Apa yang membuat seorang perempuan mencintai lelaki lain selain kekasihnya? Mengapa pula, ketika si perempuan itu diharuskan memilih, ia memilih untuk meninggalkan kekasihnya?

Barangkali, itu adalah pertanyaan rumit yang membutuhkan referensi satu almari buku psikologi klasik hingga modern. Tapi, sebagai praktisi patah hati, Jawoto, seorang kawan, punya seonggok jawaban sederhana, yakni: “Karena si perempuan menemukan apa yang dicintainya ada dalam sosok pria lain.”

Tersebutlah seorang agen dinas rahasia Inggris, Scotland Yard, bernama Elise Clifton Ward. Cantik, seksi, kaya, cerdas, anggun, dan elegan. Alexander Pearce, kekasihnya, (sayangnya,) adalah seorang akuntan yang menjadi buronan polisi di 14 negara. Pearce dicari dengan tuduhan penggelapan pajak ratusan juta dolar. Pearce juga diburu karena telah mencuri milyaran dolar uang milik majikannya, seorang bos besar mafia Rusia. Sebagai kekasih setia, tentunya Elise turut menanggung akibat dari perbuatan Pearce. Sepanjang waktu, Elise dibuntuti oleh polisi demi menemukan Pearce yang dikabarkan telah melakukan operasi plastik.

Suatu saat, rencana Elise untuk bertemu dengan Pearce tercium polisi Perancis. Layaknya kisah agen rahasia, pertemuan tersebut dilakukan dengan berbagai trik dan cara yang rumit. Meski akhirnya, polisi berhasil ‘menangkap basah’ pertemuan Elise dengan seorang turis yang diduga polisi merupakan samaran Pearce, di sebuah kereta api menuju Italia. Operasi penangkapan segera direncanakan dengan melibatkan Interpol Italia. Namun, rencana tersebut segera dibatalkan karena polisi Perancis mendapatkan informasi bahwa orang yang ditemui Elise tersebut bukanlah Pearce, melainkan Frank Tupello, seorang guru Matematika asal Amerika Serikat. Tentu saja, polisi tidak ingin salah tangkap.

Tapi, polisi kembali dibuat bimbang terhadap kesimpulan mereka sendiri manakala Frank dipergoki menginap di kamar hotel yang sama dengan Elise. Kembali mereka menduga bahwa Frank adalah Pearce. Kali ini, Reginald Shaw, bos besar mafia Rusia yang uangnya dicuri Pearce, melibatkan diri ke dalam area perburuan.

Dalam sebuah kejar-kejaran, akhirnya Frank berhasil ditangkap polisi. Dalam interogasi, polisi kembali dibuat mati gaya karena yang mereka tangkap adalah Frank Tupello yang asli. Namun, sebelum polisi melakukan interogasi lebih lanjut terhadap Frank, seorang polisi melarikan Frank dari tahanan dan ‘menjual’ Frank ke Shaw yang masih belum tahu bahwa Frank bukanlah Pearce. Beruntung, Elise berhasil menyelamatkan Frank dan menyuruhnya pulang ke Amerika Serikat.

Tidak ingin Frank menjadi korban sia-sia, Elise pun mendatangi kepolisian dan berusaha meyakinkan polisi bahwa Frank bukanlah Pearce. Elise pun mengaku bahwa dirinya dan Frank telah terlibat dalam perasaan cinta sesaat. Setelah didesak, akhirnya Elise menjanjikan akan menyerahkan Pearce kepada polisi. Sebuah skenario pun dirancang untuk menjebak Pearce.

Di sebuah pesta, Pearce akan menemui Elise. Namun, polisi terkejut oleh munculnya Frank Tupello kembali di hotel tempat pesta tersebut. Kesal, polisi pun menangkap Frank dan menahannya di sebuah perahu untuk diajak memantau operasi penangkapan Pearce. Tetapi, yang tidak diketahui polisi, Frank yang muncul kali ini adalah benar-benar Pearce yang asli yang telah mengubah sosoknya menjadi persis Frank Tupello. Sehingga, polisi pun memfokuskan pengejaran kepada sosok Pearce sebagaimana yang akan ditunjukkan oleh Elise. Namun, sosok Pearce (palsu) berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi.

Elise mengarahkan polisi untuk menangkap Pearce di sebuah apartemen. Rupanya, informasi ini juga tercium Shaw. Tidak ingin keduluan, Shaw bergerak lebih cepat dari polisi dan menangkap Elise. Shaw memaksa Elise menunjukkan tempat uang yang dicuri Pearce darinya. Shaw mengancam akan menyiksa Elise jika tidak menemukan brankas tempat Pearce menyimpan rekening-rekening uang curian.

Namun, kembali polisi dibuat terkejut dan jengkel. Frank alias Pearce berhasil melepaskan borgol polisi dan berupaya masuk ke apartemen tempat Elise disekap Shaw. Polisi menduga, tindakan konyol Frank tersebut didasari karena rasa cintanya kepada Elise. Polisi tidak tahu bahwa Frank alias Pearce melibatkan diri dalam kejadian tersebut adalah dalam upaya menyelamatkan Elise dan meningkatkan tensi situasi yang memaksa sniper-sniper polisi menembak mati Shaw dan para anak buahnya.

Maka, akhir dari drama tersebut adalah kemenangan Elise dan Pearce. Mereka berdua berhasil membawa kabur uang yang dicuri dari Shaw, sementara Shaw dan anak buahnya tertembak mati, selembar cek untuk pembayaran pajak yang digelapkan Pearce, serta hilangnya alasan bagi polisi untuk memburu Pearce.

Maka, menikmati kebersamaan bisa dilakukan oleh Elise dan Pearce –yang telah berganti sosok menjadi Frank Tupello.

Tapi, apakah Elise bisa mencintai ‘Frank Tupello’ meskipun sejatinya dia adalah Alexander Pierce? Bukankah, Frank Tupello tetap adalah orang lain secara ragawi? Bukankah proses mencintai merupakan kombinasi antara jiwa dan raga?

Sebab mencintai seseorang tanpa disertai kebersamaan ragawi berarti ‘cinta tanpa memiliki’. Seperti cinta Jawoto kepada mantan kekasihnya. Sedangkan mencintai seseorang tanpa kebersamaan jiwa berarti ‘cinta tak sepenuh hati’. Seperti cinta Rana kepada Arwin dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.