AveSticker

Sandal Jepit Sisian Trend Baru

Sep 13 20103.317 Dilihat

Sandal anti maling sekaligus anti sisian

Bagaimanapun baik dan mahalnya harga sandal, tempatnya pasti di bawah. Sehari-hari barang ini hanya diinjak-injak karena hanya difungsikan sebagai alas kaki. Namun betapa pun tidak pentingnya sandal toh penampilan tidak akan lengkap tanpa barang yang satu ini.

Sandal jepit yang normal

Awalnya sandal jepit atau sering disebut sebagai sandal Jepang adalah sandal yang terbuat dari karet. Tali sandal biasanya berupa tali karet berbentuk huruf “V” yang menghubungkan antara bagian depan dan belakang sandal. Bagian atasnya tidak ada penutupnya sedangkan bagian bawahnya pun tidak ada haknya.

Sandal adalah alas kaki yang sudah dikenal manusia sejak zaman Mesir Kuno. Di zaman kuno, orang India, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang juga sudah mengenakan sandal. Sandal jepit di Amerika Serikat disebut flip-flops, thongs, atau beach sandals. Beberapa negara memiliki istilah sendiri-sendiri untuk menamai sandal jepit ini. Konon menurut cerita, sandal jepit di Amerika ini adalah oleh-oleh dari Jepang prajurit AS Seusai Perang Dunia II.

Sandal sisian yang biasa kita temukan di rumah kos dan pesantren

Sandal jepit merupakan trend memang. Buktinya sandal ini masih laku hingga sekarang. Peminatnya pun sangat beragam. Mulai dari pejabat kelas tinggi hingga para gembel pun juga menggunakan sandal jepit ini. Biasanya para pejabat hanya menggunakan sandal jepit untuk hal-hal yang tidak resmi. Sementara kelas bawah menggunakan sandal jepit dalam berbagai momen baik resmi maupun tidak.

Selain sandal jepit ada sandal bakiak atau klompen. Sandal ini barangkali adalah yang paling unik, karena dibuat dari kayu. Sandal ini sejak dulu sudah populer di negara-negara Eropa, seperti Belanda, Belgium, Denmark dan Sweden. Yang asli memang di depannya tertutup. Hanya saja dipengaruhi oleh budaya Cina dan Jepang, sehingga kemungkinan besar bakiak Indonesia agar mudah dibuat bagian depannya tidak tertutup tetapi terbuka.

Sandal bakiak dari kayu

Bakiak Indonesia sama dengan bakiak Eropa memang diperuntukkan untuk kelas bawah. Bakiak ala Indonesia, dibuat dari kayu ringan dan diberi tali dari bekas ban untuk tempat jari kaki. Sederhana dan murah sekali. Biasanya kita sering mendapatkan sandal ini di pedesaan dan di pondok pesantren, atau di tempat lain. Namun sekarang peminat sandal ini lebih banyak kita mendapatkannya pada para santri di pesantren.

****

Biasanya kita mendapatkan sandal dalam bentuk berpasangan yaitu kanan dan kiri. Pasangan kanan dan kiri itu kita temukan dengan jenis dan warna yang sama. Orang akan sangat malu jika bepergian dengan menggunakan sandal yang tidak sesuai (sandal sisian). Karena orang beranggapan orang yangmemakai sandal ini sedang nglindur. Inilah ptologi sosial yang disematkan kepada orang yang berperilaku menyimpang. Sampai-sampai sandal yang berbeda pun dianggap sebagai patologi.

Namun patologi sosial di atas tidak ditemukan di rumah kos ataupun di pondok pesantren. Tempat di mana antara batas personal dan publik mulai bias. Atau barangkali kebiasaan ghasab (meminjam tapi tidak bilang dengan yang punya) yang biasa dilakukan para santri dan penghuni kos-kosan. Mereka sudah tidak lagi mempermasalahkan warna dan jenis sandal. Mereka hanya membutuhkan nilai pakai bukan nilai intrinsik sandal. Bagi mereka sandal sisian tidak menjadi persoalan. Bagi mereka tidak memakai sandal itulah yang menjadi persoalan.

Sandal sisian ini justru dibidik oleh produsen sandal sebagai peluang bisnis yang menarik. Dengan sentuhan produsen, sandal sisian sekarang malah menjadi trend tersendiri. Para penjual sandal sisian beda warna akhir-akhir ini mengambil banyak keuntungan. Konsumen sandal pun kini malah senang dengan sandal sisian.

Rupanya masyarakat kelas bawah mulai menyadari bahwa berbeda warna itu indah dan bukan lagi sebagai patologi sosial. Semoga sandal yang berbeda warna ini juga mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat tentang kebaeragaman agama, suku, ras, bangsa merupakan pernak-pernik yang indah untuk dilihat dan dijalankan. Semoga.

Share to

Lahir di bumi Bung Karno Blitar. Kini terperangkap dalam hiruk pikuk Kota Malang. Belajar menulis dan komentar tentang apapun.

Topik Terkait

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top