AveSticker

Resensi Film Esok Tanpa Ibu

Feb 01 202633 Dilihat

Produksi: BASE Entertainment dan Beacon Film,
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Dian Sastro Wardoyo, Ali Fikri, Aisha Nurra Datau,
Sutradara: Wi Ding Ho
Tahun: 2026

Film fiksi ini mengkisahkan kondisi keluarga kecil yang terdiri dari bapak, ibu dan seorang anak. Kehidupan penuh dengan kebahagiaan, romantis dan kasih sayang orang tua kepada anak. Ringgo Agus Rahman memerankan sebagai Hendri (ayah(, Dian Sastro sebagai Laras (ibu), dan Ali Fikri sebagai Rama atau Cimot.

Masing-masing memerankan peran dengan penuh emosional bagi penonton yang melihat. Sosok Hendri, ayah seorang kepala keluarga yang pekerja keras dengan penuh impian tetapi tidak pernah berani menyampaikan sesuatu hal kepada anaknya sebagai bentuk rasa sayang. Laras, seorang ibu penyeimbang, pengikat emosi antara bapak dan anak. Sedang Rama, seorang anak yang kesulitan membangun komunikasi yang erat kepada bapak.

Awal mula film bercerita tentang keluarga yang hidup di tengah perkotaan dipenuhi dengan emosi dan pekerjaan yang selalu dikejar target. Akhirnya, mereka bersepakat memilih untuk pindah ke sebuah daerah kecil pegunungan guna membangun impian. Keluarga yang diimpikan akhirnya terwujud, dengan lahirnya seorang anak laki-laki dengan nama Rama.

Rama tumbuh dewasa seyogyanya anak yang lain. Namun, sisi lain justru muncul masalah di internal keluarga. Rama merasa sang bapak kurang memperhatikannya. Sementara itu, Laras merupakan pribadi yang penuh kesabaran. Ia selalu hadir dengan penuh rasa kasih sayang, guyonan receh menjadi pengikat antara mereka.

Laras mempunyai usaha cafe yang diberi nama Esok. Cafe itu dirintis dan dikembangkan bersama Hendri. Cafe Esok dipoles estetik dengan hiasan tanaman pada sekeliling cafe. Cafe tersebut direncanakan agar bisa diteruskan oleh Rama.

Suatu ketika, Hendri dan Laras mengajak Rama jalan-jalan ke hutan di lereng pegunungan. Dalam perjalanan tersebut, ada barang tertinggal di mobill. Laras bermaksud mengambil barang dan berjalan turun. Namun hal yang tidak terduga terjadi, Laras jatuh dan harus dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit, Laras mengalami koma selama tiga bulan dan akhirnya meninggal.

Kecewa dan merasa ada yang hilang dari dirinya, akhirnya Rama melampiaskan dengan hilang untuk mencari solusi agar sosok ibu kembali, pun demikian dengan Hendri. Rama menceritakan kondisi yang dialami ibu kepada sahabatnya yakni Zyla yang juga sebagai yang menggeluti dunia artificial intelegence. Saran dari Zyla, agar menggunakan Aplikasi I-Bu, sosok ibu digital hadir sebagai bentuk rasa kangen yang selama ini hilang. Rama sekarang merasa kembali seperti dulu, yang mana setiap aktivitasnya hadir ibu di sampingnya selalu mengingatkan, memberikan motivitasi, mengingatkan kebiasaan, meski itu hanya semu.

Lambat laut apa yang dilakukan oleh Rama diketahui oleh Hendri. Tanpa pikir panjang, Hendri marah kepada Rama dan mengatakan bahwa sosok Laras sebagai seorang ibu tidak bisa digantikan oleh program Aplikasi I-BU. Sosok ibu bernyawa dan mampu berfikir jernih dan dalam lubuk hatinya, sedangkan I-BU hanya dapat merekam apa saja yang pernah dilakukan.

Sampai pada suatu ketika, Hendri mengingatkan kembali Rama agar dapat berfikir jernih berusaha mengikhlaskan kepergian ibu. Hendri menjelaskan ada impian yang belum diketahui mereka berdua. Impian tersebut ada di balik gunung, dulu sewaktu hidup ibu ingin mengajak mereka berdua untuk melihat bersama impian tersebut.

Akhirnya bapak dan anak tersebut sepakat untuk kembali mengingat impian sang ibu, yakni kembali ke hutan untuk melihat impian tersebut. Ternyata tersebut adalah sebuah pemandangan alam dengan tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Ibu dulu percaya bahwa tanaman bisa tumbuh dimana saja, terpenting kita mampu menjaganya.

Dari film Esok Tanpa Ibu, menyiratkan pesan bahwa sosok ibu tidak akan bisa digantikan oleh apapun, bahkan oleh sebuah aplikasi program AI. Bagaimana teknologi bisa menjadi tempat bersembunyi dari duka, namun juga berisiko menjauhkan manusia dari proses menerima kehilangan yang sesungguhnya. Maka dari itu, Esok Tanpa Ibu memberikan pesan moral bahwa setiap keluarga harus mampu menjaga romantisme dan kerukunan. Agar nantinya setiap kehilangan muncul keikhlasan datang dan hadir beriringan.

Share to

Pantang lari dari gelanggang corong palayu

Topik Terkait

https://www.mvpworld.com/mvp-press-releases-id/gala-premiere-film-sengkolo-petaka-satu-suro-angkat-kisah-teror-dan-pengorbanan

Sengkolo: Petaka Satu Suro, Antara Tumba...

by Feb 03 2026

Produksi: MVP Pictures Pemain: Aulia Sarah, Agla Artalidia, Dimas Aditya, Cindy Nirmala, Ence Bagus,...

Pemberontakan Pangeran Magora (Angling D...

by Jan 30 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

Gugurnya Patih Kalamurka (Angling Dharma...

by Jan 28 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

Alas Roban: Teror Jalan Pantura dan Peng...

by Jan 27 2026

Produksi: Unlimited Production Pemain: Pemain Utama: Michelle Ziudith, Rio Dewanto, Taskya Namya, Im...

Penculikan Putra Mahkota (Angling Dharma...

by Jan 26 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

The Manipulated (2025): Ketika Hidup Ora...

by Jan 23 2026

Kalau kamu suka drakor yang gelap, bikin emosi naik turun, dan isinya bukan cinta-cintaan doang, The...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top