AveSticker

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (2)  

Feb 07 2026209 Dilihat

Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari

Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan pola-pola yang beragam lagi sesuai pada cita rasa alam. Berakar kuat pada kondisi geografis lingkungan, sekitar manusia bertempat tinggal. Dayak Kayan yang bertempat tinggal di Kongbeng, Kutai Timur juga memiliki beragam tarian untuk dilakukan sebagai tarian untuk berbagai ritual.

Kemeriahan perhelatan adat tidak saja dirasakan oleh kaum tua namun juga dirasakan oleh muda-mudi, yang mengekspresikan kegembiraan dengan melakukan tarian yang digelar setiap malam.

Tarian oleh anak-anak muda dayak dilakukan oleh lelaki dan perempuan, baik itu perseorangan hingga berkelompok. Diiringi petikan sampek atau bisa disebut juga sape’ yang mengalunkan dentingan memecah kesunyian, membuat suasana hati bagai mengawang di antara dunia manusia dan makhluk gaib.

Waktu menunjukkan pukul 19.30 Wita, saat kerumunan manusia perlahan memenuhi lamin adat Lakeq Bilung Jau di Desa Miau Baru. Penari dari berbagai Rukun Tetangga bersiap dibalik panggung utama untuk dipersilahkan menampilkan tarian secara bergantian hingga usai pada pukul 24.00 Wita.

Gadis-Gadis berkulit kuning langsat menjadi cahaya terang, bagai kunang-kunang yang bersilau terang pada kegelapan malam di lamin yang berada di ujung timur desa tersebut.

Jauh sebelum tarian digelar pada malam hari, seorang penari perempuan bernama Silfia Bulan Hengky mengatakan jika dirinya mempersiapkan tarian dengan kelompok tari di lingkungan RT-nya sejak lama. Mengingat tarian yang dibawakan seperti tari angan kenap, sangat tidak gampang dilakukan.

Gerakkannya memiliki pola yang rumit dan halus, sehingga biar seorang penari dianggap khatam soal tarian tersebut. Bisa saja terjadi salah gerakkan, karena terbawa suasana atau rima yang tidak sama dengan penari lain dalam satu kelompok.

“Selain menari di sanggar tari, saya sendiri memperdalam tarian dengan menari lagi dirumah dan dipandu oleh nenek. Beliau seringkali memberi masukkan dan penjelasan detail terkait gerakkan tari, agar saya tidak sembarangan melakukan gerakkan yang memberi arti yang lain nantinya. Walaupun sulit, tetap saya lakukan untuk terus menari karena ini merupakan adat nenek moyang kami yang harus tetap dipertahankan dan lestarikan,” ungkapnya saat ditemui penulis.

Merajut budaya menjaga tradisi bukanlah persoalan gampang ditengah modernisasi yang masuk keseluruh wilayah Indonesia, perkembangan dunia begitu cepat berubah hingga mampu menggerus tradisi jika tidak dikelola dengan pemahaman yang baik dan benar.

Hal ini dirasakan Ketua Kesenian Miau Baru yakni Kajan Lahang, dimana dirinya memang mengakui tantangan terberat di masa sekarang ialah mengajak anak-anak muda mau mengenal dan mempertahankan tradisi yang telah ada.

“Jujur saya beryukur sekali bahwa hingga sekarang adat masih dipegang sebagai puncak pengendali masyarakat dayak kayan. Anda bisa melihat bagaimana pada setiap RT memiliki sanggar tari sendiri, yang dikelola dengan baik oleh kaum tua agar mampu menyeleksi anak-anak yang gemar menari dan siap mencurahkan jiwa raganya pada kesenian. Penghargaan tertinggi pada penari ialah saat mereka berkesempatan menari di lamin adat, untuk melestarikan sekaligus menghibur seluruh warga kampung baik itu kaum tua maupun kaum muda,”ungkapnya.

Ditambahkanya, anak-anak pada masa sekarang ini mulai banyak yang tertarik pada seni tari. Karena dari sinilah mereka mampu menari hingga ke luar negeri. Karena tidak sedikit anak-anak Miau Baru Kongbeng yang mampu membawa nama Kutim ke dunia internasional, tinggal bagaimana mengelola mereka saja

Kemunculan seniman-seniman asal Kongbeng baik dalam kancah nasional dann internasional, tidak dapat lepas dari nama Irang laway. Seorang seniman sampek atau sape’ yang seringkali di undang di acara budaya di Jakarta oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Terakhir dirinya berkolaborasi dengan Kapital Band  (band beraliran musik metal) memainkan sampek di acara music TV One, yang mengundang decak kagum para penonton.

Ia mengatakan jika sape’ dan menari bagai orang dayak layaknya Enggang yang terbang diantara pepohonan lebat dihutan. Lalu bergerak bagai bidadari turun dari kayangan untuk membawa keindahan dan keberkahan bagi bumi. Sehingga berbarengan dengan alunan sape’ yang dibawakan dengan berbagai lirik, baik itu dengan nada yang bergembira, bersedih, rindu, sayang, duka, hingga cinta. Tersampaikanlah semua maksud untuk mewakili rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kebaikkan untuk masyarakat dayak.

“Menari dan Sape’ tidak dapat pisahkan antara satu dengan yang lain, selain memang untuk estetika seni tari itu sendiri. Juga merupakan penghormatan pada leluhur serta adat, tidak salah jika ada saja penonton yang kemudian terbawa suasana spritual lalu menyatu dengan roh nenek moyang alias kerasukkan. Hakikat seni adalah penyatuan jiwa manusia dengan alam raya layaknya kaum sufi, puncaknya memaknai hidup sebagai suatu anugerah,” jelas lelaki yang tetap menerjuni seni di usia tuanya ini. (BERSAMBUNG)

Share to

Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com

Topik Terkait

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

by Feb 09 2026

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (1)  

by Feb 05 2026

Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...

Kurusetra Dan Penyaksian Pembalasan

by Feb 03 2026

Kurusetra, sebuah tempat, yang seorang satria gagah seperti Bima pun bergidik mendengar namanya. Tem...

Dapat Orang Mana?

by Feb 02 2026

“Oh, My how beautiful. Oh my beautiful Mother. She told me, Son in life you’re gonna go ...

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (3)

by Jan 30 2026

Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hut...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top