AveSticker

Kereta Proletar Berbenah

Nov 13 2010660 Dilihat

Kamis (4/11) penulis menumpang kereta Matarmaja. Kereta kelas ekonomi jurusan Malang ke Pasar Senen, Jakarta menjadi pilihan kebanyakan orang karena biaya murah. Dengan uang Rp. 51.000,- penumpang bisa melakukan perjalanan sampai ke Jakarta. Jika dibandingkan dengan alat transportasi lain, Matarmaja menjadi pilihan favorit kaum proletar. Kaum proletar yang berpikir biaya yang murah dalam memilih alat transportasi, dengan harapan fasilitas memadai. Fasilitas yang terdapat dalam transportasi jenis Kereta kelas ekonomi, hanya toilet, keamanan itu sudah maksimal dikelasnya.

Pertama masuk gerbong 8, keadaan kereta bersih dan toilet bersih ( baca : tidak bau). Bila dibandingkan dengan tahun lalu ketika penulis menumpang kereta yang sama, kondisi gerbong kumuh dan toilet bau sampai radius 500 m jadi dalam gerbong yang ada toiletnya (namun tetap tidak ada airnya).

Selain itu, ketika pemeriksaan tiket, kereta proletar mencoba untuk mencitrakan diri bersih “pungutan liar”. Dengan dikawal 2 satpam petugas pemeriksa tiket melakukan tugasnya. Sampai di stasiun Cirebon, 14 jam perjalanan dari malang dengan kereta ini, ada petugas yang membersihkan gerbong dan toilet. Usaha PT.Kereta api indonesia (KAI) sebagai wakil pemerintah dalam menyediakan pelayanan transportasi kereta, harus kita apresiasi dan kenyataan mereka bisa melakukan perbaikan tanpa menaikkan harga tiket. Artinya tidak semua perbaikan harus menambah biaya pengeluaran, dengan sedikit berpikir membuat formulasi pelayanan yang lebih baik atau menerima masukan dari pelanggan.  PT KAI berhasil membuat citra baik ditengah guncangan kecelakaan perkeretaapian di negeri ini.

Masih banyak yang harus dilakukan oleh PT KAI untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggannya terlebih kereta kelas ekonomi. Jika PT KAI melakukan kinerja berbasis kinerja bukan hanya anggaran, apresiasi publik akan sendirinya akan memudahkan turunnya anggaran.

Sumbe Foto     : http://www.titiw.com dan http://www.thejakartapost.com

Share to

Alumni Universitas Brawijaya Malang, tinggal di Jakarta

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

  • ZARKASI LAROS says:

    lho, bukannya tarif ka sempat naik per 1 oktober lalu? apa karena memang nggak kerasa naik? dompetmu yang suruh njawab, Cud.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top