Ronall J Warsa • Jan 23 2026 • 241 Dilihat

Kampung Batu adalah kampung di pedalaman Kalimantan. Sebagaimana kampung-kampung yang ada di nusantara pada umumnya, kondisi kampung ini amatlah terisolir dan jauh dari kata modernisasi.
Bahkan jika seseorang memiliki lampu petromaks, maka lampu tersebut dijadikan tolak ukur mengenai tingginya ekonomi seseorang. Terlebih jika orang itu tidak hanya memiliki lampu petromaks, namun juga memiliki puluhan buah Al-Qur’an. Maka orang kampung akan menyebutnya dengan sebutan Uwak.
Jika sudah begitu, ramailah suara anak-anak mengaji dan sholat maghrib berjamaah di rumah bercahaya benderang itu. Seiring waktu berjalan, keadaan kampung semakin berubah mengikuti kemajuan dunia.
Dimulai dari meluncurnya dua buah ban yang digerakkan oleh mesin milik Uwak Haji, yang disebut warga kampung “honda”. Kendaraan itu begitu gagah saat melintasi jalan kampung yang tergenang air hujan. Sehingga anak-anak kampung yang terbelakang, ramai-ramai berlari mengikuti Uwak keliling kampung.
Kampung Batu semakin terbuka pada dunia, saat mobil pick up Pakde Marno yakni pedagang keliling asal Kabupaten. Masuk ke kampung menawarkan berbagai barang, mulai perabot rumah tangga hingga celana dalam. Tentu kali ini yang mengejar kendaraan itu ialah gadis remaja, ibu-ibu rumah tangga, hingga nenek-nenek yang menginang pun ramai turut berlari mengejar kredit lunak Pakde Marno.
Suara keras burung besi membelah di langit, dan berulang-ulang terbang rendah mengelilingi Kampung Batu. Namun kali ini anak-anak dan nenek-nenek tak lagi berlari mengejar burung besi itu. Karena Uwak yang sebulan lalu baru pulang haji. Tiba-tiba diberi hadiah oleh pemerintah, berupa kotak berwarna bernama televisi. Maka sejak itulah warga kampung mulai mengerti selain burung asli, ada burung besi yang bisa terbang di angkasa. Makin mengerti lagi saat TV itu menampilkan peristiwa pengeboman Hirosima dan Nagasaki oleh pesawat pembom milik United States of Amerika.
Udin salah satu warga berfikir, apakah burung besi itu hendak meluncurkan bom di kampungnya. Padahal sejatinya pesawat itu adalah pesawat yang dipergunakan perusahaan untuk mensurvei lokasi tambang. Selang beberapa minggu setelah pesawat terbang tinggi diatas perkampungan. Uwak Haji yang telah merangkap menjadi Kepala Kampung, untuk tiga puluh tiga Kepala Keluarga (KK).
Mengajak orang berkumpul di rumahnya, yang semakin luas dan mewah untuk ukuran orang kampung. Hidangan mewah berupa pisang goreng berlapis susu, mentega, dan gula pasir dihidangkan bersama kopi hitam, membuat tiga puluh tiga KK, hanyut oleh pidato mendayu-dayu Uwak Haji.
“Apa guna nama kampung ini diberikan Datuk Nenek kita dengan nama bertuah tinggi, Kampung Batu. Kalau kemudian kita tak membuka diri untuk kesejahteraan seluruh warga. Batu bara! Itulah warisan yang jadi berkah untuk kita, cucu-cicit dan para pewaris utama Datuk Nenek. Dengan ini maka pembangunan akan rata menyentuh wajah kampung kita, semua jalan berlumpur pasti jadi jalan bersemen yang indah bak rambut gadis berbalur minyak kelapa,” ungkap Uwak Haji berapi-api.
Tiga puluh tiga KK bertepuk tangan kuat-kuat, saat mendengar pidato Uwak Haji. Hanya satu kepala keluarga, yakni Udin yang tak ikut bertepuk tangan, hanya memandang lapisan susu, mentega, dan gula pasir yang begitu indah menyatu pada pisang goreng.
Melihat wajah Udin melongo pada sajian pisang goreng, membuat Uwak Haji agak gusar. Namun ia berfikir, tak masalah. Satu banding tiga puluh dua KK tetap menang telak. “Ini demokrasi, ini moderenisasi,” Uwak Haji berbicara sendiri dalam hati sembari tetap memasang wajah tersenyum puas.
***
Sejak sebuah perusahaan transnasional, masuk dan beroperasi di Kampung Batu. Banyak warga kampung jadi orang kaya mendadak. Jika dulu rumah hanya berlantai tanah dan berdinding kayu kapur. Kini setiap rumah berdiri tegak dan kokoh berdinding batu alias bercampur pasir, batu bata, dan adonan semen itu.
Listrik mengalir deras selama dua puluh empat jam, dua belas jam suplai dari perusahaan listrik milik pemerintah dan dua belas jam sisanya disuplai dari listrik berlebih milik perusahaan batu bara. Kawan karib Udin, yakni Sahli nampak tertawa dan coba memberikan gambaran pada Udin mengenai sikapnya.
“Kenapa kau diam termenung. Sebentar lagi kawanmu ini jadi orang kaya. Tanah warisan milikku akan dibayar tinggi. Setelah ini aku akan berangkat haji ke Tanah Suci dengan istri. Sisanya uangnya buat bikin rumah sewaan lima pintu, beli mobil, dan beli emas permata buat aku dan istri. Ini kesejahteraan Udin! Kenapa kau susah-susah berkebun, tertawa Datuk Nenek di kubur,” ungkap Sahli sembari terus tertawa tebahak-bahak melihat kedunguan kawannya itu.
Tak cukup hingga di situ, jika sebelumnya pembicaraan antara lelaki beristri tentang soal jual tanah dan untung. Empat minggu setelah itu terjadi pembicaraan perempuan bersuami yang hampir senada.
“Kemarin kami baru saja pulang berlibur dari Bali selama seminggu, Hari Raya Idul Adha tahun depan Insya Allah kami di Tanah Suci,” ucap Ramlah, istri Sahli yang berbicara sembari menunjukkan cincin berliannya pada Minah istri Udin.
Kalau kau mau hidup enak, suruh lakimu jual tanah. Apa guna tanah berhektar-hektar kalau kau masih jadi kuli. Besok di sawah, lusa di kebun, hari ini mengetam padi, besok berpeluh lendir mengangkat singkong berjalan kaki, ungkap Ramlah terus memanasi hati Minah.
“Aku hanya orang bini, ikut apa kata laki. Surga ikut, ke neraka ikut pula. Kata suamiku, biar saja bergelang jerami asal tak khianati amanah Bapak dan Mamak,” bela Minah, sembari terus menjemur buliran padi di atas terpal panjang.
Tak terima ucapannya dibantah, Ramlah kemudian menambah api dalam sekam pembicaraannya. “Kita hidup cuma sekali, sudah susah di dunia apa mau dapat neraka di akhirat nanti. Hidup itu dinikmati, bukan jadikan prinsip buat sengsara hidup anak istri,” pungkas Ramlah sembari berjalan, meninggalkan istri Udin yang terus meratakan padi ditengah terik panas.
Berhari-hari memikirkan apa yang diucapkan Ramlah, membuat hati Minah gusar. Perlahan-lahan dirinya membenarkan apa yang diucapkan oleh kawan perempuannya itu. Dan malam itu, sebuah langkah kaki membuat lantai rumah kayu itu bergetar hebat.
Minah tak sabar lagi. Perempuan beranak tiga itu hendak mengajukan petisi pada sang laki yang tetap menganggap bertani adalah hal yang suci. “Praaak! Praaank! Daaarr!,” bunyi ganggang sapu ijuk terbelah dua, bunyi selusin piring pecah, serta bunyi pintu kamar yang jebol akibat ulah Minah.
“Malu Bang! Tetangga kanan kiri semua sukses, lihat kerjaan Sahli, tidur-tiduran saja uang datang. Kenapa tak kita tiru kisah sukses mereka, apa kau mau pelihara tuyul saja biar tak keluar modal. Paling cuman aku yang harus mengalah, menyusui tuyul. Itupun kalau Abang memang hendak memelihara tuyul,” tungkas Minah panas oleh amarah.
“Beribu kali kau membanting seisi rumah ini, tetap tak akan Abang jual Dek. Ini harta warisan, pesan dalam pesan turun-temurun tetap dijaga agar anak cucu mampu berpijak pada tanah bertuah,” ungkap Udin, sembari memeluk dan menenangkan hati istri tercinta.
***
Berita di televisi memperlihatkan wajah Uwak Haji yang ditangkap bersama-sama Tuan Guru Bertaat bin Duit Berhambur. Mereka diduga menipu ribuan orang, dengan aksi menggandakan uang bermilyar-milyar di sebuah padepokan.
Kampung Batu menjadi gempar, karena Uwak Haji tak lagi menjadi guru agama seperti dahulu. Keadaan tersebut adalah imbas dari keadaan ekonomi yang semakin parah, sehingga orang-orang kampung kesulitan mencari rezeki.
Sehingga jika tahun-tahun sebelumnya emas hitam bagai berlian dalam kehidupan ekonomi warga, maka kini tidak lagi. Turunnya kebutuhan batu bara di pasar internasional, membuat harga sebungkus roti gembong buatan Minah jauh lebih realistis harganya.
Pagi itu seperti pagi-pagi yang cerah, orang tak lagi perduli dengan cerita ditangkapnya Uwak Haji bersama sang Tuan Guru. Orang-orang sibuk mencari-cari sesuap nasi untuk anak istri ditengah ekonomi dunia yang resesi, karena bagaimanapun Kampung Batu adalah bagian dari bulatnya dunia.
Namun kali ini mobil pick up Pakde Marno singgah berhenti di rumah Minah. “Minah! Kau dengar tidak, berita hangat terbaru di kampung kita,” ungkap Pakde Marno, yang berlari terengah-engah bersama perut gendutnya.
“Kabar apa?”, ujar Minah tak sabar mendengarnya. “Sahli ditinggal istrinya kabur dengan pemuda dari Sumatera. Habis sudah nasib baik Sahli, bahkan anak-anaknya diangkut pula, tabungannya habis pula. Ah sudahlah, yang penting pembayaran kreditmu lunas. Aku mau cepat-cepat ngambil bayaran kreditan mumpung warga kampung ini belum bangkrut seperti Sahli,” pungkas Pakde Marno.
Kebun singkong yang dijejeri pohon kelapa muda, dan berhiaskan kolam ikan lele dengan sumber air yang terus-menerus mengalir deras memeriahkan pemandangan di sore hari. Dua orang lelaki sedang duduk berjajar, di sebuah pondok kayu seluas empat kali lima dengan tambahan dapur kayu sepanjang dua meter.
“Terimakasih banyak Udin. Cuma kau yang mau menampung aku yang dalam keadaan seperti ini, mungkin diluar sana begitu banyak orang yang lebih parah nasibnya dibanding diriku. Maha Besar Allah memberikan dirimu sebagai sahabatku. Udin kepala batu dari Kampung Batu!,” tandas Sahli setengah berbisik, sembari memeluk erat sahabatnya bersamaan dengan tergelincirnya mentari ke peraduan. (Selesai)
NB: Telah terbit di Surat Kabar Harian (SKH) Radar Banjarmasin, medio 2017 lalu.
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Mencintai Alam Sekaligus Membangun Negeri Panorama tebing-tebing pegunungan karst berpadu dengan hut...
Konon, pertandingan ketangkasan antar murid-murid Durna akan diakhiri dengan pertunjukan kepandaian ...
Mengangkat Derajat Alam, Manusia, Hingga Mempertahankan Warisan Budaya Dunia Kesadaran melestarikan ...
Sepak bola dimasa anak-anak kadang menjadi keasikan sendiri bagi dunia mereka, namun tidak bagi seba...
Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim Melihat Kutai Timur ...
Pada gugusan pulau-pulau di Nusantara, agak menjorok kedalam menuju Samudera Pasifik, di sebuah huta...

Belum ada komentar.