Aviq Aviq • Feb 04 2026 • 83 Dilihat

Perkembangan Generative Artificial Intelligence (GenAI) menandai sebuah fase baru dalam sejarah peradaban manusia, terutama dalam cara pengetahuan diproduksi dan disebarkan. Dalam hitungan detik, seseorang dapat memperoleh jawaban atas pertanyaan yang dahulu memerlukan bertahun-tahun belajar. Fenomena ini juga merambah wilayah keilmuan agama Islam. Kitab-kitab klasik dapat diringkas, dalil dapat dicari secara instan, bahkan jawaban bernuansa “fatwa” dapat dihasilkan oleh mesin. Di tengah kemudahan ini, muncul pertanyaan yang tampak sederhana namun sesungguhnya sangat mendasar: masih relevankah sanad keilmuan agama ala Ahlussunah wal Jamaah di era GenAI?
Dalam tradisi Ahlussunah wal Jamaah, ilmu agama tidak pernah dipahami sebagai sekadar kumpulan informasi. Ilmu adalah warisan yang hidup, berpindah dari hati ke hati melalui perjumpaan guru dan murid. Sanad menjadi penanda bahwa pengetahuan tersebut tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari mata rantai ulama yang menjaga kemurnian pemahaman, metodologi, dan adab. Ketika seseorang belajar fikih, tafsir, atau hadis, yang diwariskan bukan hanya teks, tetapi juga cara berpikir, kehati-hatian dalam mengambil kesimpulan, serta rasa tanggung jawab di hadapan Allah dan umat.
GenAI bekerja dengan logika yang sama sekali berbeda. Ia tidak mengenal guru dan murid, tidak mengalami proses talaqqi, dan tidak memiliki kesadaran moral. Ia menyusun jawaban berdasarkan pola statistik dari data yang dikumpulkan. Bagi GenAI, semua pendapat tampil setara selama sama-sama sering muncul dalam data. Perbedaan antara pendapat mu’tabar dan pendapat yang lemah tidak dipahami sebagai persoalan otoritas keilmuan, melainkan sekadar variasi teks. Di sinilah letak problem mendasar ketika teknologi ini bersentuhan dengan ilmu agama.
Bahaya terbesar bukan terletak pada kesalahan teknis semata, melainkan pada ilusi otoritas. Jawaban yang disampaikan dengan bahasa rapi dan sistematis mudah dianggap sebagai kebenaran final. Padahal, dalam tradisi Aswaja, kebenaran agama tidak hanya ditentukan oleh “apa dalilnya”, tetapi juga “siapa yang memahami”, “bagaimana metode istinbath-nya”, dan “dalam konteks apa hukum itu diterapkan”. Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab melalui sanad keilmuan yang jelas, bukan oleh mesin yang bekerja tanpa tanggung jawab spiritual.
Ironisnya, justru di era GenAI inilah sanad menjadi semakin relevan. Ketika informasi melimpah dan batas antara yang sahih dan yang keliru semakin kabur, sanad berfungsi sebagai jangkar epistemologis. Ia membantu umat memilah mana ilmu yang dapat diamalkan dan mana yang perlu dikritisi. Sanad menegaskan bahwa tidak semua jawaban yang terdengar meyakinkan layak dijadikan pegangan, terutama dalam perkara agama yang menyangkut halal-haram, benar-salah, dan keselamatan akhirat.
Namun, relevansi sanad bukan berarti menolak teknologi. Dalam perspektif Aswaja, GenAI dapat ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai sumber otoritas. Ia dapat membantu pencarian referensi, mempercepat pemetaan pendapat ulama, atau mendukung proses pembelajaran. Akan tetapi, keputusan ilmiah dan keagamaan tetap berada di tangan manusia yang memiliki sanad, adab, dan tanggung jawab moral. Dalam posisi ini, GenAI menjadi pelayan ilmu, bukan penentu kebenaran.
Jika sanad diabaikan, ilmu agama berisiko tereduksi menjadi komoditas digital: mudah diakses, cepat dikonsumsi, tetapi miskin kedalaman dan kebijaksanaan. Sebaliknya, jika sanad dipertahankan dan diperkuat, teknologi justru dapat menjadi sarana baru untuk menjaga dan menyebarkan tradisi keilmuan Islam secara lebih luas dan terarah.
Pada akhirnya, tantangan utama di era GenAI bukanlah soal kecanggihan mesin, melainkan soal siapa yang memegang otoritas makna. Sanad keilmuan ala Ahlussunah wal Jamaah hadir sebagai pengingat bahwa ilmu agama bukan sekadar soal jawaban, tetapi soal pertanggungjawaban. Dalam dunia yang serba cepat dan instan, sanad mengajarkan kesabaran, kedalaman, dan kehati-hatian. Dan justru karena itulah, di era GenAI, sanad bukan hanya relevan—ia menjadi semakin mendesak untuk dijaga.
Terhitung sejak bergantinya kepemimpinan presiden, Indonesia mengalami beberapa perubahan tatanan ya...
Di sebuah ruang guru yang tenang, Pak Ahmad menatap layar tabletnya. Sebagai seorang pengawas pendid...
Bukan Sekadar Angka yang “Rontok” Belakangan ini, selain angka IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan...
Futsal Indonesia hari ini bergerak seperti seseorang yang mulai mengenali bayangannya sendiri. Ia be...
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pesantren tidak lagi cukup hanya bertahan dengan tradisi la...
Drama China banyak mendapatkan banyak penonton di Indonesia, fenomena ini berangkat dari kemudahan a...

Belum ada komentar.