Sebagai bagian integral dari sebuah proses sosial, seorang aktivis pergerakan tak ubahnya dengan elemen sosial lainnya, yang juga diperhadapkan dengan berbagai permasalahan hidup. Sebagai manusia normal yang memiliki keluarga, kebutuhan sosial ekonomi dan kehidupan “manusia wajar”lainnya, haruslah menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi selain tanggung jawab mulianya sebagai seorang aktivis. Dalam memenuhinya, tak jarang seorang penjaga moral masyarakat ini harus bergelut dalam rangka harmonisasi.

Pergulatan panjang harmonisasi antara kedua tanggung jawab tersebut, penulis rumuskan menjadi menjadi istilah sederhana dan “pasaran” menjadi “antara tempur dan nempur”. “Nempur” atau membeli beras untuk dimasak dan disantap oleh keluarga merupakan istilah yang lazim digunakan oleh masyarakat Jawa Timur Kulonan yang bernuansa “Mataraman” Seperti Kediri, Nganjuk, Madiun dan sekitarnya. Istilah ini digunakan untuk mewakili “kebutuhan dapur” yang harus senantiasa dipenuhi guna menjamin stabilitas kehidupan keluarga. “Di tengah-tengah perjuangannya untuk ber”tempur” menghadapi ketidak adilan serta berbagai bentuk ketidak benaran dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang menyita banyak tenaga, pikiran dan waktu, seorang aktivis masih harus berfikir bagaimana ia bisa “nempur” sehingga “dandang keluarga tidak ngguling”.

Harmonisasi diantara keduanya merupakan pergulatan panjang seorang aktivis dari waktu ke waktu. Walau tak jarang yang mengalami keberhasilan dalam proses harmonisasi, kegagalan yang memalukan juga banyak dialami oleh para aktivis. Mulai dari inkonsistensi, pengkhianatan hingga “pelacuran pergerakan” menjadi kisah panjang dan bahan obrolan dari kehidupan para aktivis.

Akibatnya, tak sedikit aktivis atau lembaga swadaya masyarakat secara kelembagaan harus menjadi bahan hujatan, karena dibalik “pertempuran” yang dilakukan ternyata terkandung maksud memenuhi kebutuhan “nempur” alias mencukupi kehidupan ekonomi keluarga. Tak lacur, sebagian masyarakat atau pemangku kepentingan di negeri ini menjadi apriori atau apatis terhadap keberadaan aktivis maupun lembaga swadaya masyarakat, apapun bentuknya.

Kondisi ini membuat banyak pribadi yang ingin berperan dalam dunia sosial kemasyarakatan enggan untuk beraktivitas atau mendirikan lembaga swadaya masyarakat hanya karena tidak ingin “dicap gerandong” (sejenis makhluk pengisap darah dalam film fiksi Misteri dari Gunung Merapi). “Saya senang sih kegiatan sosial, tapi gak lah kalau disuruh mendirikan LSM atau diajak masuk LSM, nanti saya dianggap tukang “nggolek-nggolek”. ungkap Nardi yang konsen terhadap kegiatan kemasyarakatan namun enggan “ber-LSM”.

Ironis memang, “dunia kepahlawanan sosial” yang menjadi benteng moral terhadap berbagai bentuk pelanggaran sosial kemasyarakatan harus ternodai oleh berbagai bentuk pelacuran dan perselingkuhan sosial hanya demi rupiah. Naasnya, uang hasil “dosa sosial” itu harus digunakan oleh sebagian oknum pribadi yang mengaku dirinya aktivis untuk “menghidupi keluarga” yang notabene merupakan generasi penerus bagi perbaikan negeri ini.

Pergulatan Panjang

Terlepas dari hal negatif yang muncul sebagai akibat dari ketidakmampuan mengharmoniskan dua tanggung jawab secara proporsional, “nempur” merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang aktivis, di sepanjang sejarah pertempurannya melawan ketidak adilan dan ketidakbenaran. Upaya pemenuhan kebutuhan sehari-hari merupakan tanggung jawab yang tak kalah pentingnya dibanding tanggung jawab sosial yang dihadapi.

Lalu bagaimana agar terhindar dari berbagai bentuk perselingkuhan dan pelacuran sosial dalam perjuangan? Menyitir ucapan mbah Qosim (Alm), penggerak aktivis di Kota Kecil Pare, seorang aktivis harus mampu menemukan jalan keluar untuk dapat “nempur” tanpa menodai semangat pertempuran yang dimiliki. Solusi “nempur” yang ditempuh hendaknya tidak diletakkan pada proses per”tempur”an yang harus dihadapi.

Dengan kata lain, janganlah kebenaran dan nilai-nilai luhur yang diperjuangkan harus dikorbankan dalam per”tempur”an hanya untuk “nempur”. Janganlah kebenaran diperjual belikan dan irama perjuangan harus mengalami perlambatan bahkan dihentikan secara mendadak hanya karena sejumlah rupiah. Atau bahkan janganlah “bertempur” dengan mengangkat panji-panji kebenaran yang faktual hanya untuk ”nempur”.

Untuk dapat terhindar dari kondisi yang menyebabkan gerakan sosial maupun aktivitas perlawanan kandas di tengah perjuangan, tidak ada jalan lain bagi seorang aktivis untuk berusaha menemukan jalan keluar bagi pemenuhan kebutuhan dapurnya dengan jalan yang “wajar” tanpa harus mengganggu bahkan menggunakan “pergerakan” sebagai sarana pemenuhannya.

Kondisi ini dapat dicapai dengan “keiklasan” sang aktivis “berpeluh keringat” bekerja sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat lainnya. Berdagang, bertani, mengajar atau bidang kerja lainnya. Kalaupun ingin tidak jauh-jauh dari dunia pemberdayaan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, program-program atau proyek-proyek pendampingan yang menyediakan dana pendampingan bagi pendamping, dapat juga menjadi alternatif bagi pemenuhan kebutuhan “nempur”.

Dan yang terpenting, dibalik semua solusi yang muncul dalam rangka harmonisasi antara nempur dan tempur, keiklasan seorang aktivis untuk “hidup” sederhana juga diperlukan. Keiklasan untuk tidak punya apa-apa merupakan semangat yang tak kalah pentingnya untuk menghadapi godaan penyimpangan. Tanpa adanya semangat ini, seorang aktivis akan terjebak dalam pola hidup hedonisme yang secara perlahan namun pasti akan menyeretnya ke lembah pelacuran sosial kemasyarakatan.

Semangat harmonisasi ini hendaknya senantiasa menjadi bagian terpenting dalam kehidupan seorang aktivis dalam pergulatan panjang kehidupan sosial kemasyarakatan yang kian hari kian terjal seiring dengan semakin merebaknya neoliberalisme yang menghadirkan konsumerisme dan hedonisme dalam berbagai aspek kehidupan. Selamat berjuang, kiranya kita dikuatkan untuk bertahan bahkan menang dalam pergulatan panjang harmonisasi antara tempur dan nempur!!!

*Coretan sederhana dan singkat ini kupersembahkan untuk Alm. Mbah Qosim (Mohammad Qosim Sholeh) yang telah menjadi motor pergerakan di Pare, Kediri dan sekitarnya dan yang telah mengajariku bagaimana mengharmoniskan “tempur dan nempur” dan juga kepada para pejuang kemasyarakatan yang terus berjuang mengharmoniskan antara “tempur dan nempur” sehingga perjuangan advokasinya tidak ternodai.