Alim Mustofa • Feb 23 2026 • 36 Dilihat

Suatu ketika si Palu atau bahasa Jawanya disebut “petil atau amer”
sedang merenung akan nasibnya.
Dalam benak si Palu selalu bertanya akan situasi yang dialaminya.
Meski begitu, ia pernah juga bersyukur akan kerja kerasnya.
Si Palu terharu, tersenyum sambil bernapas lega.
Ia bersyukur ketika tuannya yang selalu mengajak kerja keras demi sesuap nasi,
karena ada keluarga kecil yang hidup sederhana menunggu jerih payah sang tuan.
Si Palu kembali bersyukur, karena dalam bekerja keras untuk mencari nafkah
tuannya sangat menjaga kehormatannya.
Pernah suatu ketika si Palu diajak kerja oleh Ki Dalang.
Seharian bahkan sampai subuh, ia diketuk-ketukan oleh si tuan.
Banyak orang pun terhibur akan nasihat Ki Dalang dalam lakon cerita.
Ada pesan nasihat kehidupan dalam cerita Ki Dalang.
Si Palu menarik napas dalam-dalam dengan penuh rasa bangga,
karena digunakan orang hebat untuk menyampaikan pesan kebaikan.
Di mana tuannya mengajak si Palu untuk mengukir keadilan menjadi sejarah.
Kali ini si Palu pun amat bersyukur, karena tuannya sangat menjaga kehormatannya.
Si Palu merasa naik kasta.
Suatu ketika, si Palu terlihat murung.
Kenapa… karena ia merasa dimanfaatkan oleh si tuan.
Ia merasa malu ketika harus menangguk-angguk
untuk sesuatu yang tidak diinginkannya.
Bagaimana tidak!!!
Si tuan memaksa si Palu untuk menentukan nasib seseorang,
di mana seseorang itu harus kalah menerima nasib
karena suatu keadaan di mana ia tidak berdaya.
Si tuan merasa sangat berwibawa dan terhormat, tetapi si Palu menangis pilu.
Si Palu merasa zolim akan apa yang telah dilakukannya.
Kenapa si tuan memanfaatkannya untuk mencari kehormatan, kemuliaan,
dan kemewahan dengan mengorbankan kehormatannya.
Mengapa tuanku tidak tahu perasaanku, betapa malunya aku.
Di mana mukaku ketika nanti aku harus bertemu dengan orang tuaku.
Apa yang harus aku katakan pada Tuhanku jika nanti aku ditanya, gumam si Palu.
Bukankah kemuliaan, kemewahan, dan kehormatan telah didapatkan?
Tetapi mengapa harus tamak kepada nurani!
Si Palu berdoa seraya berkata,
“Ya Tuhan, titipkan aku kepada orang yang termasuk dalam orang-orang yang berpikir.”
Alumni S-2 FIA Univ. Brawijaya Malang. Berorganisasi di KOMDEK Malang, Averoes Community, Lakpesdam NU Kota Malang s/d GP ANSOR Jawa Timur. Pernah bekerja di Panwaslu Kecamatan 2008, Pimred Pandanwangi Newsletter 2010, Jurnalis NIMD Belanda & KID Jakarta, Komisioner KPU Kota Malang 2009-2014, Dewan Riset Daerah Kota Malang dll
Saat terik matahari telah menampak diri Ragaku terkoyak akan gejolak yang tiada henti Jiwa yang seak...
Di balik etalase warung, di bawah meja kayu yang catnya sudah mengelupas, bertumpuk bungkus rokok ta...
Perubahan logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dari mawar putih ke gajah merah-putih pada 2025 ti...
Tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari, itulah aktivitas umat Islam ketika...
Di sudut ruang hampa sesosok manusia sedang termenung Menyeret tiap tinta pada selembar kertas usang...
Terhitung sejak bergantinya kepemimpinan presiden, Indonesia mengalami beberapa perubahan tatanan ya...

Belum ada komentar.