AveSticker

Gelar Budaya Pemikat Turis Asing

Aug 26 2011401 Dilihat

Gelaran Festival Malang Kembali (FMK) atau lebih popular dengan Malang Tempo Doeloe (MTD) resmi berakhir akhir Mei lalu. Festival yang digelar tahunan sejak 2008 lalu itu terus menyempurnakan misinya sebagai ajang refleksi kesejaharahan Kota Malang. Untuk menjaga ikhtiar tersebut, gelaran FMK ditinjau ulang sehingga tidak menjadi even tahunan dengan menghapus FMK pada 2012.

Di bagian lain, Kabupaten Jember juga telah melakukan gebrakan melalui BBJ atau Bulan Berkunjung ke Jember sejak 2005. Apa yang hendak dikunjungi? Kabupaten yang menjadi pusat pengembangan wilayah Jawa Timur bagian timur itu menggelar acara tahunan bertajuk Jember Fashion Carnaval (JFC). Berbagai busana khas nusantara bahkan dunia dipamerkan melalui festival yang menyedot perhatian masyarakat luas.

Di provinsi lain, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga tidak kalah semarak untuk mengkampanyekan diri sebagai Kota Budaya dan Wisata. Selain obyek-obyek wisata yang telah ada, komunitas seniman Yogyakarta juga turut meramaikan wisata melalui pentas seni kontemporer yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta. Ada pentas ludruk, gamelan, wayang orang dan tari-tari tradisional yang digelar rutin setiap tahun. Agenda-agenda tersebut kadang juga melibatkan bocah usia SD sebagai aktor utama pementasan agar seni tradisional tersebut tetap lestari.

Jauh menyeberangi Selat Bali di timur Jawa dan yang lebih kondang dibanding Indonesia, Bali, juga terkenal sebagai Kota Budaya dan Wisata. Dengan menumpang pesona alamnya berupa pantai yang eksotis, Bali telah mempercantik diri sebagai tujuan wisata para bule. Bali yang akrab sebagai Paradise Island (pulau surga) itu memanjakan turis asing dengan gelaran budaya. Ada Tari Barong, Pendet, dan Wayang Orang bertajuk kisah Mahabarata kerap menjadi tujuan wisatawan.

Even-even budaya itu diyakini telah menyedot perhatian turis asing yang ingin melihat indahnya eksotisme kekayaan budaya nusantara. Terlepas dari dampak masuknya budaya asing yang cenderung merusak tatanan, empat daerah tersebut bisa dikatakan sukses menggerakkan sektor pariwisata daerah. Apa sebabnya? Mereka datang berkunjung untuk menghabiskan Dolar-dolar yang mereka miliki.

 

Saatnya Batu Mempercantik Diri

Sebagai Kota Wisata, nama Kota Batu sudah terlajur kondang. Meski baru seumur jagung, yakni sebelas tahun, infrastruktur wisata Kota Batu sudah lumayan lengkap. Mulai tempat tujuan wisata, ada Jatim Park 1 dan 2, Batu Night Spectacular (BNS), Selecta, Pemandian Air Panas Songgoriti, hingga wisata alam petik apel Agrokusuma Batu. Lengkap memang kecuali wisata pantai dan pesisir.

Obyek-obyek wisata itu telah didukung oleh bisnis wisata sekunder yang memadai. Misal, sarana penginapan dalam bentuk resort, hotel dan cottages yang tersebar di Kecamatan Batu. Akses-akses menuju tempat-tempat tersebut juga tidak terlampau sulit. Penginapan-penginapan tersebut biasanya telah berkongsi dengan penyedia jasa travel wisata untuk memudahkan wisatawan.

Karena itu pula, Batu kerap menjadi pilihan lembaga publik sebagai tempat untuk melatih tenaga-tenaga barunya. Hal itu jelas menambah okupansi atau kunjungan ke Kota Batu di samping kunjungan oleh wisatawan lokal setiap libur akhir pekan.

Data yang dimiliki Dinas Pariwisata Batu menunjukkan hal itu dengan gamblang setidaknya pada 2008 dan 2009. Pada 2008, turis asing yang menginap di Batu terus meningkat dari 400 pelancong pada Januari hingga berada pada puncaknya pada September yang tembus 1000 pelancong. Pada 2009, peningkatan kunjungan dimulai dari 500 pelancong pada Januari dan meningkat hingga tembus 1600 pelancong sebagai puncak kunjungan pada bulan Juli.

Mengutip sumber data yang sama, kunjungan turis lokal lebih dahsyat lagi. Pada Januari 2008 kunjungan turis lokal dimulai dari 25 ribu turis hingga 40 ribu turis sebagai puncaknya pada Desember 2008. Sedangkan pada Januari 2009, jumlah kunjungan dimulai dari 30 ribu hingga 38 ribu turis sebagai puncak kunjungan pada Juni.

Jika boleh mengadopsi konsep wisata dua Kota Wisata yang lebih maju, yakni Bali dan Jogjakarta, Batu mempunyai peluang besar menggaet turis asing lebih banyak lagi. Bagaimana caranya?

Batu tinggal memoles diri dan menggiatkan agenda kontestasi budaya lokal. Ruang-ruang aktualisasi dan ekspresi melalui sanggar budaya milik masyarakat digugah melalui festival kesenian tradisional. Gelar festival tersebut persis seperti saat peresmian Alun-alun Kota Batu Mei lalu. Tapi, perlu dipoles lagi lebih elegan terkait konsep, waktu pelaksanaan, tempat, hingga sajian budaya yang ditampilkan.

Tidak sulit untuk mewujudkan hal itu mengingat kunjungan turis asing di Jawa Timur tergolong tinggi. Data yang dimiliki PT Angkasa Pura I Juanda tahun 2008 menunjukkan okupansi turis asal Malaysia sejumlah 21.469 orang, Singapura 9.451 orang, Taiwan 5.740 orang, China 5.929 orang dan Jepang 3.958 orang. Lima turis itu merupakan top five yang konsisten dari tahun-tahun sebelumnya. Terlepas dari kunjungan mereka untuk sekadar berbisnis atau berwisata, tidak salah jika mereka diarahkan mampir berwisata. Tentu melalui media promosi wisata yang terpadu dan saling terkait.

Target market wisatawan asing tersebut sangat relevan dengan karakteristik Kota Batu. Terutama dalam hal aksesbilitas dari negara asal, jarak yang berdekatan, kemiripan terhadap selera makanan dan minuman, kemiripan budaya dan kebiasaan hidup masyarakat.

Pemerintah Daerah Kota Batu tidak perlu sulit untuk melengkapi predikat sebagai kota Kota Wisata dan Budaya. Masyarakat seni di Kota Batu sudah ada dan secara swadaya mereka mendedikasikan diri untuk kesenian, infrastruktur gedung Taman Budaya Wastu Arts Center sebagai tempat berkumpul komunitas seni juga sudah diresmikan, wadah komunikasi sudah terwakili melalui Dewan Kesenian Batu. Tidak perlu berpanjang lebar dan berpolemik jika ingin membangun suatu masyarakat berbasis partisipatif. Yang dibutuhkan adalah sentuhan-sentuhan tulus pejabat daerah yang tidak berorientasi proyek.

Tentu semua itu harus ditunjang oleh empat ikhtiar utama. Yakni, kampanye marketing (on-line & off-line campaign), rebranding, tourism board dan penguatan Sapta Pesona Wisata. Tanpa ikhtiar tersebut, semegah-megahnya Kota Wisata Batu tidak akan dikenal oleh wisatawan yang membelanjakan uangnya di tempat-tempat wisata. Anda boleh tidak sepakat dengan tulisan ini. Tetapi apakah anda berani bertaruh? (*)

Sumber gambar: http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1229930714/festival-bunga

Share to

Alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Pernah memimpin Newsletter Simpul Demokrasi. Pegiat peternakan di Jawa Timur

Topik Terkait

Menakar Electoral Threshold dalam Rancan...

by Jul 09 2026

Pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum terus bergulir memasuki bu...

Asia Datang Beramai-Ramai, Pulang Bersam...

by Jul 05 2026

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen yang paling membanggakan bagi sepak bola Asia. Untuk perta...

Matahari yang Enggan Terbenam: Jokowi, B...

by Jun 24 2026

Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Grup WhatsApp dan Demokrasi yang Terlalu...

by Jun 13 2026

Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...

Menuju Piala Dunia: Nasionalisme yang Da...

by Jun 06 2026

Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top