AveSticker

Mbah Maridjan, Perlawanan dari Kaki Merapi

Oct 28 2010787 Dilihat

Perlawanan orang-orang kalah selalu lahir dari kebutuhannya untuk hidup. Begitulah James T Scott pernah mengatakan. Pada saat tindakan itu dilakukan, orang tidak sungguh-sungguh menganggapnya sebagai sebuah perlawanan karena yang terlihat seperti sebuah pemenuhan kepentingan diri sendiri. Tapi begitulah cara kaum marjinal melawan dan membangkang. Dengan melihat klaim apa yang hendak disampaikan di balik tindakannya, samar-samar dapat dilihat bahwa mereka ingin menentukan pilihan dan menyuarakan pendapatnya dalam berhadapan dengan apa yang mereka yakini sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Mbah MarianKisah tentang penebah padi yang menyisakan bulir-bulir padi di batang dan berharap dipunguti anak-istrinya, serdadu yang meninggalkan medan perang karena teringat nasib keluarganya di rumah, buruh petani yang gemar bergosip tentang kekayaan juragannya, dan mungkin termasuk Mbah Marijan yang bertahan sampai akhir hayatnya di lereng Merapi.

Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai cara konyol mempertahankan hidup. Tapi sebagian lainnya tahu persis bahwa apa yang dilakukan oleh Mbah Marijan sebagai sebentuk pembangkangan. Saat Sri Sultan HB X memintanya untuk turun dari Merapi, ia menolak untuk patuh karena menganggapnya itu adalah sekedar perintah seorang Gubernur. Dengan alasan-alasan tertentu, Mbah Marijan tidak bisa mempercayai pemerintah. Ia lebih percaya, hormat dan tunduk kepada Sultan HB IX, sosok yang memiliki kharisma luar biasa bagi rakyat Ngayogyakarta.

Tentu saja, kita bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa ini. Letusan Gunung Merapi merupakan pertanda bagi para penguasa untuk mengoreksi diri, bahwa sesungguhnya semakin lama mereka semakin tidak dipercayai oleh rakyat. Dan rakyat punya cara, strategi dan pilihan untuk melawan. Mbah Marijan kukuh dengan pendiriannya dan memilih kelanggengan bersama Merapi daripada dengan penguasa.

Sayang sekali, justru yang sering kita dengar di televisi adalah olok-olok kepada si Mbah, yang tidak mau taat kepada pemerintah untuk turun gunung. Tentu saja ini bukan soal taat atau tidak, tapi soal legitimasi pemerintah yang mengalami krisis semakin parah. Jurgen Habermas yang menyatakannya. Penguasa mengalami krisis legitimasi karena perilakunya tidak lagi didasarkan kepentingan rakyat.

Met Jalan Mbah … semoga terang di sisi-Nya. Amin

Share to

Lahir di Lamongan Jawa Timur. Senang membaca tulisan siapapun

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top