AveSticker

Bari’an, Wisata Budaya Di Sisi Barat Gunung Bromo

Oct 02 2021142 Dilihat

Kabut menggantung rendah di langit desa Podokoyo, Kecamatan Tosari, Pasuruan. Seketika suhu dingin menyelimuti ketika kami membuka pintu kendaraan. Pagi itu sepanjang jalan Podokoyo tampak ramai. Para ibu melintas mengenakan setelan kebaya berwarna coklat muda dengan bawahan jarik batik coklat tua. Ada pula diantara mereka yang mengenakan setelan kebaya berwarna putih berpadu dengan bawahan jarik batik coklat tua.

Para lelaki yang melintas mengenakan pakaian serba hitam. Terlilit di kepala mereka, udeng batik berwarna coklat. Satu dua orang tampak berbeda, mereka memakai setelan baju berwarna coklat. Mereka adalah perangkat desa. Meski mengenakan pakaian yang berbeda, mereka tetap mengenakan udeng sebagaimana lelaki lainnya.

Kegiatan Bari’an di Desa Podokoyo Pasuruan

Witono, seorang tokoh pemuda desa yang kebetulan sedang bersama kami, memberitahukan bahwa pagi itu akan diselenggarakan upacara Bari’an. Beruntung, kami lantas diajak olehnya untuk mengikuti upacara tersebut.

Di sepanjang jalan orang-orang membawa rupa-rupa makanan menuju Punden. Punden adalah adalah bangungan terbuka dengan pagar setinggi dada orang dewasa. Perpaduan warna kuning dan jingga menghiasi motif bunga pada pagar itu. Pelataran yang dibatasi pagar, seluruhnya dinaungi oleh atap asbes. Dengan begitu, setiap orang yang mengikuti upacara adat tak perlu khawatir dengan panas dan hujan.

Tiang-tiang penyangga atap dibalut dengan kain berwarna putih dan kuning. Mimbar yang berada di sudut depan Punden juga dibalut dengan kain yang sama. Tak jauh dari mimbar, berjajar persembahan aneka buah, umbi-umbian dan makanan lainnya.

Punden iku, istilahe pelungguhane wong tuwek. Sesepuh desa dulu di punden,” ujar Witono.

Pelungguhan berasal dari kata lungguh dengan awalan ‘pa’ dan akhiran ‘an’. Penambahan awalan dan akhiran ini akhirnya mengubah kata yang semula bermakna “duduk” menjadi “tempat duduk”. Dalam konteks masyarakat Jawa, pelungguhan sering disamaartikan dengan kata paseban yang berarti balai yang digunakan untuk menghadap sosok yang derajatnya lebih tinggi seperti raja atau orang-orang yang dimuliakan.

Upacara Bari’an diikuti oleh seluruh warga desa Podokoyo baik yang beragama hindu, kristen maupun islam. Semuanya tumpah ruah memenuhi pelataran Punden. Bagi masyarakat Tengger, Bari’an bukanlah upacara agama namun sebagai upacara adat. Karenanya tidak ada perbedaan bagi pemeluk agama apapun. Selagi mereka adalah keturunan suku tengger maka wajib bagi merka untuk mengikuti upacara ini.

Para sesepuh dan tokoh adat tengah memimpin bari’an

Biasanya upacara ini diadakan secara rutin setiap bulan pada hari Jumat Legi. Bari’an diadakan untuk berdoa agar seluruh masyarakat tengger desa Podokoyo terhindar dari mara bahaya. Masyarakat percaya bahwa upacara ini berguna untuk menyeimbangkan tiga unsur alam semesta yaitu air, api dan udara. “Kalau besar jadi bencana, kalau kecil tidak berguna. Maka kita perlu menjaga tiga elemen itu,” kata Witono.

Terkadang Bari’an juga dilaksanakan pada hari selain Jum’at Legi. Jika ini yang terjadi, berarti Bari’an menyampaikan pesan syukur bahwa masyarakat desa telah terhindar dari mara bahaya atau bencana. “Tujuan acara adalah tolak balak dari kuasa jahat dan kuasa kegelapan. Minta supaya seluruh anak cucunya orang tengger di Podokoyo dilindungi oleh Gusti Sang Akaryo Jagad (Tuhan Sang Maha Pencipta). Sebagai ucapan syukur kita sudah dilindungi, kita sudah diberi berkah, adoh teka sengkala,” ujarnya.

Dalam bahasa yang sederhana, sengkala berarti affect atau pengaruh dari kutukan Batharakala (sang penguasa waktu). Sengkala biasanya dikaitkan dengan masalah-masalah kehidupan seperti hadirnya bencana atau kesulitan dalam hal karir, rejeki bahkan jodoh. Bari’an memiliki makna filosofis yang tinggi. Di dalamnya terdapat berbagai prosesi yang bersifat membangkitkan kepercayaan diri, keyakinan positif  bahwa bencana sudah berlalu dan keselamatan akan datang.

Ketika matahari mulai meninggi, satu demi satu masyarakat Desa Podokoyo datang dan langsung duduk bersila menghadap sesuguhan. Tak lama kemudian pelataran punden dipenuhi warga desa. Sulinggih atau Dukun Desa segera membaca mantra, yang oleh orang tengger disebut ngujubne.

Doa yang dibaca sulinggih didahului dengan mantra penyerahan sesuguhan (persembahan) kepada para leluhur. Ia juga memberitahukan kepada para leluhur bahwa anak cucu suku tengger di Podokoyo sudah berkumpul. Dalam mantra yang dibacakan juga terkandung pendadaran mengenai etika kehidupan, yaitu cara bersikap, bentukan moral positif yang bisa membentengi diri dari timbulnya sengkala.

“Seluruh nenek moyang Tengger disebut pada saat ngujubno. Tidak hanya nenek moyang Tengger Podokoyo saja. Nenek Moyang yang di Poten, Penanjakan, Semeru, Bromo itu disebut semua di mantra. Dan memang kalau orang ndak pernah dengar maka dia tidak ngerti dengan ujubane,” jelas Witono.

Di Punden, terdapat sebuah ruangan kecil pada dataran tertinggi. Ke arah ruang inilah warga menghadap. Saat upacara dilangsungkan, ruang tersebut dimasuki oleh orang-orang khusus. Menurut pemaparan Witono, ada orang-orang khusus yang harus masuk ruangan kecil tersebut. Di sana, mereka menghadap dan memberikan hormat kepada para leluhur.

“Istilahe sungkem. Seng paling utama sungkem itu Kepala Desa bersama istri, perangkat desa dan BPD serta kaki tangannya Pak Dukun,” lanjut Witono.

Meski Bari’an adalah upacara adat yang sakral, masyarakat Tengger Podokoyo terbuka dan mempersilakan para wisatawan untuk turut mengikuti acara ini. Tak hanya Bari’an saja sejatinya, Pujan, Kasodo, Karo dan Entas-Entas adalah upacara lain yang juga boleh diikuti oleh siapa saja.

Jika Anda berencana untuk berwisata alam ke Gunung Bromo, tidak ada salahnya untuk mampir dan menikmati wisata budaya di Podokoyo.

Tulisan telah diterbitkan di Majalah Martani Edisi 3, 2018

Share to

Aktivis dangdut koplo

Topik Terkait

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top