu masalah dapat terjadi?”

Ia menggunakan metode arkeologi dan genealogi sebagai cara untuk menelisik jalannya suatu masalah, misalnya tentang seksualitas. Melalui kedua metode tersebut ia menemukan adanya relasi antara pengetahuan dan kekuasaan yang mengitari dalam wacana tentang seks. Hingga dalam bukunya ia menemukan wacana tentang seks yang berbentuk spiral tanpa ujung dan kehadirannya terselubung, berbisik begitu lembut, dan seringkali samar-samar.[8] Ia juga mengenalkan sebuah episteme yaitu himpunan berbagai kaidah yang melandasi dan mengatur produksi wacana pada suatu masa tertentu.[9] Keterlibatan episteme ini nantinya berhubungan dengan geneaologi dan arkeologi.

Arkeologi digunakan oleh Foucault untuk mengkaji struktur yang menguasai wacana dan beraneka disiplin yang berpura-pura mengujarkan berbagai teori mengenai masyarakat,[10] tanpa bermaksud memberikan penilaian kebenaran pada obyek permasalahan.[11] Untuk dapat melacak struktur, kita harus membongkar arsip-arsip sejarah dari beragam masyarakat dan yang mempengaruhi struktur atau wacana. Agar memudahkan kita mempelajari maksud dari Arkeologi yang rumit, maka kita perlu menghubungi beberapa tokoh yang pernah memahami Foucault, seperti: Haryatmoko (dalam Majalah Basis dan Buku Etika Politik dan Kekuasaan), Gustomy (Negara Menata Ummat), Mudhoffir (Jurnal Teori Kekuasaan Michel Foucault) dan Novella (Buku Epistimologi Kiri).

Novella (merujuk Foucault), bahwa yang dimaksud mengenai arsip dalam kaitannya dengan arkeologi adalah sistem-sistem yang memantapkan statemen-statemen baik sebagai peristiwa maupun sebagai sesuatu atau material.[12] Novella memantapkan, bahwa tugas Arkeologi adalah untuk menganalisis sistem pemikiran yang menjuruskan cara mempraktikkan pengetahuan masa tertentu.[13] Sistem pemikiran disebut sebagai episteme sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Gustomy lebih membantu kita dalam mengetahui arkeologi Foucault. Arkeologi dipahami sebagai sesuatu yang berangkat dari sebuah kritik terhadap beberapa pendekatan sebelumnya (kajian struktural, behavioralis, fenomologi, dsb.). Arkeologi juga diarahkan untuk membongkar mitos kebenaran ilmu sosial yang berlaku universal. Oleh karena itu, gustomy membagi empat  pendekatan mengenai jarak arkeologi dengan pendekatan lain, yakni: Pertama, Arkeologi menekankan pada interkoneksi, keterhubungan satu sebab pada sebab yang lain bahkan juga keterputusannya. Arkeologi menghindari generalisasi kebenaran, namun hanya melihat sebuah fungsi yang bekerja pada relasi kekuasaan.

Kedua, penempatan subyek sebagai otoritas, sehingga tidak ada sebagai tokoh utama dalam peristiwa. Maka, substansi subyek adalah sebagai pengisi dalam wacana kekuasaan. Ketiga, arkeologi tidak melihat gagasan-gagasan besar seperti liberalisme, kapitalisme, fundamentalisme dan semacamnya sebagai idealitas. Keempat, arkeologi tidak mencari kebenaran dan detil sebuah realitas yang ditelitinya. Sehingga yang dicari adalah bagaimana realitas itu terbentuk dan diproduksi berulang dan berulang.[14]

Dari penjelasan tersebut dapat ditarik benang merah terhadap arkeologi sebagai metode pelacakan melalui pencarian terhadap hubungan-hubungan pada relasi kekuasan tanpa harus mencari sebuah detail kebenaran atau pembenaran. Selanjutnya genealogi berhubungan dengan arkeologi keduanya tidak saling mengasingkan. Menurut Novella keduanya lebih seperti ombak yang berkejaran kemudian pecah di pantai. Bahkan menurut Flynn (dalam Novella) genealogi adalah apa yang telah menjadi pembicaraan dalam arkeologi.[15]

Mudhoffir menyebutkan bila dalam arkeologi yang menjadi perhatian utama adalah penyelelidikan yang tersasar pada ide, pengetahuan, dan aspek kesadaran manusia. Maka, perhatian pokok penyelidikan genealogi terletak pada tubuh individu, yang efek-efek teknologi kekuasaan itu dapat diketahui maka perhatian pokok penyelidikan genealogi tertuju pada tubuh individu, yang efek-efek teknologi kekuasaan itu dapat diketahui.[16]

Gustomy menegaskan bahwa pendekatan genealogi yang dimaksud oleh Foucault menekankan pada elaborasi singularitas peristiwa dan proses, namun menolak memberlakukan teori secara suprahistoris dan universal tentang titik puncak ideal pada lintasan sejarah. Jadi, benar bahwa jika dianalogikan arkeologi ibarat batu bata yang menjadi dasar sebuah bangunan, sedangkan genealogi merupakan semen yang mengelem dan merangkai menjadi sebuah tatanan tertentu hingga kokoh.[17]

(Selanjutnya di seri II)

*Tulisan ini digunakan sebagai bahan materi diskusi Kelompok Studi Epistemik

[1] Michel Foucault, Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan, Jakarta, Gramedia, 2000. Hlm. x-xi

[2] Ibid., xi

[3] Biografi Michael Foucault dirujuk oleh penulis melalui buku epistiomologi kiri. Buku epistimologi kiri mengambil biografi Foucault dari Chris Horrocks dan Zoran Jevtic. Novella Parchiano, Sejarah Pengetahuan Michel Foucault, dalam: Listiyono Susanto, Epistimologi Kiri, Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2012.

[4] Haryatmoko, Kekuasaan Melahirkan Anti-kekuasaan, Basis Edisi Konfrontasi Foucault & Marx, edisi No 01-02 Januari-Februari, Jogjakarta, 2002 hlm. 7

[5] Ibid., hlm. 9

[6] Abdil Mughis Mudhofir, Teori Kekuasaan Michel Foucault: Tantangan Bagi Sosiologi Politik, Jurnal Masyarakat Vol.18, No 1, Januari 2013, Hlm. 82

[7] Haryatmoko, Op.,cit, Hlm. 6

[8] Foucault, op.,cit, Hlm. 40

[9] Ibid., hlm. xiii

[10] Ibid.,

[11] Rachmad Gustomy, Negara Menata Ummat, Jogjakarta, PolGov, 2010. hlm. 32

[12] Yang dimaksudkan dalam peristiwa yaitu kondisi dan wilayah kemunculannya dan material sebagai kemungkinan dan bidang penerapannya (lihat epistiomologi kiri, op.,cit) hlm. 165

[13] Ibid., 166

[14] Gustomy, op.,cit, 32-34

[15] Novella, op.,cit,165

[16] Mudhoffir, op.,cit, hlm. 84

[17] Gustomy, op.,cit, 34

3 COMMENTS