AveSticker

Menolak Lupa Rezim Suharto/Orba yang Militeristik dan Represif

May 23 2018147 Dilihat

Zaman Suharto “tidak enak babar blas” alias tidak enak sama sekali. Kalau Anda kritis waktu itu, maka alamat anda akan ditangkap intel, dipenjarakan atau tidak kembali ke rumah alias hilang.

Korupsi Merajalela dan Demokrasi Tidak Ada

Di zaman Suharto demokrasi hanya jargon belaka. Dalam pemilu tidak ada KPU, pantia pemilu berasal dari partai penguasa atau staf pemerintahan lokal yang dibuat oleh rezim Suharto sendiri. Tidak ada saksi, tidak ada bawaslu, tidak ada pengawas independen dll. Hasilnya, Golkar sebagai partai penguasa di era Suharto selalu menang pemilu selama 32 tahun.

Proyek-proyek pemerintah dikelola oleh orang-orang pemerintah dan kroninya sendiri, tidak ada tender yang terbuka dan akuntable, kalau toh ada hanya akal-akalan belaka. BUMN dikelola asal-asalan. Maka tidak aneh kalau hampir semua BUMN selalu merugi waktu itu. Di awal reformasi, mungkin anda masih dapat merasakan akibat pengelolaan BUMN yang asal-asalan ini.

Selain itu, korupsi terjadi di mana-mana. Hampir di semua bidang. Waktu itu, jika ingin lancar urusan, maka anda harus menyediakan amplop. Pelayanan publik sangat buruk dan lama. Untuk mengurus dan membuat KTP, KK, Surat Pencari Kerja dan surat pindah tidak ada yang gratis waktu itu, anda harus bayar. Tidak ada penjelasan uang itu untuk apa apalagi laporan tahunan penggunaan uang dan anggaran institusi pemerintah yang dibuka ke publik.

Tidak ada KPK waktu itu. Anehnya, hampir tidak ada satu pun kasus korupsi yang melibatkan pejabat pemerintahan mencuat ke publik apalagi di bawah ke ranah hukum.

Menghilangnya Militan Garis Keras dan Perlawanan Para Aktivis

Para militan Islam garis keras seperti pentolan NII dll yang anti Pancasila dan NKRI serta berniat mendirikan negara Islam dibabat habis oleh Suharto. Akhirnya mereka “semburat” lari tunggang-langgang ke negara tetangga seperti Malaysia dll. Mungkin ini salah satu sisi positif Suharto meski sebenarnya langkah tersebut lebih untuk mempertahankan kekuasaannya.

Berbeda dari para militan garis keras yang memilih mengungsi ke luar negeri atau tiarap bersembunyi, para aktivis prodemokrasi dan mahasiswa tetap berani menanggung segala resiko ditangkap, digebukin, bahkan dihilangkan oleh rezim Orba.

Para aktivis prodem atau mereka yang prihatin dengan kesemena-menaan Orba waktu itu seperti Gus Dur, Rahman Tolleng, Adnan Buyung Nasution, Marsilam Simandjuntak, Bondan Gunawan, Dorojatun Kuntjorojakti, Emha Ainun Najib, dll tetap maju tak gentar mengkritisi pemerintahan Suharto.

Para aktivis prodem ini bahu-membahu dengan para aktivis mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia dan para politisi oposisi seperti Megawati Sukarno Putri yang waktu selalu berusaha disingkirkan oleh Orba.

Para aktivis dan mahasiswa aktivis waktu itu dengan semangat “revolusi” dan reformasinya menggelar forum-forum kritis melalui beebagai kegiatan seperti pentas seni, teater, baca puisi, seminar, hingga mimbar demokrasi bahkan demonstrasi-demonstrasi.

Akibat dari gerakannya itu, sebagian dari mereka rela hidupnya diintai oleh intel aparat selama 24 jam sehari. Sebagian besar mereka pernah merasakan diintimidasi dan ditahan. Sebagian lagi bernasip malang, harus menemui ajal seperti Udin (Wartawan), Marsinah (Aktivis Buruh), Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie (Mahasiswa Trisakti) dll.

Lebih tragis lagi, 13 aktivis penentang Suharto hingga kini tidak kembali termasuk di dalamnya ada penyair terkenal dari Solo, Widji Thukul.

Demikianlah, semoga kita selalu ingat pada masa-masa di mana era Suharto itu sangat berat. Hanya para aktivis yang kuat menjalaninya. Gerombolan ubur-ubur unyu yang sekarang suka berisik itu, di era Rezim Suharto, mereka tiarap.

Alfatehah untuk para aktivis dan korban yang meninggal dan hilang akibat keganasan rezim Suharto.

Salam Pecel

Share to

Dosen di sebuah PTN favorit di Jogja. Pernah mondok di Tambak Beras Jombang, Virginia Amerika, Montreal Canada, Leiden Belanda, dan Tokyo Jepang. Sejak mahasiswa aktif di diskusi Komunitas Averroes. Tinggal di Jogja

Topik Terkait

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Grup WhatsApp dan Demokrasi yang Terlalu...

by Jun 13 2026

Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...

Menuju Piala Dunia: Nasionalisme yang Da...

by Jun 06 2026

Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...

Lemahnya Kontrol Sosial dan Ancaman Degr...

by Jun 05 2026

Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Beberapa Kebiasaan Aneh Gen Z yang Seben...

by May 30 2026

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top