Edi Purwanto • Sep 07 2010 • 1.508 Dilihat
Sehari di Rumah sudah banyak berkat yang kami terima. Pertama malam ini di rumah ada selamatan tujuh bulanan (tingkepan akan saya tuliskan tentang ritual ini di tulisan berikutnya). Kedua, malam ini adalah malem 27 Ramadhan yang sesuai dengan janji Allah akan ada malam Lailatul Qodar (khoiru min alvi sahrin). Sudah menjadi kebiasaan di kampungku orang melakukan selamatan maleman. Dengan demikian malam ini banyak sekali sego berkat di rumahku.
Sego berkat adalah istilah dalam bahasa Jawa. Istilah ini jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa berarti bingkisan nasi dari hasil kenduri dalam acara-acara selamatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Agak sulit memang untuk mencari padanan bahasa Indonesia yang tepat. Namun istilah berkat bisa dipadankan dengan istilah dalam bahasa Arab “barokah” yang berarti bermanfaat. Mungkin karena lidah orang Jawa yang kadang salah dengar tentang sego barokah. Karena kesalahan yang berulang-ulang akhirnya menjadi kebenaran bahwa barokah sudah berubah pengucapan menjadi berkat. Kemudian masyarakat menamainya dengan sebutan sego berkat.
Biasanya sego berkat ini tidak pernah dijual secara bebas di rumah makan modern seperti kafe, warung, apalagi di mall. Sego berkat hanya diperoleh secara gratis pada saat ada seseorang memiliki hajat selamatan. Baik selamatan kelahiran, kematian, bangun rumah, petik padi dan kegiatan yang lainnya. Dikatakan barokah karena sudah mambu dongo (sudah diberikan doa), sebelum berkat itu dibagikan. Biasanya sego berkat itu terdiri dari urap-urap, bihun, sambel goreng, tempe bacem, srondeng, telur, ayam (ingkung) dan yang lainnya sesuai dengan bentuk dan jenis upacaranya. Nasinya pun bisa beragam. Ada sego gurih (nasi uduk), nasi tawar dan nasi kuning.
Banyak orang mengatakan bahwa sego berkat itu lebih enak ketimbang nasi biasa. Walaupun dimasak dengan model dan cara yang sama. Mungkin ini adalah sugesti belaka bagi orang yang memiliki keyakinan tentang ngalap barokah, namun anda bisa membuktikan bagaimana rasa sego berkat. Atau mungkin memang inilah kekuatan do’a?
Lahir di bumi Bung Karno Blitar. Kini terperangkap dalam hiruk pikuk Kota Malang. Belajar menulis dan komentar tentang apapun.
Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...
Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...
Terhitung sejak bergantinya kepemimpinan presiden, Indonesia mengalami beberapa perubahan tatanan ya...
Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...
Di sebuah ruang guru yang tenang, Pak Ahmad menatap layar tabletnya. Sebagai seorang pengawas pendid...
Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Pertamax
siiipppp