AveSticker

Mbah Maridjan, Perlawanan dari Kaki Merapi

Oct 28 2010823 Dilihat

Perlawanan orang-orang kalah selalu lahir dari kebutuhannya untuk hidup. Begitulah James T Scott pernah mengatakan. Pada saat tindakan itu dilakukan, orang tidak sungguh-sungguh menganggapnya sebagai sebuah perlawanan karena yang terlihat seperti sebuah pemenuhan kepentingan diri sendiri. Tapi begitulah cara kaum marjinal melawan dan membangkang. Dengan melihat klaim apa yang hendak disampaikan di balik tindakannya, samar-samar dapat dilihat bahwa mereka ingin menentukan pilihan dan menyuarakan pendapatnya dalam berhadapan dengan apa yang mereka yakini sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Mbah MarianKisah tentang penebah padi yang menyisakan bulir-bulir padi di batang dan berharap dipunguti anak-istrinya, serdadu yang meninggalkan medan perang karena teringat nasib keluarganya di rumah, buruh petani yang gemar bergosip tentang kekayaan juragannya, dan mungkin termasuk Mbah Marijan yang bertahan sampai akhir hayatnya di lereng Merapi.

Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai cara konyol mempertahankan hidup. Tapi sebagian lainnya tahu persis bahwa apa yang dilakukan oleh Mbah Marijan sebagai sebentuk pembangkangan. Saat Sri Sultan HB X memintanya untuk turun dari Merapi, ia menolak untuk patuh karena menganggapnya itu adalah sekedar perintah seorang Gubernur. Dengan alasan-alasan tertentu, Mbah Marijan tidak bisa mempercayai pemerintah. Ia lebih percaya, hormat dan tunduk kepada Sultan HB IX, sosok yang memiliki kharisma luar biasa bagi rakyat Ngayogyakarta.

Tentu saja, kita bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa ini. Letusan Gunung Merapi merupakan pertanda bagi para penguasa untuk mengoreksi diri, bahwa sesungguhnya semakin lama mereka semakin tidak dipercayai oleh rakyat. Dan rakyat punya cara, strategi dan pilihan untuk melawan. Mbah Marijan kukuh dengan pendiriannya dan memilih kelanggengan bersama Merapi daripada dengan penguasa.

Sayang sekali, justru yang sering kita dengar di televisi adalah olok-olok kepada si Mbah, yang tidak mau taat kepada pemerintah untuk turun gunung. Tentu saja ini bukan soal taat atau tidak, tapi soal legitimasi pemerintah yang mengalami krisis semakin parah. Jurgen Habermas yang menyatakannya. Penguasa mengalami krisis legitimasi karena perilakunya tidak lagi didasarkan kepentingan rakyat.

Met Jalan Mbah … semoga terang di sisi-Nya. Amin

Share to

Lahir di Lamongan Jawa Timur. Senang membaca tulisan siapapun

Topik Terkait

Lemahnya Kontrol Sosial dan Ancaman Degr...

by Jun 05 2026

Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Beberapa Kebiasaan Aneh Gen Z yang Seben...

by May 30 2026

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...

Orang-Orang di Pinggir Lapangan yang Men...

by May 23 2026

Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...

Jam Dua Siang dan Ilusi Produktivitas Ka...

by May 16 2026

Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...

Sepak Bola Modern dan Kerinduan Pada Nom...

by May 09 2026

Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top