AveSticker

Apa yang Salah dari Kalijodo?

Feb 24 2016638 Dilihat

Mustahil hidup tanpa cela. Dan tak mungkin padang rerumputan hijau tanpa gulma. Seperti itulah Jakarta. Sebagai episentrum Indonesia, kehidupan sibuk serba metropolitan adalah gambaran wajah ibukota. Dan Kalijodo, ialah titik paling lemah yang mewabah dijantung negara ini.

Kalijodo adalah nama sungai biasa. Tiada yang istimewa darinya. Jika ada, mungkin hanya cerita pertemuan dan perjodohan cinta. Sedangkan, beberapa warga berandil sebagai penonton-yang bersorak dan tersenyum menikmati buaian takdir Tuhan tercipta.

Benarkah semua itu terjadi di Kalijodo? Begitulah cerita yang berkembang dan diamini masyarakat. Konon, Kalijodo sudah terkenal semenjak era Batavia. Dalam novel Ca-Bau-Kan karya Remy Sylado, Kalijodo masyhur di kalangan pedagang etnis Tionghoa. Krishna Murti pernah berkata,“Kalijodo merupakan tempat para gadis pribumi mendendangkan lagu-lagu klasik Tiongkok diatas perahu-perahu yang ditambatkan dipinggir kali.”

Trasi-Trasi, Roti-Roti. Wingi-Wingi, Saiki-Saiki. Kalijodo kini bukan Kalijodo yang dahulu. Barangkali, hanya cinta yang tetap teguh tak tergerus zaman. Namun, bukan konsepsi cinta sebagaimana yang dikatakan Remy, frase “cinta satu malam” lebih tepat untuk menggambarkan Kalijodo kekinian.

Semenjak berubah menjadi tempat prostitusi, Kalijodo juga tak luput dari aktivitas perjudian ilegal, tawuran hingga kawasan mabuk-mabukan. Dan menjadi lazim jika muncul penguasa-penguasa (mafia) baru. Dalam buku Krishna Murti berjudul Geger Kalijodo: Kisah Polisi dan Mediasi Konflik, dipaparkan bahwa penguasa terbelah menjadi dua kelompok, kelompok Yusman dan kelompok Aziz. Keduanya memiliki ratusan anak buah yang siap sedia dibelakang pimpinannya.

Sebagai orang yang pernah terlibat dan menangani konflik Kalijodo, Krishna juga kembali mengingat hiruk kesibukan menangani Kalijodo. Untuk mengatasi perjudian, Krishna menuturkan bahwa ia sering begadang. Pasca meninggalnya kedua pemimpin kelompok tersebut, perjudian dan tawuran di Kalijodo berangsur mengalami penurunan. Jika ada tawuran, penyebabnya tak lagi karena uang dan perjudian, melainkan hilangnya kesadaran karena minuman keras.

Krishna menuturkan setidaknya ada lima bos besar perjudian di Kalijodo. Mereka berbagi wilayah kekuasaan untuk menyediakan dan menyewakan tempat judi. Dengan ratusan anak buah di belakangnya, mereka menjadikan Kalijodo tak tersentuh. Organisasi macam Front Pembela Islam (FPI) atau kepolisian sekalipun akan mengalami kesulitan untuk menjejakkan kaki di Kalijodo.

Selain perjudian, ia pernah membongkar modus women trafficking. Sindikat women trafficking sangatlah kompleks, selayaknya sindikat narkotika. Gadis-gadis yang datang untuk mencari kerja dipaksa menjual diri oleh para penguasa.

Kini, Krishna kembali dipaksa berurusan dengan Kalijodo. Semenjak peristiwa kecelakaan yang menewaskan beberapa orang, kemarahan Gubernur Ahok tersulut. Apalagi Kalijodo termasuk dalam kawasan padat penduduk yang tanpa sertifikat tanah legal. Visi Ahok untuk memperbaiki Jakarta mau tidak mau memaksa Kalijodo harus direnovasi total.

Dalam mengubah wajah Kalijodo, gesekan bahkan bentrokan mustahil dihindari. Perlu posisi dan pemahaman adil dari aparatur negara untuk melakukan penanganan kasus macam ini. Mediasi dan pembuatan rencana strategis menjadi penting dalam merumuskan kebijakan. Tak perlu kiranya polisi melakukan tindakan represif, toh warga Kalijodo juga sudah bosan dengan kekerasan.

Perlu waktu memang, namun tidak mustahil bukan? Ibukota adalah wajah negara. Jika wilayah macam Kalijodo tidak segera dirombak, sulit kiranya memperbaiki ibukota, apalagi negara. Tak elok kiranya menyalahkan Kalijodo secara sepihak, namun tak arif jika harus membenarkan keberadaan Kalijodo macam tersebut diatas.

Apapun itu, Kalijodo harus berubah. Jika memang tak bisa menjadi butiran halus kopi, setidaknya ia bisa berbaur-menjadi butiran kasar yang menghiasi kenikmatan secangkir kopi. Kalau tidak sekarang kapan lagi, Kalijodo?

 

Sumber:

  • Buku Geger Kalijodo “Kisah Polisi dan Mediasi Politik” karya Kombes Krishna Murti.
  • Wawancara Krishna Murti dengan Kompas
  • http://www.rappler.com/indonesia/122066-geger-kalijodo-ngobrol-khrisna-murti

Sumber gambar: http://www.rmoljakarta.com/images/berita/normal/306875_11592110022016_150523024kalijodo-rumah.jpg

Share to

Pantang lari dari gelanggang corong palayu

Topik Terkait

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Belum ada komentar.

Maaf, komentar dinonaktifkan untuk informasi ini
back to top