AveSticker

Ngalap Barokah dari Sego Berkat

Sep 07 20101.576 Dilihat

Sehari di Rumah sudah banyak berkat yang kami terima. Pertama malam ini di rumah ada selamatan tujuh bulanan (tingkepan akan saya tuliskan tentang ritual ini di tulisan berikutnya). Kedua, malam ini adalah malem 27 Ramadhan yang sesuai dengan janji Allah akan ada malam Lailatul Qodar (khoiru min alvi sahrin). Sudah menjadi kebiasaan di kampungku orang melakukan selamatan maleman. Dengan demikian malam ini banyak sekali sego berkat di rumahku.

Sego berkat adalah istilah dalam bahasa Jawa. Istilah ini jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa berarti bingkisan nasi dari hasil kenduri dalam acara-acara selamatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Agak sulit memang untuk mencari padanan bahasa Indonesia yang tepat. Namun istilah berkat bisa dipadankan dengan istilah dalam bahasa Arab “barokah” yang berarti bermanfaat. Mungkin karena lidah orang Jawa yang kadang salah dengar tentang sego barokah. Karena kesalahan yang berulang-ulang akhirnya menjadi kebenaran bahwa barokah sudah berubah pengucapan menjadi berkat.  Kemudian masyarakat menamainya dengan sebutan sego berkat.

Biasanya sego berkat ini tidak pernah dijual secara bebas di rumah makan modern seperti kafe, warung, apalagi di mall. Sego berkat hanya diperoleh secara gratis pada saat ada seseorang memiliki hajat selamatan. Baik selamatan kelahiran, kematian, bangun rumah, petik padi dan kegiatan yang lainnya. Dikatakan barokah karena sudah mambu dongo (sudah diberikan doa), sebelum berkat itu dibagikan. Biasanya sego berkat itu terdiri dari urap-urap, bihun, sambel goreng, tempe bacem, srondeng, telur, ayam (ingkung) dan yang lainnya sesuai dengan bentuk dan jenis upacaranya. Nasinya pun bisa beragam. Ada sego gurih (nasi uduk), nasi tawar dan nasi kuning.

Banyak orang mengatakan bahwa sego berkat itu lebih enak ketimbang nasi biasa. Walaupun dimasak dengan model dan cara yang sama. Mungkin ini adalah sugesti belaka bagi orang yang memiliki keyakinan tentang ngalap barokah, namun anda bisa membuktikan bagaimana rasa sego berkat. Atau mungkin memang inilah kekuatan do’a?

Share to

Lahir di bumi Bung Karno Blitar. Kini terperangkap dalam hiruk pikuk Kota Malang. Belajar menulis dan komentar tentang apapun.

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top