AveSticker

Bendera Setengah Tiang

Oct 04 2010564 Dilihat

Bendera setengah tiang hampir setiap tahun kita pasang sebagai peringatan peristiwa kisah kepahlawanan putra bangsa demi mempertahankan tegaknya suatu negara. Sikap nasionalisme yang luar biasa ditujunkan sembilan putra terbaik bangsa yang rela mengorbankan jiwa. Ketidakrelaan  bila negaranya  dirong-rong kedaulatanya oleh siapapun yang ingin memecah belah keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Negeri ini didirikan diatas semangat persatuan  dengan pengorbanan yang besar, darah para pejuang ditumpahkan  demi yang namanya kebebasan bernegara yaitu MERDEKA…….!.

Semangat kebangsaan yang dulu senantiasa dikobarkan oleh para pejuang untuk merebut kemerdekaan, kini sudah tidak lagi menjadi semangat yang melekat disetiap dada para generasi penerusnya.  Dalam tragedi G30S yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta pada 30 September 1965 adalah bukti sejarah yang akan semangat bela Negara, semangat kecintaan terhadap bangsa, semangat mempertahankan kedaulatan Negara. Putra-putra terbaik negeri ini mempertaruhkan jiwanya demi membebaskan  Negara dari penjajahan,  mempertahankan Negara dari pengkhianatan  anak bangsa sendiri. Jenderal TNI (Anumerta) Achmad Yani, Letjen. (Anumerta) Mas Tirtodarmo Harjono, Letjen. (Anumerta) Siswondo Parman, Letjen. (Anumerta) Suprapto, Mayjen. (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan, Mayjen. (Anumerta) Sutojo Siswomihardjo, Aipda (Anumerta) Karel Satsuit Tubun, Kapten CZI (Anumerta) Pierre Tendean, Kolonel Inf. (Anumerta) Sugiono – wafat di Yogyakarta, Brigjen. (Anumerta) Katamso Darmokusumo – wafat di Yogyakarta adalah bukti bahwa Negara ini didirikan dengan banyak pengorbanan banyak nyawa.

Sebuah cita-cita yang ingin dicapai adalah mewujudkan kemakmuran rakyat dengan kemandirian dibidang apapun, artinya adalah kemerdekanan rakyat kecil untuk mendapatkan perhatian dari Negara. Kemerdekaan rakyat untuk memperoleh penghidupan yang baik (makmur, adil dan sejahtera) sebagaimana amanah Undang-undang Dasar ’45.

Sekarang peristiwa revolosi sebuah pengkhianatan yang menggemparkan dunia tersebut telah meninggalkan kita 45 tahun yang lalu.  Banyak cerita pilu yang telah dilupakan, banyak cerita kepahlawanan yang ditinggalkan, banyak cerita penderitaan rakyat yang dikubur dalam-dalam jauh dalam relung sebuah sejarah yang tak berujung. Lebih ironi banyak generasi muda yang tidak tahu makna dari “Bendera Setengah Tiang” yang terpasang di depan rumah, kantor, depan sekolah. Pengkhianatan-pengkhianatan baru  muncul dengan perkasa dihadapan kita, upaya marginalisasi perekonomian rakyat, menjual negeri ini dengan berdalih kemakmuran rakyat, menjual kota ini dengan alasan  lapangan pekerjaan, menjual kedaulatan dengan alasan kesejahteraan rakyat.

Kesaktian Pancasila dikenang hanya sebatas ceremonial demi asa kepantasan atas penghormatan yang semu, elit negeri dengan lantang mengkhinati pendiri bangsa bahkan ada yang ingin memenjarakan janda para pahlwan. Bangsa ini sudah mulai malu mengakui pengorbanan para pahlawan, bangsa ini sudah mulai enggan memikirkan nasib para mantan pejuang. Upaya pemutusan mata rantai sejarah gencar diproklamasikan, sejarah sudah menjadi barang  usang yang pantas dirombengkan.

Kiranya hanya kedudukan demi kemuliaan semu dengan mengorbankan rakyat yang menjadi tujuan. Di mana asas ketuhanan yang dulu sangat diagungkan, dimana asas kemanusiaan yang dulu dikedepankan, mana asas persatuan yang dulu ditegakkan, mana asas keadilan yang selalu menjadi slogan. Pengingkaran terhadap Tuhan telah menjadi kebiasaan, penindasan atas nasib kemanusiaan  terus mengitari kehidupan rakyat kecil, perkelahian antar sekolah antar suku, antar genk, antar kampung, antar kelompok, antar mahasiswa hampir setiap hari kita saksikan di media,  pengkhiantan amanah rakyat sudah menjadi kelaziman, jual beli atas nama keadilan sudah menjadi tradisi. Koruptor telah menjadi selebritis di dunia entertaimen, rasa malu telah tergadaikan seiring telah tergadaikanya negeri ini.Bendera setengah tiang akan selalu berkibar sepanjang sejarah perjalanan rakyat untuk meraih kemakmuran yang hakiki. Lalu di mana para wakil rakyat baik yang dil egislatif, eksekutif maupun di yudikatif  ketika rakyat sedang membutuhkannya.

Share to

Alumni S-2 FIA Univ. Brawijaya Malang. Berorganisasi di KOMDEK Malang, Averoes Community, Lakpesdam NU Kota Malang s/d GP ANSOR Jawa Timur. Pernah bekerja di Panwaslu Kecamatan 2008, Pimred Pandanwangi Newsletter 2010, Jurnalis NIMD Belanda & KID Jakarta, Komisioner KPU Kota Malang 2009-2014, Dewan Riset Daerah Kota Malang dll

Topik Terkait

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Pengalaman Urus SIM SATPAS Polresta Mala...

by Mar 12 2026

Mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM) mungkin terbersit bayangan yang cukup rumit, melelahkan, mahal, ...

Kisah Nabi Sulaiman dan Program MBG Prab...

by Mar 10 2026

Kisah Nabi Sulaiman alaihissalam yang dianugerahi kekayaan melimpah oleh Allah SWT merupakan kisah i...

  • Edi Purwanto says:

    Kesaktian pancasila?
    apakah pemberangusan terhadap ratusan ribu orang di pelosok nusantara adalah kesaktian pancasila?
    Sangat disayangkan sekali kalau pemasangan bendera setengah tiang itu hanya untuk memperingati segelintir orang yang berada di pucuk militer pada saat itu.
    semoga arwah ribuan orang yang meninggal pada tahun itu diampuni oleh yang maha kuasa.
    Allahumaghfirlahum warhamhum wa afihii wa’fu anhum…
    amiin

  • Halik says:

    Memang betul bahwa saat ini generasi muda sudah lupa akan sejarah perjuangan bangsanya. Betul pula bahwa perjuangan para pahlawan harus senantiasa dikenang. Dan bahwa peristiwa G30S PKI adalah tragedi yang memilukan juga sangat benar. Tapi apakah hanya sembilan orang itu yang patut untuk dikenang dalam peristiwa G30S PKI? Bukankah tidak sedikit pula rakyat sipil yang menjadi korban?Sepertinya kisah heroik sembilan orang pahlawan revolusi itu hanya kehebatan Si pembuat film saja? He..He..

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top