AveSticker

Nasib Kesenian Wayang Orang di Kota Wisata

Sep 04 2010597 Dilihat

Kota Batu memiliki jargon kota wisata, namun kondisi ini belum diimbangi dengan penggalian kebudayaan tradisi. Pembangunan sarana pariwisata melaju pesat, sementara kebudayaan tradisi yang menjadi penopang kota wisata masih belum tergarap.

Wayang orang (wayang wong) merupakan teater tradisional yang menggabungkan antara drama yang berkembang di Barat dengan pertunjukan wayang purwo yang berkembang di Jawa. Lakon yang dibawakan wayang orang mirip dengan wayang purwo. Bedanya pemeran wayang adalah manusia yang berdandan layaknya para tokoh dalam wayang purwo.

Konon wayang orang ini adalah kesenian ningrat yang ditampilkan pada saat upacara-upacara raja di keraton-keraton dan para priyayi Jawa. Kesenian ini berbeda dengan ludruk yang menampilkan lakon keseharian masyarakat kecil. Dimana gerak, lakon, kostum, pencahayaan, latar panggung yang dipakai bebas. Wayang orang memiliki lakon, kostum dan gerak tari yang pakem sesuai dengan karakter tokoh yang dibawakan.

Keberadaan kesenian ini di Indonesia sempat mencapai kejayaanya pada tahun 1950-1960. Pasca tahun itu kesenian ini mengalami kemunduran. Walaupun demikian hingga kini masih ada beberapa seniman yang mengembangkan dan mempertahankan kesenian ini.

Sasono Krido Taruna adalah satu-satunya wayang orang yang ada di Kota Wisata Batu. Kesenian ini beranggotakan 40 orang yang sebagian besar tinggal di Dusun Ngandat, Kecamatan Junrejo. Beberapa anggota lainnya tersebar di Kecamatan Bumiaji dan Batu. Walaupun sudah jarang tampil di publik, namun grup wayang orang ini masih aktif untuk latihan bersama.

Suharto, sebagai penasehat grup wayang orang Sasono Krido Taruna senantiasa memberikan motivasi kepada anggotannya. Laki-laki berdarah Madura ini senantiasa mengusahkan agar keberadaan wayang orang bisa tetap dipertahankan di Kota Wisata Batu. Menurutnya Dinas Pariwisata harus turun bawah dan memberikan pembinaan. “Pemerintah lewat Dinas Pariwisata seharusnya memberikan pembinaan terhadap kesenian tradisi”, ungkapnya. Pembinaan ini menurutnya tidak hanya dalam bentuk dana, namun juga dalam bentuk-bentuk motivasi dan ruang publik untuk berekspresi.

Sasana Krida Taruna bisa eksis sampai saat ini hanya dengan mengandalkan swadaya dari anggotanya dan sisa dari ongkos pertunjukan yang sudah jarang mereka dapatkan. Menurut pengakuan Suharto, grup wayang orang yang ia pimpin ini cukup solid, namun kesolidannya belum didukung oleh perangkat pertunjukan yang lengkap.

Kostum wayang orang menjadi kendala tersendiri bagi satu-satunya grup wayang orang di Kota Batu ini. Suharto dan teman-temannya harus meminjam ke Universitas Merdeka Malang dengan harga setiap potongnya dihargai Rp. 50.000,- sampai Rp. 100.00,-. Kalau harus tampil dalam satu malam dengan personel 40 orang, maka untuk ongkos kostum saja sampai Rp. 3.000.000,- 4.000.000,-. “Ini adalah biaya yang mahal. Kami sudah mencoba membuat proposal pengadaan kostum wayang orang ke dinas terkait, namun hingga kini belum ada jawaban, tambahnya.

Suharto berharap agar perkembangan kota wisata bisa dibarengi dengan pengembangan kebudayaan khususnya kesenian daerah yang merupakan tinggalan para leluhur. Ia berharap agar pemerintah bisa membangun ruang pertunjukan di tempat-tempat wisata, di mana kesenian tradisi bisa dijadwalkan untuk tampil secara bergiliran. Ini adalah salah satu pembinaan yang bisa dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kota Batu.

Sumber gambar: http://www.kabarinews.com/article.cfm?articleID=31460

Share to

Lahir di bumi Bung Karno Blitar. Kini terperangkap dalam hiruk pikuk Kota Malang. Belajar menulis dan komentar tentang apapun.

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top