Judul: Bajrangi Bhaijaan

Sutradara: Kabir Khan

Pemain: Salman Khan, Harshaali Malhotra, Kareena Kapoor, Nawazuddin Siddiqui

Produksi: Salman Khan Films dan Kabir Khan Films

Tahun: 2015

Sebagaimana film-film terdahulunya, Salman Khan nampak bersemangat menyisipkan pesan moral. Jai Ho, menyiratkan pesan tolong-menolong yang dilakukan layaknya pola MLM, Kick menggambarkan sensasi dalam diri yang mengiringi upaya berbagi. Kini, sebagai produser sekaligus aktor, ia menyampaikan pesan cinta dan perdamaian.

Pawan Kumar Chaturvedi (Salman Khan) adalah seorang pemuda Bajrang Bali (sebutan bagi pemuja Dewa Hanoman) yang sejak kecil tak pandai dan tak berbakat. Ayahnya seorang guru sekaligus pengawas sekolah, mendidiknya dengan penuh cinta. Cinta khas seorang pendidik, menyelami minat dan kemampuan anaknya. Sayang, Pawan tak pandai dalam semua mata pelajaran, juga tak mahir berolah raga. Belajar gulat merasa geli, ujian akhir kuliah pun gagal 10 kali.

Banyak saran dari teman-temannya untuk curang dalam menjalani ujian. Tapi ia seorang Brajangbali yang taat, ia tak pernah ingkar janji. “Aku boleh gagal tapi tak akan pernah berbohong,” begitu katanya. Ia akhirnya lulus pada ujian yang ke 11. Terlalu senang dan terkejut, ayahnya terkena serangan jantung yang berujung pada kematian. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan agar Pawan pergi ke Delhi untuk menemui kawan lamanya yang bernama Dayanand (Sharat Saxena), dengan harapan dapat membantunya mencari pekerjaan.

Selain tak berbakat, Pawan juga “gila”, ia memacari Rasika (Kareena Kapoor), anak Dayanand. Tak pelak, Dayanand marah, tapi kemarahannya tak sebesar cinta pada anaknya. Ia akhirnya memberikan syarat yang cukup berat bagi Pawan. Hubungan mereka akan direstui manakala Pawan mampu membeli sebuah rumah dalam waktu 6 bulan.

Jauh di Pakistan, seorang ibu (Meher Vij) yang sedang hamil berencana menggunakan kata “Syahid” sebagai nama anaknya, diambil dari nama atlet tim nasional cricket yang diidolakannya. Karena yang lahir adalah anak perempuan, maka ia dinamai Syahida. Syahida (Harshaali Malhotra) tumbuh menjadi anak yang cantik jelita dan periang. Sayang, ia tunawicara.

Berbekal harapan hidup normal, Syahida dan ibunya pergi ke India. Di tengah perjalanan, kereta api yang mereka tumpangi berhenti karena sebuah kerusakan. Semua penumpang kereta tertidur kecuali Syahida. Ia yang sehari-hari merawat kambing merasa iba melihat anak kambing terperosok di sebuah kubangan. Diam-diam ia keluar dari kereta untuk menolong anak kambing itu. Nahas, tiba-tiba kereta berjalan. Ibunya masih tertidur lelap di dalam kereta sementara Syahida tertinggal bersama kambing yang ditolongnya.

Pada scene ini cerita memilukan dimulai. Syahida berteriak sekuat tenaga tanpa suara. Ia hanya bisa berjalan mondar-mandir mencari sang ibu. Meski banyak orang, tak ada yang mengetahui keadaannya, tak ada yang peduli kesedihannya. Dalam kesedihan dan kelaparan, Syahida ditraktir makan oleh Pawan. Hanya Pawan yang baik padanya, tak ada pilihan lain selain mengikuti langkah Pawan.

Pawan membawa Syahida ke Kantor Polisi, berharap pertolongan dari sana. Tak mau kerepotan, polisi pun menolaknya. Akhirnya, Pawan membawanya pulang ke Rumah Dayanand. Kehadiran Syahida yang berbeda budaya, agama dan kebangsaan, memicu konflik antara Pawan dan calon mertuanya.

Atas tekanan dari calon mertuanya, Pawan nekat mencari orang tua Syahida di Pakistan. Tanpa Paspor dan Visa, mereka menerobos perbatasan negara. Setelah berhasil menerobos, masalah demi masalah mendera. Perseteruan antara India dan Pakistan semakin memanas tatkala Pawan dicurigai menyerobot perbatasan sebagai seorang mata-mata. Atas bantuan Chand Nawab (Nawazuddin Siddiqui), seorang wartawan bodrek, Pawan akhirnya berhasil mempertemukan Syahida dengan orang tuanya dan meredakan ketegangan antara India dan Pakistan.

Satu hal yang sepele namun layak diperbincangkan, Salman Khan yang berbadan kekar tak tampil sejantan peranannya di di film-film terdahulu. Ia justru berakting polos, konyol dan tak berkekuatan fisik. Tak ada satu pun scene yang menampilkan kemenangannya dalam pertarungan. Nawazuddin Ziddiqui juga patut diapresiasi, ia tak tampil dalam keseluruhan film, namun aksinya sebagai wartawan bodrek sangat menentukan jalannya cerita film. Kareena Kapoor, meski semua orang tahu bahwa ia adalah aktris hebat di Bollywood, bagi saya ia hanya sebagai pelengkap cerita, agar ada yang “sedap dipandang”. Tanpanya, alur cerita tak akan terganggu. Terakhir, Harshaali Malhotra, dialah sang super star dalam film ini. Tanpa berkata, penonton dibuatnya menangis, tertawa dan gemas menonton wajah lucunya.

Cinta Tak Kenal Batas Identitas

Beck (2006) dalam bukunya The Cosmopolitan Vision, menyatakan bahwa manusia memiliki orientasi kemanusiaan yang lintas identitas. Dan cinta termasuk dalam orientasi kemanusiaan sebagaimana ungkapan Beck tersebut. Kabir Khan memberikan ilustrasi cinta yang tak mengenal batas negara, agama, usia dan batasan-batasan lainnya. Ada cinta dalam diri pemuda Hidu dari India terhadap gadis berusia 6 tahun, berkebangsaan Pakistan, beragama Islam dan tunawicara. Mengesampingkan cinta untuk mengutamakan primordialisme adalah pengingkaran terhadap kemanusiaan.

Tak melulu soal cintanya lawan jenis, film ini mengemas pesan cinta dan perdamaian dalam potret identitas-identitas yang saling berlawanan, India dan Pakistan, Islam dan Hindu, remaja dan anak-anak. Komedi satire, drama romantis yang menegangkan sekaligus mengharukan telah sukses memikat hati penggemar film India. Menonton film ini, anda akan dibawa menuju suasana jatuh cinta, menangis dan tertawa di waktu yang sama.

3 COMMENTS

  1. […] Film ini disadur dari Novel Great Expectations karya Charles Dicken. Sebelumnya, novel tersebut pernah difilmkan beberapa kali, yang terakhir difilmkan dengan judul yang sama dan dibintangi oleh Jermy Irvine. Selain itu, Fitoor juga mengedepankan keindahan Kashmir yang berada di perbatasan India-Pakistan. […]