Cak Tabah • Feb 07 2026 • 122 Dilihat

Belakangan ini, selain angka IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang rontok, lini masa kita banyak diisi dengan perbincangan tentang angka pernikahan yang terus menurun dari tahun ke tahun. Apalagi yang memantik keramian tersebut adalah salah satu anggota DPR sekaligus figur yang pernah “diidamkan” banyak anak muda melalui keromantisan rumah tangga. Ya, itu adalah Atalia Praratya, mantan istri politisi Golkar Ridwan Kamil.
Dalam satu dekade ini, data yang disuguhkan BPS (Badan Pusat Statistik) cukup membuat kita mengerutkan kening. Tercatat tahun 2015 angka pernikahan mencapai 2,1 Juta dan pada 2025 hanya mencapai 1,4 juta pernikahan, terjadi penurunan sekitar 30%. Tentunya akan menjadi naif jika angka-angka tersebut hanya dibaca secara statistik.
Secara sosiologis, penurunan tersebut bukan sekadar “tren malas menikah”, tetapi merupakan bentuk deklarasi atas perubahan tektonik dalam struktur sosial kita. Penurunan angka pernikahan tidak dipahami sebagai “krisis moral individu”. Melainkan salah satu konsekuensi perubahan struktur. Artinya, yang berubah bukan sekadar “orangnya” tetapi kondisi sosial yang membingkai pilihan hidup.
Jika dahulu pernikahan dianggap sebagai jalan sakral kedewasaan, menuju kemapanan, status sosial, dan sumber legitimasi hidup. Sebuah gerbang “ibadah” yang wajib ditunaikan dalam kehidupan sosial. Kini, realitas tersebut telah bertransformasi menjadi kalkulasi yang dingin penuh pertimbangan dan refleksi. Dibalik angka yang turun, sepinya balai, dan EO pernikahan tersimpan narasi tentang resistensi, kecemasan kelas, dan definisi baru tentang “kebahagiaan”.
Membaca penurunan angka pernikahan, tentunya kita akan bertanya-tanya. Mengapa generasi sekarang banyak memunda atau bahkan melupakan janji suci di depan penghulu? Menjawab kegusaran tersebut, tentunya banyak realitas sosial yang bisa menjadi jawaban. Mulai dari kondisi ekonomi dan kesiapan finansial, perubahan prioritas generasi sekarang, hingga terjadinya perubahan pola sosial dan budaya. Dari kesemunya itu, kita bisa melihat bahwa struktur sosial yang ada sekarang bisa disebut “tidak ramah” terhadap institusi keluarga dan menciptakan kecemasan eksistensial. Dalam konteks ini, individu bukanlah subjek yang malas, melainkan korban dari sistem yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Era sekarang ini, kita menyaksikan fenomena The Great Delay . Ditengah kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja, susahnya mencari pekerjaan, upah yang jalan ditempat, dan harga perumahan yang kian “tidak masuk akal”, menjadikan pernikahan tidak dipandang sebagai “perjuangan dari nol” melainkan “deklarasi kemapuan”. Terdapat standar tak tertulis yang berbunyi “belum punya rumah, belum memiliki kendaraan, dan belum mapan dan stabil secara finansial”, maka menikah adalah tindakan “bodoh dan ceroboh”. Sehingga, menunda pernikahan menjadi respon rasional atas penutupan tersebut. Tanpa adanya jaminan ekonomi yang stabil, individu secara rasional menghindari komitmen jangka panjang seperti pernikahan. Pernikahan tidak lagi bernilai kemitraan spiritual tetapi terkomodifikasi menjadi simbol kesuksesan materi.
Secara demografis, hari ini kita juga menyaksikan fenomena jebakan Sandwich Generation . Struktur keluarga di Indonesia yang masih bersifat kolektif tanpa diimbangi dengan jaminan sosial negara yang memadahi. Kondisi ini menjadikan generasi sekarang tercapai antara kewajiban membiayai orang tua dan keinginan membangun masa depan. Bagi mereka, menambah beban satu kepala lagi (apalagi anak) di atas bahu yang sudah mulai rapuh adalah sebuah bunuh diri finansial. Dalam struktur seperti ini, pernikahan menjadikan generasi sekarang memikul beban “ beban ganda ”. Secara matematis, struktur ini menciptakan kebuntuan alokasi pendapatan, dimana membentuk keluarga baru dianggap akan meruntuhkan ketahanan keluarga lama yang sedang disokong.
Melesatnya pencapaian pendidikan dan karir perempuan saat ini, telah mengubah struktur pada posisi perempuan. Realitas tersebut menjadikan perempuan tidak lagi memandang pernikahan sebagai “asuransi hari tua”. Bukan satu-satunya jalan terakhir menaikkan status sosial dan mendapatkan legitimasi sosial. Namun, kini perempuan memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri. Ketika struktur lama masih bertahan dan menawarkan model pernikahan patriarki, maka “menjomblo” adalah pilihan yang rasional. Secara sosiologis, realitas tersebut memunculkan kecenderungan pasangan perempuan mancari yang memiliki tingkat pendidikan dan ekonomi yang setara atau bahkan lebih tinggi.
Perubahan struktur posisi perempuan telah menciptakan “krisis pasangan layak”. Perempuan yang sudah teredukasi dan memiliki kesadaran gender cenderung memiliki standar tinggi. Bukan sekedar soal materi, tapi soal kesadaran pembagian peran. Ketika struktur sosial laki-laki belum mampu menyeimbangkan perubahan kecepatan berpikir perempuan, terjadilah kemacetan di “pasar” pernikahan.
Fenomena penurunan angka pernikahan bukan semata soal ketakutan komitmen, namun wujud sunyi dari ilusi kemapuan yang semakin hari semakin menekan generasi sekarang. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai “ibadah” sosiologis atau siklus hidup semata. Namun telah bertransformasi menjadi sebuah komoditas yang mahal dan sulit direalisasikan bagi mereka yang tidak lulus kualifikasi.
Dahulu, kemapuan dilihat dan diukur dari kemampuan kepala keluarga memberi sandang, papan, dan pangan. Saat ini, kemapanan telah terkomodifikasi oleh industri media sosial. Menikah tidak lagi dianggap sah secara sosial jika tidak dibarengi dengan atribut material tertentu, penerimaan yang estetis , hunian di klaster tertentu, hingga gaya hidup traveling .
Individu merasa “belum mapan” bukan karena mereka miskin, tetapi karena mereka belum mampu membeli simbol-simbol kemapanan yang dikonstruksikan oleh pasar. Inilah ilusi, kita mengejar garis finis yang terus digerakkan oleh algoritma iklan.
Selain itu, jargon dahulu “mulai dari nol” dalam mengawali pernikahan pun telah bergeser. Jargon tersebut sebagai narasi untuk membangun bersama dari awal, mencicil bersama, kini berubah menjadi “keluarga siap pakai”. Perubahan jargon tersebut memberikan penekanan “keharusan” bagi pasangan yang akan mengikat komitmen jangka panjang harus sudah memiliki segalanya (rumah, mobil, dan tabungan).
Ilusi kemapuan tersebut diperparah dengan fenomena peningkatan pendapatan tidak menjadikan seseorang menjadi lebih kaya. Setiap kenaikan pendapatan, juga diikuti dengan peningkatan gaya hidup. Misalnya dari warung kopi ke kafe, dari motor ke mobil. Generasi sekarang seringkali merasa tidak cukup mapan untuk menikah karena sebagian besar pendapatan mereka habis untuk membiayai penampilan kemapanan itu sendiri demi tetap relevan di lingkaran sosialnya. Mereka terjebak dalam ” treadmill hedonik “, berlari kencang secara finansial, namun tetap di tempat yang sama dalam hal kesiapan mental dan modal untuk menikah.
Fenomena terjadi generasi sekarang dari gerbang pelaminan dan janji komitmen jangka panjang didepan penghulu, dipercepat dengan hadirnya berbagai platform hiburan dan teknologi “teman ngobrol” dalam genggaman. Realitas ini menampilkan pada kita sebuah substitusi sosial yang masif. Dimana beban struktur yang berat di dunia nyata, dicarikan pemulihannya melalui ruang digital yang ringan dan tanpa risiko.
Dahulu, menikah dan hidup bersama pasangan adalah solusi utama atas kesepian, validasi sosial dan emosional, serta ruang pelepas stres. Kini, fungsi tersebut telah terenggut dengan kebedaan algoritma platform digital. Kehadiran flatfom hiburan digital seperti pertemanan, hingga asistem AI telah menawarkan simulasi intimasi yang instan dan tanpa risiko. Ditengah kelelahan sosiologis akibat perubahan struktur, mengejar ilusi kemapuan, generasi sekarang lebih memilih berinvestasi pada top-up hiburan atau platform berlangganan digital daripada mengumpulkan energi untuk negosiasi yang rumit dalam sebuah rumah tangga yang penuh konflik.
“Kesepian” yang dahulu dirasakan kini tidak lagi menjadi masalah dalam kehidupan. Meskipun tidak menjadi solusi menyelesaikan masalah, platform digital menawarkan “penundaan” atas rasa tersebut. Melalui berbagai platform tersebut, kesepian dapat ditahan sementara. Akibatnya, dorongan eksistensial untuk menikah menjadi melemah.
Digitalisasi ini menawarkan prinsip rendah risiko-komitmen rendah . Secara instingtif, manusia menghindari risiko. Jika kebutuhan emosional dan validasi diri dapat dipenuhi melalui kuota internet, maka urgensi untuk memikul beban berat institusi pernikahan yang kaku akan melemah. Pernikahan kini harus bersaing dengan ekosistem digital yang menawarkan kehangatan palsu namun murah dan mudah diputuskan kapan saja tanpa perlu sidang perceraian.
Di sebuah ruang guru yang tenang, Pak Ahmad menatap layar tabletnya. Sebagai seorang pengawas pendid...
Futsal Indonesia hari ini bergerak seperti seseorang yang mulai mengenali bayangannya sendiri. Ia be...
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pesantren tidak lagi cukup hanya bertahan dengan tradisi la...
Perkembangan Generative Artificial Intelligence (GenAI) menandai sebuah fase baru dalam sejarah pera...
Drama China banyak mendapatkan banyak penonton di Indonesia, fenomena ini berangkat dari kemudahan a...
Pagi itu, Rabu 30 Juni 2010, jam digital di atas jarum speedometer Fitri menunjukkan angka 03:15. Me...

Belum ada komentar.